
Keesokan harinya, cahaya pagi hari begitu lembut menembus dari sela gorden.
Nay terbangun, menarik selimut dan menggerakkan tubuh, wajahnya pun mulai merona.
“Sudah bangun?” Sam berbaring di sisinya, sedang asik bermain dengan menggunakan ponselnya.
“Selamat pagi, Sam,” ucap Nay.
Sam meletakan hand phone nya, “Selamat pagi.” menjawab sapaan Nay, menunduk dan langsung mencium sekilas bibirnya.
“Jam berapa sekarang?” dia bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Hampir jam 12,” Sam melihat jam, “lapar tidak? Kita sudah melewatkan sarapan. Ayo bangun dan bersiap makan siang yah.”
“Uhm.” Nay menganggukkan kepala, dia bergerak untuk bangun namun dia merasa tubuhnya tidak nyaman, sulit untuk menggerakkan kakinya.
Sam melihat itu semua, dan dia tersenyum, “Apa perlu aku gendong ke kamar mandi?”
‘Menyebalkan.’ Ujar Nay dalam hati.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Ucap Nay.
Masih dalam keadaan duduk, dia mencari baju tidurnya dan mulai memakainya dengan sesekali mengucek matanya karena masih ngantuk.
“Masih ngantuk yah?” Suara Sam sudah terdengar di samping telinganya dan gerakan memakai bajunya terhenti saat Sam menarik pakaiannya sambil mencium lehernya.
“Ngantuk.” Nay pun menjawab, setelah sejenak, dengan nada tinggi dan kesal, “Sam!”
“Emm, aku disini.” Sam menjawab dengan tenang dengan tangan masih bergerilya tidak berhenti.
“Dasar mesum….” Jerit Nay.
“Uhm.” Sam pun kembali menjatuhkan Nay di atas ranjang.
………..
Selama dua hari ini, mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar saja, seperti ingin explore tubuh masing masing, saling memiliki satu sama lain dan mengecap indahnya dua menjadi satu. Serasa dunia milik berdua, itulah pepatah yang cocok dengan mereka.
Setelah beberapa hari menikmati masa pengantin baru, mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia, karna sudah cukup lama mereka berada di Singapura dan pekerjaan mereka sudah menunggu untuk di jamah.
Mereka mulai membereskan pakaian mereka ke dalam koper.
“Sam apa tidak apa apa kita tidak bilang ayah dan ibu soal penyerangan itu?” tanya Nay sambil melipat pakaian.
“Tidak perlu, nanti Ibu akan khawatir, lagi pula ini hanya luka kecil.” Sam menarik kaos yang dipakainya ke atas, “lihat, hampir tidak terlihat bukan, bekasnya.”
“Kamu benar, tapi kenapa harus di rawat selama itu di Rumah Sakit? biasanya kalau lukanya tidak dalam, bisa rawat jalan kan.” Ucap Nay bingung.
Sebenarnya Sam lah yang meminta untuk di rawat di rumah sakit, karena dia tidak ingin dalam keadaan tidak vit jika berdua saja di dalam kamar hotel dengan Nay. Dia memang sudah merencanakan semua ini agar penampilannya sempurna di mata Nay, saat mereka mengecap indahnya surga dunia.
“Mana aku tau, dokternya yang bilang begitu.” ucap Sam gugup.
__ADS_1
“…”
…………..
Sesampainya di rumah, anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tv.
“Kami pulang.” Ucap Nay.
“Kalian sudah pulang? Apa pekerjaanmu sudah selesai Nay?”
“Sudah, Bu.”
“Sam, kenapa kamu juga ikut Nay ke Singapura? Tidak bilang bilang langsung menghilang saja!” Protes Ibu Retno.
“Aku juga ada pekerjaan Bu.” Jawab Sam.
“Aku permisi dulu, mau membersihkan diri,” ucap Nay pada semua, “aku naik dulu.” Nay menoleh berkata pada Sam dengan suara pelan.
“Aku ikut.” Ucap Sam Semangat.
Mereka menaiki tangga dengan senyum di wajah mereka.
“Ada yang aneh dengan mereka berdua!” Ucap Zima.
“Apa yang aneh?” tanya Leo.
“Mereka tidak seperti biasanya, ayah tidak lihat mereka saling pandang tadi?”
Retno memukul bahu Zima, “Mereka itu masih termasuk pengantin baru, jadi masih romantis,” lalu menatap tajam pada Zima, “kapan kamu menikah? Setidaknya perkenalkan pada Ibu seorang wanita.”
“Kamu kan laki laki, masa tidak bisa mencari seorang wanita!”
“Wanita banyak Bu, tapi kan kita harus selektif dalam memilih, jangan sampai membeli kucing dalam karung.”
“Kamu ini banyak alasan, nanti Ibu akan cari kan jodoh buatmu yach?”
“Ibu tidak usah repot repot, biar menjadi urusan aku saja, memangnya ini zaman Siti Nurbaya! Ibu mending jalan jalan saja bersama teman arisan Ibu.”
“Di jodohkan juga tidak terlalu buruk, kamu lihat sendiri Samudra dan Nay tadi, bukan kah mereka sekarang tampak bahagia.”
Zima sudah tidak ingin mendengar ocehan Ibunya, “Sudah Bu, aku ngantuk, aku pergi tidur dulu.” Zima beranjak dari kursinya meninggalkan ayah dan ibunya di ruang TV.
“Dasar anak ini.” Ucap Retno.
……….
Nay dan Sam berjalan hingga sampai di kamar mereka, baru juga membuka pintu, Sam sudah menarik Nay masuk ke dalam dan mengunci pintu, mendorong Nay di balik pintu dan mulai menciumnya.
Nay tidak menolak dengan apa yang dilakukan oleh Sam, seperti beberapa hari ini yang sudah mereka lakukan, mereka sudah terbiasa dengan sentuhan satu sama lain, tangan Sam masih bergerilya di tubuh Nay, baru menikmati sebentar, hand phone Nay berdering.
“Sam hentikan! Ponselku berdering.” Nay mencoba melepaskan pelukan Sam.
__ADS_1
“Abaikan saja.”
“Lepas dulu, aku mau angkat telepon!” Sam mundur karena dorongan Nay.
Akhirnya Sam pun mengalah dan membiarkan Nay mengangkat teleponnya.
“Hallo?”
“Nona, aku sudah mendapatkan kabar terbaru tentang kasus aborsi itu.” Ucap Lori.
“Baiklah, besok kita bertemu di tempat biasa.” Ucap Nay dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
“Siapa?” tanya Sam.
“Lori, Bawahanku.” Nay menjawab singkat, enggan untuk menjelaskan pada Sam.
“Detektif sewaan mu?”
“Apa? Bagaimana kamu tau?”
“Kamu menyelidiki kasus aborsi enam tahun lalu?” tanya Sam lagi.
“Sam katakan padaku, bagaimana kamu mengetahuinya? Apa kamu punya indra ke enam?”
“Tidak perlu memiliki indra ke enam untuk mengetahuinya. Ruangan ini sunyi, orang yang bicara denganmu bicaranya juga tidak pelan, di tambah lagi aku tepat berada di sampingmu.” Sam berbicara dengan nada mengejek.
“Ish, iya aku memang menyelidiki kasus aborsi yang menimpaku dulu, karena kasus itu, semua orang menatapku dengan jijik,” Nay menatap tajam pada Sam, “dan kamu pun juga kan, menganggap ku seperti itu kan?”
“Tidak,” Sam menyangkal ucapan Nay, “aku tidak pernah percaya bahwa kamu akan berani melakukan aborsi.”
“Kenapa tidak percaya? Kejadian itu terjadi setelah Ryawan pergi, semua orang berfikir aku melakukan aborsi karena Ryawan tidak ingin bertanggung jawab.”
“Karena kamu sangat menyukai anak anak, jadi tidak mungkin melakukan itu.”
“Tapi kamu percaya bahwa aku adalah wanita gampangan!”
Akward.
“He.. Sudah jangan bahas itu lagi, itu kan karena aku terbakar cemburu.”
“Ngeles aja kayak bajaj.” Ejek Nay.
Sam hanya tersenyum kaku, “Besok bertemu dimana?” tanya Sam.
“Di yellow café.” Jawab Nay.
“Senang banget ketemu di sana.” Ucap Sam dengan suara pelan.
“Apa? Bagaimana kamu bisa tau aku suka ke sana?”
“Ha … ha … ha …, café itu terkenal dengan masakannya, tentu saja banyak orang yang senang makan di sana.” Sam berkata dengan santainya.
__ADS_1
Sam mana mungkin mengakui bahwa dia pernah menguntit Nay saat bertemu dengan detektif sewaannya itu.
Bersambung.........................