SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 43 Kunang-Kunang


__ADS_3

“Tapi aku heran Paman, bagaimana bisa seorang wanita berprilaku keji seperti itu? Maaf, tapi bagiku ini tidak masuk akal,” ucap Sam.


“Setelah kematian Diska, Tuan Adam mulai mencari tau kehidupan masa lalunya, selama ini dia hanya mengetahui bahwa Diska adalah mantan wanita malam, namun kenyataannya, dia memiliki penyakit kejiwaan. Dia pernah melukai teman sekolahnya hingga hampir tewas namun dia tidak di hukum pidana melainkan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, dia dirawat selama setahun.”


“Bagaimana dengan silsilah keluarganya?” tanya Sam lagi.


“Informasi yang kami dapat, dia besar dipanti asuhan, orang tuanya tidak di ketahui. Menurut pengurus panti, Diska anak yang tenang dan mudah tersenyum namun dia jarang berkumpul dengan teman-temannya. Setelah lulus SMA dia meninggalkan panti dan memilih hidup sendiri.”


“Apakah selama kalian mengenalnya, tidak pernah melihat kepribadian aslinya?” tanya Sam lagi, bagaikan reporter yang terkena syndrome penasaran.


Bibi Ana yang menjawab pertanyaan Sam, “Tidak pernah terlihat ada keanehan, dia hanya terkadang menyendiri di taman belakang, aku pernah mempergokkinya sekali, dia hanya bilang ingin melihat kunang-kunang. Aku hanya tertawa menanggapinya, aku pikir dia sedang bercanda, mana ada kunang-kunang disini.”


Anton melihat kepada Nima dan Nay. “Aku harap Nona Nayna dan Nona Nima bisa mengerti dengan apa yang dilakukan Nyonya Sinta, dia sudah cukup menderita. Dan Tuan Besar sengaja menutupi ini dari kalian semata-mata agar kalian tidak memikul beban.”


Anton menatap Nay yang masih dalam dekapan Sam, “Nona Nay, Tuan Adam tidak ingin kamu memiliki kebencian terhadap ibumu, bagaimanapun dia adalah ibumu, orang yang melahirkanmu. Dia ingin di dalam memorimu, kamu memiliki keluarga yang harmonis. Tuan Adam ingin sekali memelukmu, tapi setiap kali melihatmu, maka dia akan melihat sosok Diska pada dirimu, orang yang menghancurkan kehidupan kedua anaknya. Karena itu, dia menghindarimu. Tuan besar lebih memilih dibenci oleh dirimu daripada kamu mengetahui yang sebenarnya, yang akan membuatmu kecewa.


Sempat Tuan Besar meragukan apakah kau benar anak Tuan Bima, Kakek Adam sampai melakukan tes DNA padamu untuk memastikan, walaupun dia sangat yakin bahwa kamu adalah memang benar anak Tuan Bima, matamu sangat mirip dengannya, selebihnya kamu sangat mirip dengan Ibumu.


Tuan Adam mendidik dan membesarkan kedua anaknya sendiri setelah kematian istrinya. Dia memilih menjadi orang tua tunggal daripada harus menikah lagi, dia sangat mencintai mendiang istrinya. Walaupun tanpa seorang istri yang menemani, dia sukses mendidik kedua anaknya dengan baik, Tuan Bima dan Nyonya Sinta tumbuh dengan bahagia, mereka tidak pernah melihat orang lain dari statusnya, namun kebaikan mereka dimanfaatkan orang lain.”


“Tuan Adam juga sudah cukup menderita, beliau tidak bisa memelukmu Nona Nay, karena selalu mengingatkan pada Nyonya Diska, dan untuk Nona Nima, tolong sayangi Nyonya Sinta, dia sudah menganggapmu sebagai anak kandungnya. Kakek Adam pun sama, dia juga menyayangimu, namun dia tidak bisa memelukmu, karena dia juga tidak bisa memeluk Nona Nay,” ucap Ana.


Perasaan Nay campur aduk, malu, benci semua jadi satu, yang tidak mereka ketahui adalah tidak hanya fisik yang mirip dengan ibunya, namun ada sebagian jiwa ibunya pada dirinya. Dia sekarang mengerti mengapa dia bisa bertindak ekstrim, dia mengerti mengapa saat membakar semua lukisan Nima, dia tidak memiliki rasa bersalah atau pun rasa penyesalan. Apakah dia memiliki penyakit yang sama dengan ibunya?


Nay melepaskan dirinya dari dekapan Sam, berdiri dari duduknya dengan mata yang sembab, menoleh bergantian pada Anton dan Ana, “Terima kasih informasinya, Paman Anton, Bibi Ana!” dia mulai berjalan keluar ruangan.


“Kamu mau kemana?” tanya Sam.

__ADS_1


“Aku ingin bertemu kakek.”


“Aku temani.”


Nay dan Sam menuju ruang ICU, hanya satu orang yang boleh masuk, Kakek Adam sudah sadar, melihat Nay yang masuk menghampirinya.


“Nay!” panggil Kakek Adam.


“Kakek! aku sudah mengetahui semuanya, Paman Anton dan Bibi Ana sudah menceritakan semuanya, tentang keluar—ga kita …” Nay tidak dapat melanjutkan ceritanya isak tangisnya membuatnya sulit bicara.


Kakek Adam melihat Nay yang menangis tersedu-sedu didepannya, hal yang tidak pernah dia liat dari Diska. Diska tidak pernah menangis.


“Maafkan aku, Nay! Selama ini aku mendidikmu dengan sangat ketat, aku tidak ingin kamu menjadi orang yang lemah, tidak ingin dimanfaatkan orang lain.”


“Kenapa tidak memberitahuku, Kek?”


“Saat dia koma, dia sempat sadarkan diri, waktu itu aku datang menemuinya, dia menatapku dengan raut wajah yang sulit diartikan, dan berkata, ‘Aku akan selalu ada, karena diriku ada pada diri Nayna!’ itu kata-kata terakhir yang dia ucapkan. Aku sengaja mendidikmu dengan ketat, aku tidak ingin kamu memiliki jiwa liar ibumu, aku ingin kamu menjadi wanita yang beretika. Tapi aku tidak bisa mendidikmu dengan cara yang sama seperti aku mendidik Bima dan Sinta, mereka terlalu lemah, mereka terlalu mudah kasian pada orang lain.


Maafkan kakek Nay, akulah yang membuat cucu-cucu kakek bertengkar. Saat kamu membakar semua lukisan Nima, disitu kakek mulai khawatir, Nima datang pada kakek dan mengadukan semuanya namun kakek tidak dapat berbuat apa-apa hingga akhirnya dia memfitnahmu dengan kasus aborsi. Pada saat itu, aku tau bahwa Nima yang melakukan itu padamu, namun aku sengaja menutupinya, bukan berarti aku membenarkan apa yang dia lakukan namun aku takut akan reaksimu jika tau Nima lah yang memfitnahmu.” Kakek Adam tidak tahan untuk meneteskan air matanya. Dia khawatir penyakit ibunya menurun pada Nay.


“Seharusnya Kakek jujur pada kami, kita hadapi ini bersama, jangan Kakek pikul sendiri!” ucap Nay masih dengan air mata yang menetes.


Mereka menangis bersama, ternyata setelah semua terbongkar ada suatu kelegaan di dalam hati Kakek Adam. Sam melihat itu semua melalui celah kaca yang ada di pintu, walaupun mereka berurai air mata namun sangat hangat untuk di lihat.


***


Epilog

__ADS_1


Diska keluar dari kamarnya disaat suami dan semua anggota keluarga terlelap, dia hanya menggunakan baju tidur putihnya, menuju ke arah taman belakang dan berdiri agak jauh menghadap pohon sawo yang belum terlalu tinggi. Bibi Ana yang terbangun karena haus melihatnya dan mengikutinya.


“Nona Diska, apa yang sedang Anda lakukan?” tanya Ana.


“Sedang menunggu kunang-kunang.” Menatap ke satu buah sawo yang belum matang.


“He … he… , Nona ada-ada aja, mana ada kunang-kunang disini,” ucap Ana dengan sedikit tertawa.


“Belum ada, tapi sebentar lagi mereka datang, kamu mau menunggunya bersamaku?” tanya Diska dengan senyum diwajahnya.


“Nona, bisa aja bercandanya! Angin malam tidak baik untuk kesehatan, jangan terlalu lama di luar Non.” Diska hanya memberikan senyum pada Ana.


Setelah kepergian Ana, Diska mulai melangkah setapak demi setapak mendekatkan pada pohon sawo tersebut. “Akhirnya kalian datang.” Hanya Diska yang dapat melihatnya.


***


Bersambung……


Jangan lupa Like and Favorit, mohon dukungannya yach… 🥰🥰🥰


Otor amatir yang menunggu saran dan kritiknya agar lebih baik lagi dalam berkarya.


Terima Kasih 🙏🙏🙏


Selagi menunggu Up dari Samudra Nayna, bisa baca dulu Novel temanku yang Oke ini..


__ADS_1


__ADS_2