
Nay bergetar setelah mendengar penuturan Anton dan Ana, dia tidak menyangka bahwa ibu yang selalu dia rindukan dapat melakukan hal seperti itu. Anton melihat Nay bergetar, tidak tega untuk melanjutkan ceritanya. “Sebaiknya sampai disini saja, tidak usah dilanjutkan lagi!”
“Jangan berhenti, lanjutkan saja!” ucap Nay tegas.
Anton melanjutkan ceritanya, “Setelah mendapatkan telepon Tuan Riko, Tuan Bima langsung menuju rumah, sedangkan aku menemui Tuan Adam dan menceritakan semuanya. Aku dan Tuan Adam menyusul kerumah namun kami terlambat, semua sudah terjadi.”
“A—pa yang terjadi?” tanya Nay.
Bibi Ana pun tiba-tiba menangis dan mulai melanjutkan cerita Anton, “Pada malam itu, Nyonya Sinta datang, wajahnya tidak ada senyum seperti biasanya dan dia berlari mencari Nyonya Diska ….” Ingatan Bibi Ana menerawang ke masa lalu.
Flashback On
Pada Malam Tragedi
Sinta mendapatkan informasi dari detektif sewaannya, dia diam-diam mencari tau tentang suaminya, memegang berkas dari detektif sewaannya tersebut dan meremasnya menjadi sebuah bola. Dia tidak pernah menyangka bahwa selingkuhan suaminya adalah kakak iparnya sendiri, seorang yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri. Bagaimana mungkin dia bercerita tentang perselingkuhan suaminya pada wanita yang menjadi selingkuhannya! yang sering memberikan nasehat tentang pernikahan layaknya seorang sahabat. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah perselingkuhan ini dimulai tidak lama dari Diska dan Bima baru menikah, sudah berlangsung lebih dari empat tahun, dia pikir suaminya berselingkuh karena dia tidak bisa memiliki anak namun ternyata bukan itu penyebabnya, Sinta sangat murka dengan mereka.
Sinta berencana menyelesaikan masalah mereka hari ini, dia juga sudah memerintahkan Baby Sitter untuk mengajak Nima bermain keluar rumah agar tidak dapat mendengar apa yang akan mereka bicarakan. Dia menunggu kepulangan suaminya dengan rasa amarah yang di pendam.
Tidak perlu menunggu lama, orang yang ditunggu datang, Riko pulang ke rumah setelah bertemu dengan Bima, dia memutuskan untuk tidak akan menyakiti Sinta lagi, dia rela jika harus kembali ke kehidupannya yang dulu tanpa semua kemewahan ini. Ya, Riko sudah jatuh cinta pada Diska dan akan melakukan apapun untuk wanita itu.
Riko membuka pintu dan sudah ada Sinta menunggunya di kursi ruang tamu.
“Kamu sudah pulang?” tanya Sinta datar.
“Ya, ada yang ingin aku beritahu padamu!” ucap Riko.
“Bicaralah.”
Riko duduk berhadapan dengan Sinta. “A—ku … sebenarnya, Aku dan Dis—ka ….” Riko tidak dapat melanjutkan bicaranya, dia tau bahwa dia bersalah, dia juga tau bahwa selama ini dia di perlakukan dengan baik oleh semua keluarga Rastian, namun apa daya, dia tidak bisa memungkiri bahwa dia sangat mencintai Diska.
“Kau dan Diska selingkuh?” sebelum Riko melanjutkan bicaranya, Sinta sudah melanjutkan perkatannya.
Riko tersentak! “Bagaimana kamu tau? kamu menyelidikiku?”
“Apa penting, aku tau dari orang lain atau dari mulutmu?”
__ADS_1
“Sinta, aku minta maaf ….” Ucap Riko tertunduk.
“Apa maaf bisa mengobati rasa sakitku?”
“Aku tau, maafku tidak dapat menyembuhkan lukamu, tapi aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucap riko dengan penuh penyesalan.
“Jadi, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Sinta.
“Aku akan mengembalikan apa yang sudah kamu berikan padaku, aku rela kehilangan semua kemewahan yang kamu berikan.”
“Jadi kamu mau menceraikanku?”
Riko menatap wajah Sinta, dia tau bahwa dia sangat jahat memperlakukan Sinta seperti ini. “Maaf!” hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Riko.
“Kau rela mengembalikan semuanya?”
“Ya.”
“Aku ingin tau, bagaimana caramu mengembalikan hatiku yang telah lama mencintaimu?” ucap Sinta dengan berlinang air mata.
“Bagaimana dengan Nima, jika kita bercerai?”
“Itu tidak jadi masalah, dia juga bukan anak kandung kita.”
Deg…
Sinta terkejut mendengar ucapan Riko, tidak menyangka bahwa selama ini Riko tidak pernah menganggap Nima sebagai anaknya. “Apa kamu pernah mencintaiku?” Sinta ingin tau perasaan Riko padanya.
“Ma—af!” berulang kali sudah Riko selalu berkata maaf pada Sinta. “Kamu baik, cantik dan kaya! saat itu, aku memang tertarik denganmu jadi aku bersedia menikah denganmu namun saat aku bersama Diska aku merasakan sesuatu yang berbeda, seperti benar-benar bahwa ini adalah cinta.”
“Gila! Kalian benar-benar gila, bagaimana bisa kalian melakukan ini pada kami?” teriak Sinta yang sudah kehabisan kesabaran. “Kalau kamu tidak peduli dengan Nima, bagaimana nasib Nayna? Apa kamu tidak pernah memikirkanya?”
Riko tidak pernah memikirkan nasib Nima atau pun Nayna. Dia hanya bisa membatu di kursinya. Melihat Riko yang diam saja, Sinta berdiri dan mengambil kunci mobil, dia langsung berlari keluar menuju rumah Ayahnya, sekaligus tempat tinggal Bima dan Diska.
Riko tersadar saat mendengar suara mobil. “Sinta, kamu mau kemana?” teriak Riko.
__ADS_1
Riko, lantas ikut mengambil kunci mobil dan mulai mengejarnya, namun sial Sinta berkendara sangat cepat, dia terjebak macet sehingga tertinggal cukup jauh, namun yang dia yakini adalah Sinta menuju rumah Ayahnya, di tengah perjalanan dia putuskan untuk menelpon Bima dan memberitahu semua yang terjadi.
***
Setibanya ditujuan, Bibi Ana membukakan pintu, Sinta langsung masuk ke dalam rumah, keadaan rumah tidak seramai biasanya. Para pelayan sedang ijin untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu pelayan, hanya ada satu pelayan yang ada di rumah yaitu Bibi Ana.
“Dimana Diska?” tanya Sinta.
“Diruang bermain Nona Nayna. Nona Sinta mau saya buatkan minum apa?”
“Tidak usah, Bi!
“Baik, kalau begitu saya mau melanjutkan memasak ya, Non.”
Bibi Ana kembali ke dapur dan Sinta menuju ruang bermain, dia langsung bertemu Diska yang sedang bermain dengan Nay, bercanda dengan sangat hangat, dia melihat pemandangan itu, melihat wajah Diska yang cantik dan polos namun bisa berbuat hal memalukan.
“Diska, aku ingin bicara padamu?” ucap Sinta.
Diska yang asik bermain menoleh, “Kamu disini?”
Sinta melihat Nay, dia merasa tidak baik jika Nay mendengar apa yang akan mereka bicarakan. “Bisakah kita bicara di tempat lain? Aku tidak ingin Nay mendengarnya!”
“Biarkan dia disini!” tegas Diska.
“Ini, tidak baik di dengar olehnya!” ujar Sinta.
Diska berdiri dari lantai, berjalan menuju kearah Sinta, dan mendekatkan wajahnya kedepan Sinta, “Dia bisa mendengar apapun, biarkan dia mendengarnya."
Tidak ada ekspressi di wajah Diska, Sinta mulai merasa aneh, ini pertama kalinya dia melihat Diska seperti ini, tidak ada raut keramahan dan kepolosan didalamnya.
Tanpa pikir panjang, Sinta berjalan menuju Nayna dan menarik lengannya, “Kamu ikut tante dulu!” Nay hanya bisa mengikuti Sinta, setelah berjalan agak jauh dari ruang bermain, dia menemukan ruangan, karena pikirannya sedang dalam keadaan kacau, Sinta tidak memperhatikan ruangan tersebut. Membuka pintu dan memasukkan Nay ke dalam gudang tersebut, lalu menutup dan mengunci gudang itu dari luar dan kembali menuju dimana Diska berada. Yang tidak disadari oleh Sinta adalah lampu di dalam gudang tersebut mati setelah Sinta pergi meninggalkan gudang tersebut, hal tersebut yang menjadi trauma untuk Nay.
Bersambung…………….
Hai, aku age nairie, penulis Samudra Nayna, terima kasih sudah mengikuti Sam dan Nay.
__ADS_1
Jangan lupa like n love yach… di tunggu juga komentarnya. terima kasih 🙏🙏🙏🙏