
Pukul 9.00 di Kantor Sam.
“Bukannya kamu bilang ini cincin keabadian cinta?” tanya Sam yang menunjukan cincin pada Bian.
“Mungkin,” jawab Bian datar, matanya masih menatap dokumen yang dipegangnya.
“Kenapa mungkin? Bukannya kamu sendiri yang bilang ini cincin bersejarah?” ucap Sam kesal.
“Itu memang cincin bersejarah, kamu sendiri yang minta padaku untuk mencarikan perhiasan yang spesial, aku dapatkan itu dari sebuah lelang. Harganya juga fantastis bukan?”
“Iya, memang aku memintamu mencari perhiasan, tapi milik siapa cincin ini?”
“Ratu Elizabeth setauku, Elizabeth Bath … siapa ya? ah aku lupa, tidak dengar jelas kemarin, yang jelas itu cincin bersejarah!”
“Ini, kamu jual lagi saja. Nay mengembalikannya padaku.” Sam meletakan cincin tersebut ke hadapan Bian.
“Kenapa dikembalikan? Ini kan sulit didapat.”
“Tidak jelas asal usulnya, kemarin kamu bilang cincin ini milik Elizabeth Bathory, dia bukan ratu melainkan seorang bangsawan Hongaria sekaligus pembunuh berdarah dingin!”
“Apa? biar aku cari tau lagi, siapa tau aku salah informasi.”
“Tidak perlu, kamu jual saja. Aku sudah tidak ingin cincin itu lagi! lebih baik aku pesan saja pada designer perhiasan dan membuat sejarah kami sendiri.”
“Baiklah, berarti makan malam romantis kalian gagal lagi dong semalam?”
“Semua gara-gara kamu!”
“Kenapa gara-gara aku?
“Ya, karena cincin itu!”
“Bagaimana kamu tau Elizabeth Barthory adalah seorang pembunuh? Yang penting kan ada Elizabeth, Elizabeth-nya, kebanyakan seorang ratu pakai nama itu.”
“Nay, yang bilang padaku. Aku juga sudah mencarinya di internet, ternyata memang benar ada sejarah tentang Elizabeth Bathory.”
“Kalau begitu, cincin ini akan aku lelang kembali saja, yah?”
“Terserah kamu saja, singkirkan cincin itu dari hadapanku!”
“Mau aku bantu memesan cincin yang baru?” tawar Bian.
“Tidak perlu biar aku saja.”
Sam pergi meninggalkan Bian dan pergi sebuah toko perhiasan yang terkenal.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” ucap seorang pelayan toko.
“Bisa aku bicara dengan designer perhiasannya? Aku ingin memesan sebuah perhiasan,” jawab Sam.
“Baik, silakan duduk dulu Tuan.” Pelayan toko meninggalkan Sam dan pergi meninggalkannya untuk memanggil designer perhiasan.
Tidak perlu lama menunggu, seorang designer perhiasan keluar, dengan ramah menyambut Sam.
__ADS_1
“Selamat pagi, saya Risa designer perhiasan di toko ini.” Risa menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Samudra Alegian.” Sam membalas uluran tangan tersebut.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan Samudra?”
“Saya ingin membuat sebuah kalung yang spesial untuk istriku.”
“Mau bertema apa?”
“Entahlah, aku ingin membuat sejarah kami di kalung tersebut.”
“Siapa nama istri tuan dan bagaimana karakternya?”
“Namanya Nayna, dia sangat cantik. Namun, dia juga angkuh.”
“Sepertinya aku sudah punya gambaran, sebentar aku ambil buku sketsaku dulu.” Risa meninggalkan Sam.
Risa kembali dengan membawa sebuah buku di tangannya.
“Silakan dilihat dulu Tuan draft sketsanya,” ucap Risa memberikan satu sketsa kalung.
Sam melihatnya, hanya kata indah yang terlintas di kepalanya. “Ini bagus.”
“Ini adalah sebuah berlian biru, yang dikelilingi oleh permata kecil berwarna putih. Berlian biru yang melambangkan samudera dan permata kecil yang mengelilingi adalah pemilik yang selalu menjaga berlian tersebut agar tidak terlepas darinya.Seperti nama Anda Tuan, Samudra yang hanya untuk Nayna.”
“Baiklah, aku suka yang ini. Bisa jum’at ini selesai?”
“Tentu, aku memang sedang mengerjakannya, kebetulan Tuan Samudra datang dengan tema yang sesuai dengan apa yang aku kerjakan.”
“Tentu, design ini sudah menjadi milik Tuan Samudra,” ucap Risa tersenyum.
***
Hari berlalu begitu cepat, tibalah hari Jum’at, Sam mengambil kalung pesanannya dan berencana memberikan pada Nay saat mereka berlibur di Pulau.
“Sayang kamu sedang apa? Ayo kita makan!” teriak Sam dari ruang tamu apartemen mereka.
“Aku lagi dikamar, sedang berkemas,” jawab Nay dengan berteriak.
Sam menuju kamar dan melihat Nay sedang memasukan pakaian mereka ke dalam koper.
“Belum selesai juga?”
“Sebentar lagi, tinggal aku masukan skincare.” Nay beralih ke meja rias, “Kamu lihat sunblock tidak? aku baru beli kemarin.”
“Yang seperti apa?”
“Warna kuning, ada tulisannya sunblock.”
“Perasaan skin care punyamu warnanya putih semua, kamu ganti skin care?”
“Tidak, aku beli sunblock untukmu, biar nanti tidak hitam.”
__ADS_1
“Aku tidak perlu pakai skincare, aku ini laki-laki.”
“Laki-laki juga harus menjaga penampilannya, biar enak dipandang. Lagi pula hanya sunblock, agar kulitmu tidak terbakar.”
“Buat apa? biar bunga-bunga di jalan mendekatiku?”
Tiba-tiba Nay mengingat Falista. Sam bukanlah pria metroseksual, dia lebih cuek dalam penampilan, begitu saja sudah banyak wanita yang mendekatinya.
“Kamu itu sudah punyaku, jadi jangan harap mendekati bunga yang lain dan jika ada bunga yang menginginkan dipetik olehmu, kamu harus membuangnya.”
“Siap, istriku! Sudah, ayo kita makan, tidak usah dicari lagi sunblocknya. Besok kita berangkat pagi, jadi harus istirahat lebih awal”
Hari sabtu pun tiba, setelah perjalanan menyebrang lautan, tibalah di pulau pribadi di kepulauan seribu. Mereka snorkeling, bersepeda, bermain ayunan. Benar-benar dimanfaatkan hanya untuk mereka berdua, hingga malam menjelang.
Sam sudah menyiapkan makan malam di tepi pantai, meja yang sudah dihias dengan taplak meja berwarna putih dengan beberapa hidangan sudah tersaji dan juga lilin berbentuk love mengelilingi area mereka makan malam.
Nay takjub dengan usaha Sam yang membuat acara makan malam romantis untuk mereka setelah beberapa kali gagal dilaksanakan.
“Sam terima kasih, kamu sudah sangat berusaha setelah kita gagal makan malam romantis.” Nay tersenyum.
Sam memberikan kotak perhiasan pada Nay. “Ini untukmu. Aku tidak akan berlutut didepamu, karena aku tidak bisa mengucapkan kata-kata romantis.”
Nay menerima pemberian Sam dan membukanya, “Cantik. Sebenarnya kamu tidak perlu sampai melakukan ini.”
“Aku hanya ingin menyenangkan istriku saja dan ingin kamu tau, aku benar-benar hanya mencintaimu.”
“Aku percaya padamu, Sam.”
Sam bangkit dari duduknya dan membantu Nay memakai kalung tersebut.
"Ini kalung dengan berlian biru yang dikelilingi permata putih. Artinya, Samudra hanya untuk Nayna," ucap Sam.
"Kamu memang hanya untukku."
Mereka menyantap hidangan yang tersedia, hingga ada suara di langit, kembang api memancarkan cahayanya yang indah, memanjakan setiap mata yang melihat. Makan malam romantis mereka berhasil saat ini, tidak ada pertengkaran diantara mereka. Nay berdiri dan mendongakkan kepalanya untuk melihat lebih jelas.
Sam memeluk tubuh Nay dari belakang yang masih melihat takjub kembang api yang menerangi langit, membalikan tubuh Nay agar mereka berhadapan, mereka diam, hanya saling tatap penuh kasih sayang. Sam mendekatkan bibirnya ke bibir Nay dan mulai menciumnya.
Mereka berciuman di bawah langit yaang bertabur kembang api, dinginnya angin malam menyelimuti dua insan yang berstatus suami istri. Setelah cukup lama, Sam melepaskan ciuman mereka, “Kita pindah ke dalam, yah?”
“Bukannya kamu bilang akan menyalakan lampion dan menerbangkannya?” ucap Nay.
“Itu bisa nanti, sekarang kita masuk dulu kedalam.” Sam menarik lengan Nay dan membawanya ke penginapan.
Bersambung…
Jangan lupa like n komentarnya 🙏
Terima kasih masih setia dengan Samudra Nayna 🙏
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
Rekomendasi novel hari ini adalah novel Tiger Wu milik author Ria Aisyah... banyak keseruan loh, cus kepoin dan tinggalkan jejak 😊
__ADS_1