
Acara pernikahan berakhir, Nima dan Zima langsung memutuskan pergi berbulan madu setelah acara resepsi malam selesai. Mereka bertolak ke Perancis yang katanya merupakan tempat yang romantis dan penuh dengan karya seni.
Keluarga yang lain kembali ke rumah masing-masing. Sam mengajak Nay untuk pulang ke rumah pantai mereka.
"Kenapa mengajakku kesini?" tanya Nay.
"Tidak apa, kita jarang ke sini jadi sekalian berlibur singkat saja," ucap Sam.
"Aku mau mandi ya, badanku lengket." Nay meninggalkan Sam sendiri dan menuju kamar mandi. Namun, Sam mengikutinya. "Kenapa mengikutiku?"
"Kita mandi bersama saja, biar cepat."
"Tidak mau, cepat keluar!" Nay mendorong tubuh Sam agar keluar.
"Kenapa? biar cepat, lagi pula aku sudah lihat semua, tidak usah malu."
"Bukan malu, nanti jadi lama jika mandi denganmu." Nay mendorong tubuh Sam keluar kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
"Sayang, buka pintunya! Kita sudah lama tidak mandi bersama." Teriak Sam.
"Tidak mau! Kalau mau cepat mandi saja di kamar mandi lain." Nay sudah tidak mendengarkan perkataan Sam lagi, dia memulai aktifitas mandinya.
Sam menunggu Nay di luar kamar mandi. "Mau romantis saja susah sekali." Gumam Sam pergi ke tempat mandi lain untuk membersihkan diri. Tidak butuh lama bagi Sam menyelesaikan mandinya. Dia melangkah ke ruang keluarga yang ada pianonya, sudah lama dia tidak bermain piano.
Sam duduk di bangku, mulai menyentuh tuts piano, menginjak pedal dan mulai memainkan sebuah lagu yang menenangkan hati. Nay keluar dari kamar setelah mendengar sebuah lagu, dia baru saja selesai meminum obat herbal yang diberikan tukang obat di air terjun.
Nay melangkahkan kaki lebih dekat lagi ke arah Sam. Menikmati alunan lagu yang dihasilkan oleh piano. Menatap hangat suaminya, mata mereka bertemu, mereka saling melempar senyum. Sangat jarang melihat Sam memainkan piano, terakhir adalah saat ulang tahun Sam yang ke tujuh belas.
Sam menghentikan permainannya setelah satu lagu dimainkan, dengan menggunakan jari telunjuk memberikan isyarat pada Nay agar lebih mendekat. Nay menghampirinya, Sam langsung menarik Nay hingga terduduk di pangkuannya. "Bagaimana permainan pianoku? Kamu pasti terpukau bukan?"
"Masih sama seperti dulu, kamu memang yang terhebat." Nay mengacungkan dua jempol pada Sam.
Sam mengusap lembut rambut Nay dan mulai mencium bibir yang sudah menjadi candunya. Melepaskan tautan setelah merasakan sesuatu pada bibir tersebut. "Kamu masih meminum obat dari tukang air terjun itu?" tanya Sam.
"Iya, baru saja habis. Oh, ya apa aku harus pijat perut Sam? Aku lihat di internet ada yang berhasil hamil setelah pijat."
"Nay ...." Sam bingung harus melanjutkan perkataannya lagi atau tidak. Dia tidak ingin Nay terlalu terbebani oleh masalah keturunan. Namun, bahasan ini sudah sering mereka bahas, tetap saja Nay selalu membuat dirinya terbebani. Sam hanya ingin mereka menjalani hidup mereka bagai air yang mengalir.
__ADS_1
"Kenapa berhenti bicara?" tanya Nay.
"Tidak, apa! Selain berobat, usaha alami juga sangat penting." Sam mengurungkan niatnya membahas kehamilan. Dia langsung menarik tengkuk Nay dan mulai menciumnya kembali. Bangkit dari duduknya, masih dalam bibir yang terikat, Nay pun masih dalam gendongannya, melingkar kan kakinya pada pinggang Sam. Sam melangkah menuju kamar mereka, hingga mereka terjatuh di ranjang. Sam mulai menikmati hidangan di depan matanya. Menikmati setiap inci, seperti pembeli yang tidak mau rugi, harus mendapatkan seutuhnya. Sam membenamkan benih cintanya sangat dalam berharap buah cinta mereka akan berkembang.
Ponsel Sam terus berbunyi. Namun, Sam tidak ingin melewatkan saat-saat indah bersama Nay, tidak ingin ada yang mengganggu aktifitasnya yang sedang berusaha melepas calon anak ke tubuh istrinya. Dia mengabaikan panggilan telepon yang terus berdering dari Falista.
***
Di siang hari, di kota Paris, sepasang pengantin masih dalam balutan selimut. Nima mulai membuka matanya, di depannya sudah di suguhi pemandangan indah, lelaki yang selama ini di cintai sejak kecil sudah menjadi suaminya. Dia memandang setiap inci wajah Zima, memandang alis tebal Zima yang mirip dengan Leo dan juga Sam. Hidung runcingnya, bibir yang sangat pas, tidak tebal maupun tipis, sedikit lentik di bulu matanya.
"Mau sampai kapan menatapku seperti itu?" ucap Zima tanpa membuka matanya.
"Kakak sudah bangun?"
"Ditatap seperti itu, tentu saja akan terbangun." Zima membuka matanya menatap kembali istrinya.
"Aku 'kan tidak berbuat apapun, bagaimana bisa mengganggu tidurmu?"
"Tatapan matamu itu bagaikan sebuah godaan untukku!"
"Sekarang Kakak pandai gombal!"
"Iya, aku lupa." Nima melihat jam di ponselnya. "Sudah siang Ay, kita bangun yuk?"
"Oke. Aku gendong yah? pasti sakit yang semalam."
Nima hanya tertunduk malu, saat mengingat kejadian semalam.
"Kenapa malu? semalam kita sudah melakukannya dan aku sudah melihat semuanya."
"Tidak, aku hanya malu jika bertemu sanak keluarga? Apa kita harus menjelaskan pada mereka bahwa saat di apartemen kita tidak berbuat hal itu?"
"Hehehe, biarkan saja mereka menganggap kita seperti itu. Lagi pula kalau kita cerita akan di tertawakan. Mereka akan menertawakan kebodohan kita."
"Ternyata, Kakak amatiran!" ejek Nima.
"Memangnya kau mengharapkan aku suka jajan? Semalam juga sepertinya kamu puas. Setelah menangis habis itu nikmat bukan?"
__ADS_1
"Aku senang menjadi yang pertama untukmu. Sangat bahagia semalam." Nima tersenyum bahagia.
"Aku pun begitu, sangat bahagia menjadi yang pertama untukmu."
"Tunggu, Kak. Kita ralat, aku akan menjadi yang pertama untukmu, selanjutnya dan satu-satunya bagimu!" ujar Nima.
"Ya, aku juga, akan menjadi satu-satunya untukmu."
Zima mengangkat Nima dalam keadaan polos, mereka tanpa sengaja melihat kebagian sprei berwarna putih yang terkena noda warna merah. Mereka saling tatap dan tertawa menertawakan kebodohan mereka yang berpikir bahwa mereka sudah pernah melakukan hubungan intim di apartemen Zima sebelumnya.
***
Bian masuk kedalam ruangan Sam dengan wajah yang panik.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Sam.
"Sam ...." Bian bingung untuk mengatakannya darimana.
"Katakanlah, ada apa? Jangan buat aku penasaran!" cecar Sam.
"Emm, Sisil meninggal." Akhirnya keluar juga perkataan yang membuat sedih hati Sam.
"Apa? Bagaimana bisa?" ujar Sam sedih.
"Dia terlambat penanganan, dia meninggal sebelum dioperasi."
Sam lemas terduduk di kursinya, tidak menyangka anak kecil yang disayanginya harus meregang nyawa karena telat penanganan.
Sam baru teringat saat dia dan Nay di rumah pantai. Setelah pergulatan dengan istrinya dia melihat banyak panggilan telepon dari Falista. Namun, karena sudah larut malam dan juga rasa lelah menyelimutinya setelah lima jam bertempur dengan istrinya, dia lupa untuk menelpon Falista kembali.
'Apakah dia menelponku untuk meminta bantuan? Oh, Tuhan. Seharusnya aku menelponnya kembali!' batin Sam.
Bersambung....
Terimakasih masih setia dengan kisah Samudra Nayna 🙏🙏🙏
Jangan lupa beri semangat otor dengan cara like, love, vote dan komentarnya yach 😊😊😊
__ADS_1
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰