
Nay hanya ingin tau apakah suaminya percaya bahwa dirinya baik-baik saja, namun dilihat dari reaksi Sam, membuatnya sedikit kecewa.
“Ha… ha…, mana ada seperti itu! Di sini kan ada sofa, jadi lebih nyaman kalau bicara disini,” ucap Sam dengan tertawa yang dipaksakan.
Apakah dia cenayang? Kenapa bisa tau yang ada di dalam otakku.
“Sam, bagaimana jika benar aku mewarisi penyakit ibuku?” ucap Nay dengan wajah yang sangat serius.
“Itu tidak akan terjadi, karena kamu jelas-jelas berbeda dengannya! apa kamu lupa bahwa kamu juga memiliki darah ayahmu? Ayahmu adalah orang baik, maka kamu jugalah orang baik.”
“Memang ada, yang bilang aku orang baik? Sepertinya tidak ada, kebanyakan orang bilang aku itu angkuh.”
“Angkuh juga salah satu sifat manusia.”
“Jadi aku angkuh?”
“Iya.”
“Wah kamu jujur sekali, mana ada suami memuji istrinya seperti itu.”
“Itu bukan memuji, tapi kenyataan.”
“Baiklah, lebih baik dibilang angkuh daripada memiliki penyakit kejiwaan!” ucap Nay tertunduk.
Sam menatap Nay yang menampilkan raut kesedihan.
“Nay, kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Maaf, tadi bukan aku mencurigai ataupun tidak mempercayai dirimu. Jujur saja, setelah mendengar cerita kisah ibumu, aku sedikit lebih waspada, tapi bukan karena aku menganggapmu sepertinya, melainkan yang aku takuti adalah kamu men-sugesti dirimu bahwa kamu sama seperti ibumu, padahal kamu berbeda Nay.”
“Bagaimana jika aku benar-benar menyakitimu, Sam?”
“Kalau begitu lakukan saja, seburuk apapun kamu memperlakukanku, aku tidak akan meninggalkanmu!” ucap Sam setulus hatinya, dia sudah mencintainya sangat lama dan tidak akan pernah melepaskannya.
“Apa aku bisa menganggapnya sebagai janji darimu?”
“Bukan hanya janji tapi sudah merupakan sebuah segel bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu!”
“Sam, terima kasih! Setelah tau asal usulku kamu masih mau bersamaku.” Ucap terimakasih Nay dengan penuh ketulusan.
“Kamu lupa lagi ya?”
“Apa?”
“Hiss …, kan sudah dibilang terima kasih bukan seperti itu.”
“Ha … ha … ha … dalam keadaan serius seperti ini masih saja mes*m.”
“Ayo cepat, berterima kasih yang benar.”
Cup, Nay mengecup pipi Sam.
“Nah, itu baru benar.” Sam mengacungkan jempol pada Nay. “Apa rencanamu kedepannya?”
“Rencana apa?”
“Maksudku, setelah semua terungkap apa kamu masih mau bertengkar dengan Nima?”
__ADS_1
“Kamu perhatian sekali dengannya?”
“Bukan perhatian dengannya tapi perhatian denganmu! aku ingin kamu memiliki banyak teman, mulailah dengan sepupumu itu. Aku tidak akan melarangmu berteman dengan siapa saja.”
“Benarkah?”
“Asal bukan laki-laki!”
“Itu namanya membatasi!”
Mereka melewati malam yang hangat, Sam bahagia akhirnya Nay dapat mencurahkan hatinya pada dirinya, tidak ada lagi yang di sembunyikan Nay padanya dan Sam bisa mendengar tawanya tanpa harus melihat dari kejauhan lagi. Nay sudah bergantung pada Sam, tidak perlu lagi pria lain untuk menaruh kepercayaaannya dan tidak perlu pria lain untuk membuatnya tertawa.
***
Pagi menjelang, matahari memberikan senyumnya, namun sepasang pengantin yang sudah tidak baru lagi masih asik terlelap hingga alarm di ponsel berbunyi.
Dritttt… Dritttt… Dritttt…
Nay membuka matanya setelah terbangun suara alarm, mencari ponsel dan terkejut melihat jam yang tertera.
“Jam delapan! Sam bangun kita kesiangan.”
“Sebentar lagi, aku masih mengantuk.”
Nay melepas pelukkan Sam, “Terserah kamu mau ke kantor atau tidak, tapi aku harus ke kantor!”
Nay masuk ke kamar mandi dan memulai aktivitas mandinya, setelah selesai dia masih melihat Sam yang masih memeluk bantal.
“Sam, bangun! kamu tidak siap-siap ke kantor?” Nay mendorong lengan Sam.
“Apa?” Nay melihat tanggal di ponselnya, benar saja dia lupa kalau hari ini hari minggu. “Ya sudahlah, karena aku sudah mandi lebih baik pergi jalan-jalan.”
“Kamu mau pergi kemana?” tanya Sam membuka matanya.
“Ke mall!”
“Nagapain?”
“Jalan-jalan, siapa tau ketemu teman baru, kan kamu sendiri yang bilang aku disuru perbanyak teman.”
“Kalau begitu aku ikut, kalau kamu sendiri, aku takut banyak lalat yang menghinggapimu!”
“Kamu pikir aku sampah dihinggapi lalat?” ucap Nay sebal.
Sam sadar telah salah bicara, “Ha? Eh… bukan itu maksudku! Maksudku kamu itu bagai sekuntum bunga!”
“Kalau aku sekuntum bunga, kumbanglah yang mendekat bukan lalat!” ucap Nay.
“Emang kamu suka dihinggapi kumbang?”
“Sudah jangan banyak bicara, kalau mau ikut cepat mandi! Jangan membuatku darah tinggi!”
“Iya, iya aku mandi.” Sam beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi sebelum menutup pintu dia berteriak, “Dasar burung tweety!”
“Sam!!!” teriak Nay sambil melempar bantal. “Mimpi apa aku bisa punya suami seperti itu!” gumam Nay.
__ADS_1
***
Setibanya di Mall, mereka berkeliling tanpa ada yang dibeli.
“Kita hanya mutar-mutar saja dari tadi, tidak adakah yang mau kamu beli?” tanya Sam.
“Tidak, aku hanya ingin cuci mata!”
“Kalau mau cuci mata dirumah saja, air banyak dirumah.”
“Ish, jangan cerewet, sepertinya kamu lebih mirip tweety daripada aku!”
Sam hanya terdiam mengikuti Nay hingga mereka berdiri didepan salon kecantikkan.
“Kenapa berhenti?” tanya Sam.
“Aku mau masuk situ.” Nay menunjuk salon di depannya.
“Kamu mau nyalon?”
“Bukan hanya aku, kamu juga.”
“Ha … ha … untuk apa pria ke salon? Apa pernah lihat pria gentle pergi ke salon?”
“Ini salon pria dan wanita, kamu bisa perawatan disini juga, kamu bisa facial treatment agar penampilanmu lebih menarik.”
“Jadi kamu malu jalan denganku?” tanya Sam agak emosi.
“Bukan malu, tapi biar aku lebih percaya diri saja membawa dirimu.”
“Itu sama saja! Ish, sudah kamu saja, aku tunggu di coffee shop saja, kalau sudah selesai hubungi aku.” Sam pergi meninggalkan Nay di dalam salon dan dia menuju coffee shop terdekat.
Nay masuk kedalam salon dan hanya melakukan satu perawatan. Setelah selesai, dia datang ke coffee shop dimana Sam berada. Dia membuka pintu coffee shop tersebut, mengedarkan matanya mencari suaminya, matanya berhenti mencari setelah melihat orang yang dicari, Sam memegang cangkir kopi dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang ponsel dan matanya tertuju pada ponselnya. Nay berjalan hingga di depan Sam, lalu memanggilnya, “Sam.” Sam menoleh melihat ke arah suara.
“Nay!” Sam terpukau dengan penampilan baru Nay, rambut panjang bergelombangnya sudah berganti dengan rambut lurus pendek sebahu.
“Kenapa? Tidak cantikkah?” tanya Nay.
“Bukan, tetap cantik hanya saja seperti bukan dirimu.”
“Apa harus kuubah lagi?”
“Tidak perlu, kamu terlihat lebih anggun, tapi kenapa kamu mengganti model rambutmu?
Nay duduk didepan Sam. “Aku hanya ingin mengubahnya saja, ingin membuat suasana baru.”
Nay ingin menjauhkan dirinya dari sosok ibunya, dia ingin sebisa mungkin mengubah fisiknya agar tidak terlihat seperti ibunya.
Bersambung.....
terima kasih yang masih setia dengan kisah samudra nayna..
jangan lupa like, masukkan favorite dan vote...
aku membawa rekomendasi novel oke nih!!!
__ADS_1