
Bibi Ana melihat Nay sudah sadar, dia keluar ruangan untuk memberi ruang kepada sepasang suami itu.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Sam sambil membantu Nay duduk. Nay langsung memeluk Sam dan menangis.
“Semua akan baik-baik saja Nay,” ucap Sam menepuk-nepuk punggung Nay.
“Apa aku jahat Sam?” Nay mendorong tubuh Sam agar ada jarak diantara mereka.
“Tidak, kamu bukan wanita jahat.”
“Aku hampir membu-nuhnya Sam, aku melempar vas bunga padanya, aku ingin dia mati!” Nay kembali menangis, menangisi keinginannya untuk menyakiti tantenya.
Sam tau, Nay bisa berbuat nekat, dia tega membakar semua lukisan Nima, pada saat penyerangan di Singapura pun, dia memilih melukai kepalanya dengan botol kaca dan jika Sam terlambat mungkin Nay sudah menancapkan pecahan botol ke lehernya.
“Sttt … kamu bukan wanita jahat! kamu hanya sedikit emosi, kita akan mengatasi semua ini bersama Nay, aku tidak akan meninggalkanmu.” Sam kembali memeluk Nay.
Nay teringat kakeknya. “Bagaimana keadaan kakek? Dia dibawa ke ruang ICU sebelum aku pingsan.”
“Aku juga belum tau, kamu mau kesana?”
“Iya.”
Mereka keluar ruangan menuju ruang ICU, di depan ruang tersebut ada Nima dan Bibi Ana.
“Bagaimana keadaan kakek?” tanya Nay.
__ADS_1
Nima menjawab pertanyaan Nay, “Kami belum tau, Paman Anton masih didalam.”
Tidak lama Anton keluar dari ruang ICU. “Tuan Adam baik-baik saja, sebentar lagi bisa di pindah ke ruang rawat inap biasa.”
Nay beralih kedepan pintu ruang ICU melihat dari kaca yang ada di tengah pintu menatap kakeknya yang sedang terbaring lemah. Setelah itu dia menatap Anton. “Katakan padaku Paman, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Tidak ada yang terjadi Nona.”
“Jangan bohong padaku!” jerit Nay, dia sangat ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi lalu beralih menatap bibi Ana. “Kumohon katakan yang sebenarnya terjadi, Bi!”
Bibi Ana menangis, dia lah saksi kejadian itu. “Anton, biarkan mereka tau yang sebenarnya!”
Akhirya Anton juga sudah tidak tega melihat Tuannya yang menaggung semuanya, dia putuskan membeberkan yang sebenarnya. “Baiklah, kita cari tempat duduk.”
Mereka tidak pergi ketempat yang jauh, melainkan masuk ke ruang inap kakek Adam sebelumnya, ruang VVIP yang lengkap dengan ruang tamu, sehingga mereka bisa bicara disana.
Anton mulai membuka mulutnya, “Baiklah, aku akan mulai dari pernikahan Nona Sinta.” Terdiam sebentar dan memulai ceritanya, “Sinta menikah dengan Riko, dia seorang pria biasa, seorang manager di sebuah restoran, pernikahan mereka sempat di tentang oleh Tuan Adam karena status Riko yang hanya pegawai biasa namun Sinta meyakinkan Tuan Adam bahwa yang terpenting adalah perasaan mereka. Setelah menikah, Riko diberi modal untuk membuka restoran sendiri, kehidupan mereka berjalan harmonis walaupun belum dikaruniai anak setelah menikah dua tahun, dan dalam satu tahun Sinta sempat mengalami keguguran dua kali. Di usai pernikahan mereka yang kedua, Bima datang membawa seorang perempuan yang akan dia nikahi, perempuan itu Ibumu Nona Nayna, Diska.” Anton menoleh menghadap Nay dan melanjutkan ceritanya.
“Mereka menghadap pada Tuan Adam untuk mendapat restu. Kala itu Tuan Adam sangat marah karena Diska adalah perempuan malam! Pertemuan Diska dan Bima dari sebuah bar, saat itu ada jamuan dari rekan bisnis, disana lah Tuan Bima jatuh cinta pada pandangan pertama pada Nona Diska, dia tidak pernah mempermasalahkan status Diska, yang penting baginya dia mau berubah.
Bima tidak pernah menyerah untuk meminta restu, Sinta juga memohon pada Tuan Adam agar kakaknya Bima dapat menikah dengan Diska. Perlu waktu satu bulan untuk meyakinkan Tuan Adam, orang yang paling berjasa atas pernikahan Bima dan Diska adalah Sinta, setiap hari dia terus menghadap pada Tuan Adam, dia sangat ingin melihat kakaknya bahagia, Bima adalah orang yang sangat bertanggung jawab, kesehariannya hanya untuk pekerjaan dan keluarga, pria yang sangat patuh pada Tuan Adam, saat masih sekolahpun dia hanya fokus belajar dan dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, Diska adalah cinta pertamanya.
Walaupun Nona Diska sempat mengusulkan untuk kawin lari, Bima menolak cara itu, dia lebih memilih terus memohon pada Ayahnya untuk mendapat restu, dengan di bantu Sinta akhirnya hati Tuan Adam meluluh, dia merestui Bima dan Diska, pernikahan di selenggarakan begitu mewah, seperti permintaan Diska. Itu tidak jadi masalah karena Bima mampu memenuhi keinginan Diska.
Kehidupan mereka sangat bahagia, Tuan Adam juga sangat bahagia, ternyata yang diucapkan Sinta benar bahwa yang terpenting adalah sebuah perasaan, tidak peduli menantunya Riko hanya pegawai biasa, juga tidak peduli Diska mantan pekerja malam, walaupun terkadang ada omongan yang tidak enak didengar karena memiliki menantu mantan pekerja malam, asalkan membuat anak-anaknya bahagia, omongan orang sudah tidak penting lagi.
__ADS_1
Kebahagian bertambah, saat Diska dan Sinta hamil bersamaan, mereka menjadi sahabat. Diska dan Bima tinggal dikediaman Rastian bersama Tuan Adam, dikarenkan kondisi di siang hari sepi jadi Diska sering ke apartemen Sinta untuk sekedar bercengkrama, mereka bagaikan sahabat yang sudah bersahabat cukup lama, begitu akrab. Sudah tidak ada yang mereka sembunyikan, Sinta sangat mempercayai Diska.
Pada suatu malam Sinta mencurigai suaminya berselingkuh, dia suka mencium parfum dibaju suaminya, tapi dia tidak memiliki bukti, dia selalu berpikir positif bahwa itu hanyalah sifat sensitif karena hamil. Hari kelahiran tiba, mereka melahirkan bersamaan. Diska melahirkanmu Nona Nayna, namun naas, nasib baik tidak berpihak pada Nona Sinta, setelah melahirkan bayi perempuan, tidak lebih dari satu jam, bayi itu meninggalkannya ke surga dan yang lebih membuatnya lebih depresi adalah rahimnya harus diangkat.”
Nima tersentak mendengar penuturan Anton, “Maksud Paman Anton … ?” dia tidak dapat melanjutkan perkatannya karena khawatir yang ada di pikirannya menjadi kenyataan.
“Maafkan saya Nona.” Anton melihat binar mata Nima yang sudah sangat berembun.
“Katakanlah Paman!” ucap Nima.
Anton tidak tega melihat Nima, tapi dia sudah tidak sanggup menutupi semua ini. “Kebahagian Tuan Bima dan Nona Diska tidak tertular pada keluarga Nona Sinta, dia sangat terpukul, dua kali keguguran dan setelah berhasil mengandung, bayinya malah tidak bertahan, membuat dirinya menjadi pendiam dan sering menagis. Disitu Tuan Adam merasa sangat sedih, dia datang ke panti asuhan dan mengadopsi seorang anak, yaitu kamu Nona Nima.”
Nima tidak bisa membendung air matanya, begitu mudah lolos dari mata teduhnya, “Jadi karena ini Kakek mengabaikanku? dia hanya menganggapku sebagai perawat Nyonya Sinta.”
“Dia tetap Ibumu!” bentak Anton, dia marah atas perubahan panggilan Nima yang menyebut Sinta menjadi Nyonya Sinta.
“Hiks … hiks …, tapi mengapa kakek terlihat sangat tidak peduli denganku?” tanya Nima.
Melihat tangis Nima, bibi Ana menghampirinya dan memeluknya. “Nona Nima tetaplah anak dari Nyonya Sinta, terlepas ada atau tidak hubungan darah dan kakek sangat menyayangi kalian.”
Nay yang melihat pun juga bersedih mendengar yang dikatakan oleh paman Anton, beruntung ada Sam disampingnya yang dapat dijadikannya sandaran.
“Lalu, kenapa Tante Sinta histeris saat bertemu dengan Nay?" tanya Sam.
Bersambung………
__ADS_1
Terima kasih masih setia dengan Sam dan Nay,
Jangan lupa dukungannya yach like n love :)