
Setelah mereka mengakhiri pertemuan dengan Enzo, mereka memutuskan untuk berjalan jalan menikmati kota dan tidak lupa mengisi perut mereka.
Selama mereka menikmati kota, tidak jarang mereka berselisih pendapat, terkadang tentang makanan atau tempat tujuan yang ingin mereka singgahi.
“Masih jauh Nay? Ini masih lurus saja?” tanya Sam mengendarai mobilnya.
“Seharusnya bentar lagi sampai, aku agak agak lupa! dulu terakhir kesini di awal aku kuliah,” sambil mengedarkan matanya ke jalan.
“Apa begitu enak mie nya?”
“Enak, mie paling enak yang pernah aku makan di Singapura, karena jaraknya jauh dan tidak ada yang menemani jadi aku tidak pernah berkunjung lagi, tempatnya sie biasa saja, di salah satu rumah penduduk.”
“Apa nama tokonya, kita bisa cari di internet alamatnya!”
“Tidak ada nama kedainya, dia jualan depan rumahnya.”
“Ini kan sudah malam, apa masih buka?”
“Dulu aku ke sana lebih malam dari ini."
“Knapa sepi sekali jalannya,” gumam Sam.
“Apa kita kembali saja? ini sudah pukul sebelas Sam, kita masih bisa kesini lagi besok,” usul Nay.
“Baiklah."
Mereka berencana untuk kembali ke hotel, namun tiba tiba mobil mereka mogok.
“Ada apa? kenapa berhenti?” tanya Nay.
“Entahlah, aku periksa dulu!”
Sam keluar dari mobil untuk memeriksa keadaan mobil, namun nay mengikuti keluar mobil, sam membuka kap mobil, “Kenapa kamu keluar?”
“Aku hanya ingin melihat,” jawab Nay.
Belum juga Sam memeriksa keadaan mobil, sudah ada mobil mini bus yang berhenti depan mereka, keluarlah enam orang dari dalam mobil dan menghampiri mereka.
“Who are you?” tanya Sam kepada mereka, tidak ada jawaban dan mulai mendekat kearah Sam dan Nay. Mereka merasakan ada yang tidak beres.
“Nay, setelah ku beri aba aba berlari lah secepat mungkin, aku akan menghalangi mereka,” ucap Sam dengan suara pelan.
“Bagaimana dengan mu?” tanya Nay.
__ADS_1
“Aku akan menyusul, kamu ada ponsel kan setelah aman cepat panggil polisi,” bisik Sam.
“What do you want?” tanya Sam lagi kepada para pria yang sedang berjalan semakin mendekat.
“That girl,” jawab salah satu pria itu.
“ He.. he.. just dream,” Sam hanya tertawa.
“Lari!" ucap Sam pada Nay, Nay pun lari sekuat tenaganya.
Mulai terjadi perkelahian diantara para pria, Sam memang memegang sabuk hitam taekwondo, tapi dalam keadaan seperti ini dia juga harus mempertimbangkan keamanan Nay, dia harus memperhatikan Nay agar tidak terluka, beberapa sudah dikalahkan oleh Sam, namun Sam melihat ada satu orang yang mengejar Nay.
Sam langsung berlari mengejar pria itu, setelah beberapa saat, Sam dapat menghentikan pria itu dan terjadilah perkelahian, dalam perkelahian sengit itu Sam mulai melihat teman teman pria itu sedang berlari kearah mereka.
Maka Sam putuskan untuk melarikan diri saja, Sam mulai melempar barang yang ada di sekitarnya untuk menghalau para pria yang mengejar mereka, dia mulai melempar tong sampah ke arah para pria tersebut dan juga menghalau dengan gerobak yang ada di sekitar situ lalu Sam berlari mengejar Nay.
Sam berhasil mensejajarkan larinya dengan Nay, melihat sebuah bangunan yang lebih cenderung seperti gudang, terlihat sedikit terbuka pada bagian pintunya lalu dia menarik Nay masuk ke dalam gudang tersebut. Gudang tersebut sangat tertutup, sangat pengap dan juga gelap, tidak ada cahaya sama sekali.
“Kita, sembunyi disini dulu!” ucap Sam.
“Uhm,” jawab Nay.
Baru beberapa menit di dalam gudang, Nay mulai merasa cemas dan kepanikan mulai melanda dirinya, claustrophobia nya kambuh. Penyakit phobia terhadap ruang sempit sudah mulai berkurang saat Ryawan dulu membantunya, Nay berhasil mengatasi claustrophobia, tapi hanya sebatas bisa berada di dalam ruang sempit dengan keadaan terang, maka dari itu saat ini nay tidak takut berada di dalam lift.
Namun saat ini keadaannya berbeda, dia berada di gudang yang tidak terlalu besar dan juga sangat gelap. Kegelapan dan di tambah ruang sempit masih membuatnya ketakutan.
Malam ini dia menggunakan pakaian model turtle neck di padu padankan dengan blazer, rasa sesak yang menghampiri dadanya dan pakaian model turtle neck yang membuatnya seperti tercekik, nay mulai memukul mukul dadanya, menarik narik bagian lehernya.
Merasakan pergerakan di samping, membuat Sam memperhatikan Nay, Sam memegang tangan Nay, merasakan rasa dingin dan juga rasa gemetar pada tubuh Nay dan juga ,Sam dapat merasakan bahwa Nay kesulitan bernafas.
“Ada apa dengan mu?” ucap Sam panik.
Dengan terbata Nay mulai menjawab, “claustrophobia.”
“Kamu mengidap claustrophobia? Kita harus keluar,” ucap Sam.
“di lu...ar pasti ma ...sih ad...a pria... pria… itu...,” ucap Nay kesulitan.
“Aku akan melindungi mu,!” Sam menarik Nay keluar dari gudang dengan mengendap-endap, namun naas para pria yang mengejar mereka sudah melihat mereka dan mulai menghampiri.
“Cepat telepon polisi!” ucap Sam.
Setelah keluar dari gudang kepanikan karena claustrophobia Nay sudah mulai berkurang namun digantikan dengan kepanikan akan perkelahian Sam dengan para pria yang mengejar mereka.
__ADS_1
Nay mulai menelpon polisi dan Sam terus berkelahi dengan para pria yang mengejar mereka sampai akhirnya "Blep…” sebuah belati mengenai perut Sam.
“Nay, lari!" ucap Sam.
Nay panik melihat darah yang membasahi kemeja putih Sam, namun dia seperti tidak merasakannya dan tetap berkelahi dengan para pria itu. Karena kondisi Sam yang terluka maka perlawanannya mulai melemah hingga dua orang lainnya mulai mengejar Nay.
Nay mulai berlari namun mendapati jalan buntu maka dia mencari cara lain, menemukan sebuah botol kaca seperti bekas botol minuman mengacung ke kanan dan kiri di hadapan dua pria yang mengejarnya.
“Ha.. ha.. ha... What are you going to do with the bottle?” para pria itu hanya tertawa mengejek melihat tindakan Nay.
“Don't come here or I'll beat you up,” ucap Nay.
"Ha.... ha.... ha....," tawa para pria itu.
Dan para pria itu terus menghampiri Nay, bukannya melawan para pria itu dia malah menghantamkan botol kaca ke kepalanya sendiri.
Prak..., darah mengalir dari kepalanya. Dalam benak nay, para pria itu menginginkan tubuhnya saja, daripada di tangkap para pria itu sebagai pemuas nafsu, dia lebih memilih mati.
“Crazy,” ucap salah satu pria itu.
Walau sudah sangat lemah, Nay masih memiliki sedikit tenaga saat pria itu mendekatinya , dia menggunakan sisa tenaganya, menggunakan pecahan botol untuk menggores lehernya.
Namun hal itu tidak terjadi karena Sam datang tepat waktu, sehingga Nay mengurungkan tindakannya, dan Sam mulai berkelahi dengan para pria itu.
Luka tertusuk di bagian perutnya membuatnya kesulitan dalam berkelahi dan akhirnya Sam lengah dan mendapatkan satu tusukan lagi di pundaknya.
Blep ..., suara daging tertusuk belati.
“Sam!” jerit Nay saat melihat Sam yang mulai melemah dan akhirnya terjatuh.
Beruntung saat Sam sudah tidak sanggup lagi melawan dua pria itu, mobil polisi datang untuk menolong mereka.
Mendengar mobil polisi datang, para pria tersebut mencoba melarikan diri, Nay sudah tidak peduli lagi dengan para pria itu, dia langsung berlari menuju Sam yang sudah terkapar di jalan, mengangkat kepalanya dan di letakan di atas paha Nay.
“Nay, apa kau baik baik saja?” Sam melihat darah yang mengalir dari kepala Nay.
“Hiks.. hiks.. luka ku tidak parah, seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu,” ucap Nay dengan berlinang air mata.
“Syukurlah kalau kau baik baik saja," ucap Sam lalu menutup matanya.
“Hiks.. hiks.., Sam… Sam.. Samudra… bangun....”
“Haa….. aaaa.. ha….. h…a…,” tangis histeris Nay pecah.
__ADS_1
Sekeras apapun Nay memanggilnya, Sam tetap menutup matanya…..
Bersambung………….