
Sam pamit meninggalkan Nay, hatinya berat meninggalkan istrinya. "Sayang, temani aku. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman."
"Aku percaya padamu, Sam." Nay memberi senyum pada Sam.
"Baiklah, aku berangkat dulu. Secepatnya akan segera pulang," ujar Sam.
"Uhm," jawab Nay. Sam mencium kening Nay cukup lama, setelah itu dia naik ke mobilnya. Nay melihat mobil Sam yang kian menjauh, setelah tak terlihat dia kembali ke kamarnya.
Sam tiba di rumah Falista pukul 20.00, dia mengetuk pintunya. Tidak lama pintu terbuka, Falista mempersilakan Sam masuk.
"Masuklah, barangnya ada di dalam kamar Sisil." Falista memimpin jalan menuju kamar Sisil, walaupun sebenarnya Sam sudah tau kamar Sisil, dia tetap mengikuti Falista.
Pintu kamar di buka, Falista menunjuk kotak di atas meja belajar. "Kotak itu yang ingin di berikan Sisil. Kamu bisa melihatnya."
Sam mendekati meja belajar itu, mulai membuka kotak berwarna pink tersebut. Sam mengambil boneka kain, ada tiga boneka, satu boneka kecil dan dua boneka lebih besar. Masing-masing boneka tersebut ada tulisan daddy, mommy dan Sisil. Mata Sam mulai mengembun, dia beralih ke kertas yang ada di dalam kotak tersebut. Kertas dengan ciri khas tulisan anak kecil. Mulai membaca isi di kertas tersebut.
...'Daddy, Sisil sayang daddy...
kata mommy daddy tidak bisa tinggal bersama kami karena sudah menikah dengan tante Nayna, kenapa daddy nggak bisa menikah dengan mommy? tapi nggak papa, tante nayna baik dan cantik. Semoga daddy bahagia. Sisil buat boneka kain untuk daddy semoga daddy suka. Sisil sayang daddy. Semoga daddy sering kunjungi Sisil dengan Tante Nayna.'
Sam meneteskan air matanya, dia tidak bisa menahannya lagi. Tangannya masih memegang kertas tersebut, kertas dengan tulisan harapan dia agar bahagia, surat yang di akhiri dengan gambar mereka. Sam mengenang saat mereka masih bersama. Ya, walaupun dulu hubungannya dengan Falista adalah kekasih. Namun, Sam lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Sisil. Sam tidak kuat menahan sesak di dada, anak sekecil itu harus meninggalkan dunia secepat ini.
Falista menghampiri Sam, memberikannya tisu dan segelas jus, Sam menerima tisu tersebut untuk mengusap air matanya.
"Minumlah, bersihkan tenggorokan mu!" ucap Falista dengan menyodorkan jus kepada Sam. Sam menerimanya, dan meminumnya.
"Bawa kotak itu dan pergilah." Falista memalingkan wajahnya.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf." Sam tulus meminta maaf.
__ADS_1
"Sudahlah, maafmu tidak bisa mengembalikan Sisil!" ujar Falista menatap tajam pada Sam.
Sam merapikan kotak tersebut, memasukan kembali surat dari Sisil dan juga boneka kain. Dia beranjak pergi dengan membawa kotak tersebut. "Aku pulang, ya!"
Sam berjalan hingga pintu, memegang handle pintu, mendorong kebawah dan membukanya. Pintu belum terbuka lebar, kepalanya terasa sangat pusing. Tiba-tiba wajah Falista membesar di depan wajah Sam.
"Sam, kamu kenapa?" tanya Falista.
Sam menatap Falista dan berkata, "Nay!" Dia langsung menarik Falista dan menciumnya yang telah diaganggapnya sebagai Nay.
Falista menggiring Sam ke kamarnya. Falista menambahkan sesuatu ke dalam minuman Sam, dia ingin memiliki Sam seutuhnya, jika tidak bisa mendapatkannya, maka yang lain pun tidak boleh mendapatkannya. Kematian anaknya membuat dirinya nekat.
Falista merebahkan tubuh Sam di ranjang, ponsel Sam terus berdering, Nay menelponnya. Falista hanya menarik sudut bibirnya ke atas, dia enggan untuk mengangkat panggilan telepon Nay.
***
Nay melihat jam dinding, sudah menunjukan pukul 22:30, hatinya gelisah menunggu Sam, sudah lebih dari dua jam Sam pergi dan belum kembali. Mengambil ponselnya, belum juga men-dial nomor Sam, ponselnya berdering tetapi bukan dari orang yang diharapkan.
"Sam tidak bersamaku, kenapa tidak menghubunginya saja?" jelas Nay.
"Aku menelponnya tetapi tidak di angkat. Memang dia di mana?" tanya Bian.
"Dia ke rumah Falista."
"Baiklah." Bian tidak bertanya lebih lanjut karena pekerjaannya sedang menumpuk.
Nay mulai menelpon Sam, tetapi tidak di angkat. Melihat ponselnya dan melacak keberadaan Sam, Sam masih di tempat yang sama, di rumah Falista. Nay mengambil kunci mobil dan mulai melaju menuju rumah Falista. Perasaannya kacau, takut terjadi sesuatu pada Sam. Sepanjang perjalanan dia menelpon Sam, tetapi tetap tidak di angkat.
Sampailah di depan rumah Falista, duduk di balik kemudi dengan tangan yang menggenggam stir. Dia memarkirkan mobilnya di depan rumah. Berpikir apakah masuk atau tidak, dengan mengumpulkan keberanian akhirnya dia keluar dari mobil dan menuju ke rumah Falista.
__ADS_1
Pintu masuk tidak tertutup, terbuka dengan celah yang sangat kecil, Nay mendorong pintu tersebut, melangkah mencari Sam, menatap ke satu pintu yang tertutup dan mendorongnya pelan.
Wajahnya pucat pasi setelah melihat suaminya terbaring di atas ranjang dengan bertelannjang dada. Ada selimut yang menutupi bagian perut ke bawah. Entah berbusana atau tidak, di atas Sam ada Falista yang menindihnya yang hanya memakai pakaian dalam. Mereka berciuman, Sam membalas ciuman itu, tidak tau sudah berbuat lebih atau tidak.
Nay terus menatap dua orang yang sedang saling menautkan bibir, tidak terganggu dengan kehadiran Nay. Mungkin jika wanita lain akan menangis dan kabur setelah melihat suaminya berselingkuh. Namun, tidak demikian dengan Nay, melihat suaminya bermesraan tidak membuatnya langsung melarikan diri. Dia melihat wajah Sam penuh gairah. Namun, tubuhnya lemas, matanya sayu, tidak seperti biasanya saat bersama Nay.
Falista menyadari kehadiran Nay. Melepas ciuman mereka, menatap penuh kemenangan pada Nay.
Nay mulai mendekati mereka, tatapannya bukan seperti biasanya, apa yang diperbuat Falista telah membangkitkan sesuatu dalam jiwa Nay yang selama ini dia coba tahan sekuat tenaganya.
Bersambung...
Karena sebentar lagi SAMUDRA NAYNA akan berakhir Othor mau memperkenalkan karya baru otor yg ga kalah seru nih..
Judulnya : Kamuflase Cinta Sang CEO
Bercerita tentang gadis belia yang terjerat oleh cinta CEO. Namun, Sang CEO hanya memanfaatkan dirinya sebagai pemuas gairahnya.
cus masukin ke daftar favorit biar ga ketinggalan ceritanya 😊🥰
***Blurb
Sakit yang terdalam adalah yang tidak terlihat oleh mata. Bagai tombak yang menusuk jantung, tetapi tombak itu tidak terlihat dengan mata. Namun, dapat dirasakan di dalam hati. Elena harus terlibat pernikahan dengan pria asing yang ditemuinya di hutan pegunungan, walaupun pernikahannya diawali dari suatu kesalahpahaman, Merrik memperlakukan dia dengan baik. Namun, semua itu hanyalah kamuflase. Kepalsuan cinta Merrik membuatnya tidak mempercayai laki-laki lagi.
Kesalahanku adalah mencintaimu. Namun, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Akan kubawa rasa sakit ini seumur hidupku. Seandainya waktu bisa diputar, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalmu.
~Elena
Kau tidak akan pernah bisa lari dariku, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu karena ku yakin dilubuk hatimu masih mencintaiku.
__ADS_1
~Merrik