SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 75 Percayalah Padaku


__ADS_3

Zima mengantar Nima pulang, dalam perjalanan pulang, Nima hanya menundukkan kepalanya.


“Kenapa diam saja?” tanya Zima.


“Lalu, aku harus apa? Image-ku sudah buruk di depan orang tua kakak!”


“Kata siapa?”


“Aku malu! Ini semua gara-gara Kakak, kalau tadi setelah makan malam mengantarku pulang, tidak akan begini kejadiannya!” Nima menatap sekilas pada Zima.


“Iya, aku minta maaf. Sudah, jangan kesal lagi.”


“Aku bukan kesal! Tapi, aku malu!” tegas Nima.


“Lalu, mau bagaimana lagi?”


“Tidak tau!” ketus Nima.


“Bagaimana jika menikah saja? apa kamu masih meragukan diriku?”


Nima hanya diam di tempat, dia masih belum yakin Zima sudah sepenuhnya melupakan mantan pacarnya. Dia tidak ingin masa lalu Zima menjadi duri dalam daging dalam pernikahannya.


“Kamu pikirkan dulu saja, aku beri waktu satu minggu! Jika, kamu belum memberi jawaban, aku akan langsung menghadap Kakek Adam!” tegas Zima.


“Kenapa seperti itu? Aku belum siap menikah.”


“Kenapa?”


“Hanya belum siap.”


“Harus ada alasan.”


Nima melirik sebentar, “A—pa Kakak benar-benar sudah melupakan mantan pacar Kakak?” ucap Nima ragu.

__ADS_1


“Kenapa membahas itu?”


“Karena Kakak pernah bilang, dia sangat spesial bagi Kakak!” bentak Nima.


“Berapa kali aku bilang, saat ini hanya kamu yang memenuhi otak dan hatiku.”


“Itu kan saat ini! Bagaimana jika dia tiba-tiba datang dan mengambilmu kembali? Apa kakak akan meninggalkanku?”


“Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan meninggalkanmu, sekalipun dia memohon kembali padaku!”


“Kakak bisa bilang begitu sekarang, belum tentu jika ada orangnya di depan mata Kakak!”


Zima jengah mendengar perkataan Nima, baginya Nima terlalu mengulur hubungan mereka. Bagaikan, sebuah drama percintaan yang ceritanya berbelit, hanya itu-itu saja yang menjadi persoalan mereka. Permasalahan yang seharusnya mudah diselesaikan. Namun, terbentur rasa ketidak percayaan. Zima mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia mengubah arah.


“Kak, ini terlalu cepat!” Nima mengedarkan pandangannya. “Ini bukan jalan kerumahku, Kak.”


Zima tidak peduli ocehan Nima, dia tetap mengemudikan kendaraannya. Hingga tiba di sebuah Hotel. Dia membuka pintu mobil dan keluar, berjalan memutari mobil kearah Nima, membuka pintunya dan menarik tangan Nima untuk keluar.


“Aku akan buktikan padamu, bahwa hanya ada kamu di hatiku!”


‘Apakah mantan pacarmu ada di sini, Kak?’ batin Nima.


Nima hanya membulatkan matanya, jantungnya berdegup kencang, mengikuti Zima yang menarik tangannya. Dia berpikir akan di pertemukan dengan mantan pacar Zima. Dia tau mantan pacar Zima sebelumnya pernah bekerja di Hotel. Nima tau, karena dia sering menguntit Zima saat masih berpacaran dengan wanita itu. Nima merasa belum sanggup untuk bertemu dengan wanita yang spesial itu.


Zima melepas tangan Nima dan memintanya menunggu di sofa yang ada di Lobby, sedangkan dirinya ke meja resepsionis. Setelah urusannya dengan resepsionis selesai, dia kembali menghampiri Nima.


“Ayo.” Zima menarik lengan Nima.


“Apa dia kerja di sini? Kakak mau mempertemukan kami? Kakak mau bilang hanya aku yang kamu suka atau kamu mau kembali lagi dengannya?” beruntun pertanyaan memborbardir Zima.


Zima tidak menjawab pertanyaan Nima, dia hanya memutarkan bola matanya dan terus berjalan.


‘Mengapa Nima begitu lamban? pantas saja kakeknya membebaskan dia untuk memilih jurusannya dan wajar saja Nay selalu mengejeknya.’ Batin Zima.

__ADS_1


Sampailah mereka di kamar yang dipesan Zima, dia mendorong Nima masuk ke dalam. Nima melihat seisi kamar, tidak ada orang di dalam selain dia dan Zima.


“Kenapa sepi?” tanya Nima bingung.


“Kamu berharap banyak orang?”


“Bukannya Kakak akan mempertemukan aku dengan …” ucapan Nima terhenti karena Zima mendorongnya ke dinding, Zima mulai mencium paksa bibirnya.


Nima hanya bisa memberontak dengan mendorong dan memukulnya. Namun, hal itu tidak mengganggu penyerangannya yang dilakukan Zima. Dia ingin membuat Nima seutuhnya percaya pada dirinya. Zima terus menjalankan aksinya. Nima histeris. Namun, Zima seolah tuli, dia terus mencium dan tangannya bergerilya ke segala arah. Hingga, bibir Zima turun kebawah tulang selangkanya. Tangis Nima pecah, saat Zima mulai merobek pakaiannya.


Mendengar tangisan Nima, membuatnya tersadar. Zima mundur selangkah, Nima luruh kebawah, menyatukan dahi dengan lututnya. Zima melihat kesedihan yang ditampakkan oleh Nima, melihat pakaian Nima yang sudah sangat kacau akibat perbuatannya.


Hal itu, membuatnya merasa bersalah, dadanya sakit seperti ada tangan yang tak terlihat yang meremmas hatinya. Bagaimana mungkin dia bisa berbuat keji seperti itu?


Zima ikut luruh kebawah, menarik Nima kedalam pelukannya. Memeluknya dengan erat, seperti takut Nima akan lari darinya.


“Maafkan aku! Aku tidak tau harus bagaimana lagi meyakinkan dirimu!” ucap Zima sungguh-sungguh, masih mendekap erat Nima.


Cukup lama bagi Nima untuk berhenti menangis, Zima mengangkat dagu Nima saat tangisnya berhenti, mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.


“Aku mohon padamu, percayalah padaku!” Zima menatap intens, lalu mencium kening Nima cukup lama.


Bersambung…


Hai, Reader.. sudah baca belum Call Center Cinta? Kalian bisa klik profil otor untuk membacanya.. mohon masukannya yach untuk cerpen otor itu yang kemungkinan akan otor buat Novelnya. Tapi setelah Samudra nayna selesai yah….


Jangan lupa like, love, vote dan komentarnya yah...


Terima kasih 🙏🙏


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2