SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
Bab 105 End Part 2


__ADS_3

“Ya, kami saling kenal. Apa kamu ingat saat aku bilang ada seseorang yang menolongku saat di Jerman?” ucap Ryawan. Nay hanya menganggukkan kepalanya. “Viktor lah orangnya.” Lanjut Ryawan.


“Oh, tidak disangka dia baik juga!” ucap Nay sambil nyengir. Viktor hanya melirik malas pada Nay, entah mengapa dia tidak suka wanita seperti Nay.


“Kalian juga saling kenal?” tanya Viktor menatap bergantian pada Nay, Sam dan Ryawan.


“Iya, kami dulu satu sekolah.” Nay menjawab pertanyaan Viktor.


Viktor melihat pada Ryawan, bagaimana cara dia menatap Nay. Dia bisa menebak bahwa wanita yang selama ini dicintai Ryawan adalah Nay. Dia tidak habis pikir mengapa dua orang pria ini bisa menyukai Nay. Wanita yang menurutnya menjengkelkan.


Setelah acara pernikahan Viktor dan Debora, Sam dan Nay kembali ke hotel mereka menginap, “Sam, tidak di sangka Debora sekarang tampak sangat bahagia. Apalagi sekarang dia sedang mengandung.” Nay berkata dengan tulus, berdiri di depan jendela menatap pemandangan kota yang penuh dengan warna putih. Ya, salju sedang menyelimuti Jepang.


Sam mendengar perkataan Nay, dia tau ada sesuatu yang kosong di hati Nay. “Setiap orang memiliki kebahagiannya masing-masing. Seperti aku, memilikimu adalah kebahagian terbesarku.” Sam memeluk Nay dari belakang. Dia mulai mencium aroma tubuh Nay, menyusuri leher jenjang Nay.


“Sam, hentikan! Kita harus tidur lebih awal, bukannya kita sepakat untuk melihat salju berlian.” Nay mencoba melepas pelukan Sam.


“Itu kan besok, sekarang masih pukul sepuluh malam, kita masih bisa melakukan yang lain.” Sam masih tidak ingin melepas pelukannya.


“Tidak mau, kamu suka lama jika melakukannya! Kita harus berangkat jam tiga pagi!”


“Apa? Jam tiga pagi? Mau apa pagi-pagi buta seperti itu?” Sam membalik tubuh Nay hingga mereka berhadapan.


“Memang seperti itu, adanya menjelang pagi, posisinya ada di pegunungan jadi kita harus naik gunung!” jelas Nay.


“Naik gunung? Aku pikir di tengah kota?” ucap Sam membulatkan matanya.


“Ish, legendanya seperti itu! Temanku sudah ada yang melihatnya!”

__ADS_1


“Teman mana?” tanya Sam memicingkan matanya. Dia tau Nay tidak punya banyak teman, jadi kemungkinan Nay berbohong.


“Teman google! Puas!” Nay meninggalkan Sam, dia memilih untuk tidur lebih awal.


Pukul 02.30 Nay sudah terbangun, memakai mantel yang cukup tebal untuk mendaki gunung. “Sam, ayo bangun.”


“Iya, iya.” Sam mulai membuka matanya.


Mereka keluar dari hotel pukul 03.00 perlu persiapan untuk mendaki gunung. Nay sudah mempersiapkan keperluan mereka. “Kita naik sampai puncaknya?” tanya Sam.


“Tidak, katanya hanya sampai pertengahan saja, lagi pula untuk menuju kesana tidak menghabiskan waktu banyak.” Nay memberikan tas carrier kepada Sam, mereka hanya membawa satu karena perjalanan hanya membutuhkan waktu setengah hari untuk pulang pergi. Mereka mulai pendakian, beberapa kali Sam mengajukan istirahat, dia tidak tega jika Nay kelelahan namun di tolak oleh Nay.


“Sayang istirahat dulu.” Bujuk Sam.


“Tidak, kita harus cepat sampai sebelum subuh. Salju berlian hanya datang di saat subuh.”


“Kemungkinan.” Jawab Nay yang juga ragu.


Mereka terus menunggu, sampai kaki Sam mulai kram, Matahari mulai sedikit menampakan dirinya. “Nay, sudah kita turun, mungkin hanya mitos.” Sam bangkit dari duduknya.


“Tunggu sebentar lagi yah?” Nay memohon dengan mengatupkan kedua tangannya. Sam tidak tega melihatnya, di duduk kembali ke kursinya.


Setelah tiga puluh menit menunggu, Nay mulai menyerah dia bangkit dan melipat kursinya. “Ayo, kita pulang. Mungkin benar hanya mitos.”


Sam ikut merapikan kursi lipat, mereka bersiap untuk turun gunung. Salju tiba-tiba turun agak lebat, matahari mulai menyinari. “Nay, lihat!” Tunjuk Sam ke arah atas. Nay melihat salju yang turun di sinari matahari yang malu karena sinar matahari masuk dari sela-sela pepohonan.


“Sam, apakah ini yang disebut salju berlian? Benar-benar seperti berlian yang bersinar. Indah sekali!” ucap Nay dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


Sam mendekati Nay, memeluk pundaknya. “Mungkin saja!” Sam ikut tersenyum. Mereka menikmati pemandangan indah di depan mata, setelah beberapa saat, Sam menghadapkan Nay padanya. “Kita anggap saja ini salju berlian, semoga mitos tentang keabadian cinta benar adanya.” Sam mengusap rambut Nay yang bergelombang, dia mulai mendekatkan wajahnya dan mulai menyatukan bibir mereka, bibir yang dingin menjadi panas karena ciuman mereka. Setelah puas dengan melihat pemandangan dan juga ciuman mesra mereka, salju berhenti dan mereka menuruni gunung.


Saat hampir sampai, tiba-tiba kepala Nay pusing. Nay berpegangan pada Sam. “Kamu kenapa?” tanya Sam.


“Tidak tau, kepalaku pusing. Perutku mual.” Nay memegang kepalanya.


“Mungkin karena kurang tidur, Biar aku gendong!” Sam melepas tasnya dan menggendong Nay di punggungnya.


“Sam, tasnya bagaimana?” tanya Nay.


“Saat-saat seperti ini masih memikirkan tas! Sudah biarkan saja, tidak ada barang berharga ini.” Protes Sam.


“Nanti kita akan di denda, dikira buang sampah sembarangan.”


“Iya, nanti aku bersedia bayar denda! Yang terpenting kesehatanmu dulu.” Sam tidak habis pikir dengan Nay yang selalu memikirkan hal-hal kecil seperti itu. Dia menganggap istrinya sangat unik.


“Kenapa ke sini? Kepalaku hanya sedikit pusing.” Protes Nay saat mereka berada di depan rumah sakit, dia tidak suka dengan rumah sakit, mengingatkan kembali saat dia di rawat di rumah sakit jiwa.


“Kita periksa dulu, aku takut terjadi sesuatu padamu.” Sam tetap membawa Nay untuk periksa. Mereka masuk ke dalam, Nay melakukan pemeriksan dan di arahkan ke dokter kandungan. Sam dan Nay saling menatap, tidak ada yang bicara apapun, takut kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Sampailah mereka di dokter kandungan, dan perkataan dokter tersebut membuat Nay dan Sam menangis, bukan tangisan kesedihan. Namun, tangisan kebahagian, Nay dinyatakan hamil. “Hamil!” ucap Sam dan Nay bersamaan. Sam tidak bisa menahan tangisannya, dia memeluk Nay erat, mereka menangis bersama. Tidak lama dokter menginfokan bahwa ada dua nyawa berada di dalam rahim Nay. Nay terkejut dan dia pingsan di tempat.


Sam menggenggam erat tangan Nay, dia menunggu Nay siuman. Nay pingsan bukan karena kandungan yang lemah, melainkan terkejut karena terlalu senang. Nay tidak bisa membayangkan bahwa semua ini bukanlah mimpi. Tuhan memberikan kebahagian yang tak terkira, bukan hanya satu melainkan dua nyawa langsung di berikan padanya. Di saat tidak lagi berharap, di saat menyerahkan semua pada Tuhan, di saat menerima takdir tanpa mengeluh. Di sana Tuhan mengulurkan kekuasaannya.


Tamat.


Terima kasih telah mengawal kisah Samudra Nayna. Kisah ini berakhir di saat Nay hamil. Di tunggu untuk Extra Partnya yach..


Salam Age Nairie🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2