
Di tengah keramaian pesta pernikahan Nima dan Zima, dari pintu aula berjalan seorang wanita cantik memakai baju merah, berjalan menuju arah pengantin pria. Zima sedang asik berbincang dengan para tamu undangan, dia menoleh saat seorang wanita itu memanggilnya.
"Zima!" ucap wanita itu.
"Kau!" ucap Zima.
Nima pun melihat sosok wanita tersebut, tidak ada keterkejutan di wajahnya. Dia tau wanita itu akan datang. Dia ingin Zima menyelesaikan masalahnya, Nima tidak ingin ada yang mengganjal di hati suaminya.
"Aku tinggal dulu, selesaikanlah urusanmu." Setelah bicara Nima beranjak pergi meninggalkan Zima.
"Nima!" Panggil Zima menahan lengan Nima.
Nima tersenyum dan melepas tangan Zima yang menahan lengannya. "Aku tidak apa-apa! Selesaikan dulu urusan kalian."
Nima meninggalkan Zima dan beralih untuk menjamu para tamu undangan. Zima pergi dengan wanita itu ke taman yang berada di luar aula pernikahan. Mereka duduk di bangku taman.
"Apa kabarmu?" ucap si wanita.
"Baik ... sangat baik." Zima berkata dengan gugup.
"Selamat atas pernikahanmu!"
"Bagaimana kabarmu selama ini?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Maaf kan aku yang pergi tanpa pamit."
"Maretta, maafkan aku!"
"Tidak perlu meminta maaf, Ayahmu sudah meminta maaf padaku."
"Ayahku?"
"Iya, Om Leo datang mencariku dan meminta maaf. Dia juga cerita tentangmu."
"Tetap saja, aku yang bodoh tidak mengetahui apapun sehingga membuatmu kesulitan." Zima berkata dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak Zim, aku juga akan pergi meninggalkanmu tanpa Ayahmu memintanya."
"Kenapa? Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Zima menatap Maretta.
"Apa sekarang kamu masih mencintaiku?" tanya balik Maretta.
Zima terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Maretta, hatinya sudah seutuhnya milik Nima. Maretta hanya tersenyum melihat Zima yang terdiam.
"Kita tidak mungkin bersama, seandainya kita memaksakan pasti akan selalu ada kerikil. Orang tua kita memiliki kenangan buruk, Ayahmu akan selalu mengingat Ibuku saat melihatku, begitupun dengan Ibumu, kebencian terhadap Ibuku masih tersimpan dihati orang tuamu. Aku pun akan selalu malu jika bertemu dengan orang tuamu. Aku malu dengan kelakuan Ibuku. Jadi, inilah takdir kita! Aku memutuskan pergi darimu. Aku sangat bahagia saat bersamamu. Namun, sekarang aku lebih bahagia tanpamu. Aku rasa, kamu juga begitu. Aku bisa melihat kebahagian di wajahmu saat bersama Nima."
"Apa kamu membenciku?" tanya Zima.
"Bagaimana denganmu? Apa kamu membenciku?" tanya balik Maretta.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak pernah membenci mu, bahkan saat kamu pergi tanpa mengucapkan satu katapun. Aku tidak pernah percaya kamu pergi meninggalkanku demi pria lain."
"Aku pun begitu Zima, tidak pernah sedikitpun membencimu, tetapi kamu salah jika berpikir aku tidak pergi meninggalkanmu demi pria lain."
"Apa maksudmu?"
"Ayahmu memang memberiku uang untuk meninggalkanmu. Namun, aku menolaknya. Pada kenyataannya aku memang pergi dengan pria lain."
Ada kelegaan di hati Zima, Maretta tidak membencinya, mereka bisa berdamai dengan masa lalu orang tua mereka, tetapi ada rasa penasaran dengan kehidupan Maretta setelah pergi darinya. Dia takut gadis itu menderita dan dengan siapa dia selama ini hidup. "Kamu pergi dengan siapa?" tanya Zima.
"Selama ini aku di London, tapi bukan karena uang Ayahmu loh!" Jelas Maretta.
"Iya, tadi kan kamu sudah bilang, lagi pula aku percaya kau wanita baik, kamu bukanlah seorang yang menghalalkan segala cara demi uang."
"Hehehe, terima kasih atas pujiannya. Aku langsung menikah saat pergi meninggalkan mu!"
"Apa? Kamu menikah setelah pergi meninggalkanku? Jadi, kamu selingkuh saat masih bersamaku?"
Maretta menatap tajam Zima, "Apa aku seburuk itu di matamu?" ujar Maretta.
"Maaf, lanjutkan ceritamu!"
"Setelah pertemuanku dengan Om Leo, aku pergi ke bar, aku putus asa saat itu. Saat aku ingin mencoba merasakan minuman haram, ada seorang pria mengambil minumanku dan berkata, 'Minuman ini tidak baik untuk kesehatan.'" Maretta tersenyum mengenang awal pertama dia bertemu dengan suaminya.
"Maksudmu, kamu pergi dengan pria asing itu?" ujar Zima.
"Ya, dia menawarkan pekerjaan untukku!"
"Ya, pekerjaan menjadi istrinya seumur hidup!"
"Ha? Bagaimana bisa? dan Bagaimana kamu menyetujui menikah dengan pria asing?"
"Entahlah Zim, mungkin karena aku sudah putus asa jadi aku menerimanya dan aku hidup sangat baik sekarang. Kami bisa langsung saling mencintai. Seperti Tuhan memberiku kompensasi atas apa yang sudah Ibuku lakukan. Semua bagaikan mimpi untukku!" ucap Maretta.
"Sudah kukatakan ini semua bukan mimpi!" Tiba-tiba seorang pria berada di samping Maretta dengan menggendong seorang anak berusia setahun.
"Sayang." Maretta menatap suaminya dan beralih pada Zima. "Ini suamiku, Carlson."
Zima mengulurkan tangan. "Zima."
Carlson menerima uluran tangan Zima, mereka berkenalan. "Jerry sudah tidur, apa masih lama?" tanya Carlson pada Maretta.
"Tidak, sudah selesai," ucap Maretta.
"Ini anak kalian?" tanya Zima.
"Iya, ini anak kami, namanya Jerry. Aku pulang dulu ya. Semoga kamu bahagia." Maretta pamit pada Zima.
"Ya, terima kasih. Semoga kalian juga bahagia selamanya." Tulus Zima mendoakan.
__ADS_1
Maretta dan Carlson meninggalkan tempat pernikahan, mereka bergandengan tangan dengan Jerry dalam gendongan Carlson. Tampak kebahagian pada keluarga kecil tersebut.
Zima menatap kepergian keluarga kecil tersebut, lepas semua beban di hatinya, rasa bersalahnya hilang karena melihat wanita tersebut bahagia. Sekarang sudah saatnya benar-benar melepas masa lalu. Meraih masa depan dengan wanita yang di cintai nya.
Zima beranjak dari duduknya, berdiri menuju aula pernikahan, dia tersenyum melihat Nima sudah menunggunya.
"Kenapa keluar?" tanya Zima
"Aku takut suamiku khilaf dan pergi diacara pernikahanku."
Zima tertawa mendengar penuturan Nima, dia teringat akan ancaman Nima saat awal mereka membuat kesepakatan berpacaran. Nima tidak akan membiarkan dirinya selingkuh walau hanya dalam mimpi jika sudah menikah. "Hehehe, bagaimana caranya aku bisa meniggalkanmu? sedangkan dirimu sudah mengikat diriku dan tidak akan membiarkanku tergoda dengan wanita lain."
"Bagus, artinya Kakak mengingat kesepakatan kita dulu!" ucap Nima.
"Bahkan aku ingat kamu pernah berkata bahwa kamu adalah wanita yang akan mempertahankan apa yang sudah kamu punya," tutur Zima.
"Benar, jadi Kakak jangan macam-macam!" Ancam Nima.
"Tidak akan! Tapi, bisakah kamu mengubah panggilan untukku? Jangan panggil aku Kakak lagi." Protes Zima.
"Aku harus panggil apa?"
"Yang penting jangan Kakak. Panggilan-panggilan kesayangan saja, kamu kan anak muda seharusnya lebih banyak mengerti tentang hal itu."
"Baiklah, bagaimana jika sayang saja?" Usul Nima.
"Tidak mau, Sam memanggil Nay dengn sebutan sayang. Ganti!"
"Memangnya ada aturan hanya mereka yang boleh memiliki panggilan sayang?"
"Pokoknya tidak mau!"
"Baiklah, bagaimana jika Ay!"
"Ay?" tanya Zima.
"Ay ... Ayang," ucap Nima manis.
"Baik, kita putuskan itu saja. Ayo Ay kita masuk!" ucap Zima menggandeng Nima.
"Oke!" Mereka masuk kembali ke ruang aula pernikahan. Menyelesaikan serangkaian acara resepsi pernikahan.
Bersambung...
Terimakasih masih setia dengan kisah Samudra Nayna 🙏 🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, love, vote 😊😊😊
Samudra Nayna akan up setiap hari satu Bab menjelang akhir kisahnya.
__ADS_1
Di tunggu saran dan kritiknya agar otor lebih baik lagi dalam berkarya...
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰