SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 47 Pertemuan


__ADS_3

Nima masih menyimpan perasaan pada Zima namun dia menyadari bahwa Zima memiliki seseorang yang disukai, maka dari itu dia sudah memutuskan untuk tidak mengejarnya lagi.


“Kamu tidak pernah bilang sama Ibu? Siapa yang kamu sukai tapi tidak bisa kamu dapatkan?” tanya Sinta penasaran.


“Itu Nay saja yang asal bicara, tidak usah mendengarkan dia, Bu!” jawab Nima.


Nay hanya tersenyum mendengar perkataan Nima, dia bangkit dari duduknya dan permisi ke toilet. Saat menuju ke toilet dia melihat seseorang yang selama ini ia cari, “Ryawan?” namun sayangnya posisi mereka jauh, Nay berbalik arah mengejar laki-laki yang selama ini ia cari, dia mengejar hingga keluar restoran namun saat dia keluar sudah tidak ada sosok pria yang ia cari tersebut dan semua apa yang dilakukan oleh Nay terlihat oleh Sam.


“Kamu dari mana? Bukannya kamu bilang mau ke toilet? Kenapa malah keluar restoran?” beruntun pertanyaan dilontarkan oleh Sam.


“Kenapa kamu disini?” tanya Nay, posisi mereka masih di luar restoran.


“Aku yang bertanya lebih dulu!”


“Oh, aku melihat orang yang ku kenal.”


“Siapa?”


“Bukan siapa-siapa.”


“Ryawan?” ucap Sam.


Nay sempat tertegun, “Entahlah, aku hanya lihat siluetnya saja.”


“Emm.”


“Ayo kita masuk lagi Sam, yang lain sudah pada menuggu kita,” ucap Nay.


“Baiklah.”


Setelah acara makan bersama selesai, mereka pulang ke rumah masing-masing. Nima dan Sinta kembali ke rumah kakek Adam, mereka memilih tinggal bersama. Sam dan Nay kembali ke keluarga besar Alegian. Hari yang melelahkan membuat Nay ingin istirahat lebih awal, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


“Nay,” panggil Sam.


“Emm,” jawab Nay dengan mata yang sudah tertutup.


“Kamu sudah tidur?” ucap Sam, menusuk jari telunjuknya di pipi Nay.


Nay menepis jari Sam, “Aku mengantuk, jangan ganggu aku.”


Sam ingin membahas tentang Ryawan namun melihat Nay yang kelelahan menjadi tidak tega, memilih untuk membiarkannya beristirahat.


“Selamat tidur,” ucap Sam lalu mencium kening Nay.


***


Keesokan hari, di kantor Nay.


“Bu Nayna, hari ini kita akan ada kedatangan perwakilan dari PT Angkasa Imperium, mengenai pembahasan kerjasama untuk produk baru,” ucap Rudi.


“Jam berapa?” tanya Nay.


“Jam sebelas, Bu.”


Nay melihat arlojinya yang menunjukan pukul 10.30 , “Baiklah! siapkan semuanya, mereka belum datang kan?”


“Belum, kemungkinan sebentar lagi.”


“Panggil aku jika sudah saatnya meeting.”

__ADS_1


“Baik, saya permisi,” pamit Rudi dan meninggalkan ruangan Nay.


Nay melanjutkan pekerjaannya, baru sepuluh menit, ponselnya berdering, Nay melihat siapa yang menghubunginya dan menggeser simbol jawab.


“Hallo, Sam!”


“Siang ini, apa kamu bisa makan denganku?”


“Aku ada meeting jam sebelas, tidak tau selesai jam berapa, hanya membicarakan kerjasama produk baru, kemungkinan hanya sebentar.”


“Kalau begitu kita makan siang bersama saja!”


“Memang kamu tidak sibuk? jauh-jauh ke kantorku hanya untuk makan siang?”


“Tidak apa, aku hanya kangen denganmu.”


“Ish, mulai gombal!”


“Gombal juga dengan istri sendiri! memang kamu mengizinkan kalau aku menggombali wanita lain?”


“Tidak masalah bagiku!” ucap Nay datar.


“Apa? mana ada seorang istri meminta suaminya merayu wanita lain!”


“Ada! Aku.”


“Kenapa?”


“Karena aku yakin, selain aku tidak ada wanita yang bisa meluluhkan hatimu! Jika pun kamu berhasil merayu seorang wanita, aku pastikan wanita itu tidak lebih cantik dariku!”


“Wah, penyakit percaya dirimu datang lagi! tapi perkataanmu hanya sebagian yang benar!”


“Hanya kamu yang meluluhkan hatiku, itu adalah yang benar namun untuk wanita cantik itu relatif, kamu cantik dimataku bukan berarti cantik dimata orang lain.”


“Tetap saja aku yang paling cantik dimatamu kan? dan hanya aku yang bisa mengikat hatimu!”


“Ya, hanya kamu yang bisa mengikat hatiku!” ucap Sam dengan penekanan, “Jadi Nay, tolong jangan sampai kamu lepas ikatan itu, ikatlah menjadi satu dengan hatimu agar ikatan itu lebih kuat, hingga tidak ada pihak lain yang bisa melepasnya!” ucap Sam dengan serius.


Entah mengapa ada rasa khawatir di hati Sam.


“Sam, kamu kenapa?” tanya Nay bingung.


“Tidak apa, setengah jam lagi aku berangkat ke kantormu yah?”


“Ya sudah, aku siap-siap meeting dulu ya.”


Nay memutuskan panggilan telepon Sam, dan mulai bersiap untuk meeting, diluar ruangan sudah ada Rudi yang menunggunya.


“Apa perwakilan PT Angkasa Imperium sudah datang?” tanya Nay.


“Sudah, Bu!” jawab Rudi.


“Baiklah kita langsung saja ke ruang meeting.”


Nay dan Rudi menuju ruang meeting, sudah ada seorang perwakilan dari PT Angkasa Imperium menunggu mereka, dengan posisi duduk membelakangi Nay dan Rudi.


“Selamat Siang, Tuan Adi,” ucap Rudi.


“Selamat siang!” jawab Adi menoleh dan berdiri menyambut Nay dan Rudi.

__ADS_1


Nay terpaku melihat orang yang berdiri didepannya, dia sampai tidak bisa berkata apa-apa.


“Perkenalkan, Adi Ryawan CEO dari PT Angkasa Imperium,” Ryawan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Nay.


“Nayna Rastian,” Nay menyambut uluran tangan Ryawan, mereka saling tatap.


Ryawan melepas tangan mereka yang berkaitan dan tersenyum, “Bisa kita mulai?”


“Ya” jawab Nay.


Mereka membicarakan kerjasama dengan profesional tanpa menyinggung masalah pribadi, hanya memerlukan waktu satu jam untuk meeting, hingga Jam dinding menunjukan pukul 12 siang.


“Terima kasih untuk kerjasamanya Tuan Ryawan,” ucap Nay.


“Senang bisa bekerja sama juga denganmu Nona Nayna,” Ryawan tersenyum pada Nay “Apa kita bisa makan siang bersama? Ini sudah masuk jam makan siang, bagaimana jika kita makan bersama saja?”


Nay dan Rudi tidak enak menolak tawaran dari Ryawan, namun Rudi masih ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


“Em… tentu, kita bisa makan siang bersama,” ucap Nay.


“Maaf Bu, saya masih ada pertemuan dengan bagian payroll, Jadi saya tidak bisa menemani Ibu,” ucap Rudi.


“Tidak apa, kamu kembali saja aku yang akan menemani Tuan Ryawan.”


“Terima kasih, Bu!” tatapan Rudi beralih ke Ryawan, “Tuan Ryawan maaf aku tidak bisa menemanimu.”


“Ya, tidak apa! sudah ada Nona Nayna yang menemani,” jawab Ryawan.


Mereka pergi ke suatu restoran yang ada private room. Nay melupakan janjinya dengan Sam.


***


Sam mengemudikan mobilnya menuju kantor Nay, sebelum berangkat dia ada sedikit urusan hingga akhirnya dia terlambat datang ke kantor Nay. Sam mencoba menghubungi Nay namun tidak ada satupun panggilan yang di jawab olehnya.


Sam memutuskan untuk masuk ke dalam kantor dan dia bertemu dengan Rudi.


“Dimana Nayna?” tanya Sam. Semua karyawan sudah mengetahui bahwa Sam adalah suami Nay.


“Ibu Nayna sedang menjamu tamu, Pak!” jawab Rudi.


“Menjamu tamu? Kamu tidak ikut?”


“Saya tadi masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan, jadi Ibu Nayna sendiri yang menjamu tamunya.”


“Siapa tamunya?”


“CEO PT Angkasa Imperium, Tuan Adi Ryawan.”


“Apa? Adi Rya—wan?”


Bersambung....


tolong tinggalkan jejak ya, dengan cara like, vote, love, dan komentarnya.


terima kasih 🙏🙏🙏


salam age nairie


aku membawa rekomendasi novel oke ni...

__ADS_1



__ADS_2