
Pria itu dan Nay sama sama menoleh ke sumber suara, Sam sudah berjalan menghampiri mereka.
“Sayang, kamu sudah pesan makan?” tanya Sam.
“Sudah,” jawab Nay.
“Maaf Nona, saya salah orang!” Laki laki tadi pergi tanpa jawaban dari Nay ataupun Sam.
Sam duduk di kursinya dan bertanya, “Siapa dia?”
“Tidak kenal, dia baru dateng terus bilang, ‘Hai, apa aku boleh duduk disini? Apa kamu sendirian?’, belum aku jawab kamu sudah datang.”
“Kalau aku belum dateng, kamu mau jawab apa?”
Nay melihat ada nada cemburu dari ucapannya, keinginan untuk mengerjainya muncul tiba tiba. “Nanti aku akan bilang, ‘Hai tampan, boleh duduk disini kok, kan ga ada aturan milik siapanya’, dia lumayan tampan Sam.”
“Berani ya dirimu? apa matamu buta? orang seperti itu di bilang tampan!” ujar Sam kesal.
“Ha.. Ha.., ya aku memang buta, mangkannya bisa menikah dengan orang sepertimu!”
“Emang aku orang seperti apa?”
“Nyebelin, emosian, cemburuan plus tukang ngatur!”
“Mana ada sifatku seperti itu?” Sam tidak menerima tuduhan Nay.
“Tapi bagaimana lagi, aku sudah terlanjur menyerahkan hatiku padamu!” ucap Nay dengan sedikit *******.
Sam menarik tangan Nay untuk menyentuh dadanya, “Kamu tidak perlu menyerahkan hatimu padaku, karena kamu, sudah ada di hatiku.”
Nay mengeluarkan kemampuan aktingnya, dia bicara sengaja dibuat buat seperti di sinetron. “Kalau begitu jaga hatiku baik baik, jangan pernah kamu menyakitinya.”
“Tidak perlu diminta, aku akan selalu menjaganya. Aku tidak akan membiarkan hatimu pergi dari hatiku karena aku akan mengikat hatimu di hatiku.” Sam berkata dengan mendramatisir.
“STOP! Sudah hentikan Sam, aku mual! jika dilanjutkan mungkin aku akan muntah beneran!”
“Ha.. Ha.., Iya benar kita alay banget!”
“Ha... Ha….” Mereka tertawa bersama.
Mereka melewati malam yang indah, makan malam yang tidak romantis namun membuat mereka tertawa lepas.
..........................
Pagi menjelang, matahari sudah memberikan senyum kepada dunia. Samudra dan Nay sudah bersiap untuk kerja hari ini.
“Sayang, sore ini aku ada meeting, aku akan minta sekretarisku menjemputmu ya?
“Tidak usah, aku bisa sendiri, hari ini aku bawa mobil saja.”
“Baiklah.”
“Ayo kita turun, yang lain mungkin sudah menunggu di meja makan!” ujar Nay.
Di meja makan sudah hadir semua anggota, mereka makan layaknya keluarga yang harmonis, di tengah canda mereka tiba tiba Nay teringat akan kakeknya.
__ADS_1
“Andaikan keluargaku seperti ini,” batin Nay.
Setelah sarapan, anggota keluarga bersiap untuk berangkat kerja, namun Nay di hentikan oleh mertuanya.
“Nay, tunggu sebentar!” teriak bu Retno berjalan mendekat.
“Ya, Bu.”
Retno tersenyum dan memberikan sebuah kotak untuk Nay, “Ini untukmu.”
“Apa ini Bu?”
“Bukalah.”
Nay membuka kotak tersebut, dia nampak terkejut melihat isinya.
“Ini, untukku?”
“Iya, pakailah! cincin ini adalah cincin turun menurun, aku juga diberikan oleh mertuaku dulu, sekarang sudah waktunya kamu yang memiliki.”
“Tapi Bu.. Aku rasa, aku belum pantas menerimanya.”
Sam berjalan menghampiri Nay, “Pakailah, Ibu sudah memberikan padamu.”
Nay melihat Sam dan Retno bergantian, mereka tersenyum pada Nay dan menganggukkan kepala menandakan bahwa Nay harus menerimanya.
“Terima kasih, Bu.”
“Sudah sepantasnya kamu mendapatkannya, sudah cepat pergi nanti terlambat!” Retno mendorong anak dan menantunya untuk berangkat kerja.
“Sam, hari ini aku mau menemui Nima.”
“Hari ini? tidak bisa besok kah? hari ini aku ada meeting penting jadi tidak bisa menemanimu!”
“Tidak apa, aku bisa sendiri.”
“Nay, apa yang akan kamu lakukan padanya? Bagaimanapun dia sepupumu, lebih baik bicara baik baik dulu.”
“Kamu tenang saja! aku tidak akan bertindak jauh, aku hanya akan menanyakan kepadanya, kenapa dia melakukan itu.”
“Baiklah, cepat hubungi aku jika terjadi apa apa.”
“Iya, kalau gitu aku pergi dulu ya.”
Nay berjalan menuju mobilnya tapi tangannya tidak di lepaskan oleh Sam.
“Kenapa?” tanya Nay.
“Pamitnya belum?”
“Bukannya tadi aku sudah bilang akan pergi!”
“Bukan begitu!” Sam menarik Nay, lalu memeluknya erat, “Seperti ini kalau pamit.”
“Ya ampun, kaya tidak ada tempat lain saja, kalian mengotori mataku, tau!” Zima yang tiba tiba datang melihat pemandangan dua sejoli yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
“Berisik! Sudah sana pergi!” usir Sam.
Zima meninggalkan pasangan dimabuk asmara itu dan berteriak, “Terserah kalian deh mau seperti apa, anggap aja dunia ini milik kalian.”
Nay hanya tersenyum mendengar ocehan kakak iparnya itu, berbeda dengan Sam yang kesal karena merasa keromantisan mereka terganggu.
…....
Jam sudah menunjukan pukul empat sore, Nay sudah menyelesaikan pekerjaannya. Itu dilakukan karena ingin pergi menemui Nima, dia sudah membuat janji temu ditempat yang sudah di sepakati mereka.
Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di sepanjang perjalanan, Nay melihat orang orang yang berada di jalan, melihat ada pengamen di dekat lampu merah, ada seorang ayah dan anaknya menunggu bis sambil tertawa lepas, abang ojek online yang sedang membawa penumpang, ada pula pedagang bakso sedang mendorong gerobaknya.
Setiap orang memiliki cobaan dan ujian yang berbeda beda. Nay berfikir, apa cobaan orang orang yang tadi dilihatnya? Dia memang hidup dengan berkecukupan, namun penuh tekanan, keluarga yang tidak harmonis dan sekarang dia tau, siapa orang yang memfitnahnya.
“Apakah cobaanku adalah keluargaku sendiri!” ucap Nay pada diri sendiri.
Kalau bisa memilih, dia lebih memilih hidup sederhana namun memiliki keluarga yang harmonis. Tapi jika melihat dari keluarga Sam yang harmonis dan serba berkecukupan rasanya Tuhan sangat baik terhadap keluarga Sam. Jika seperti itu, apakah keharmonisan juga bisa di katakan cobaan?
Biarlah Tuhan yang mengatur segalanya, Nay sudah tidak mau memikirkannya lagi, dia kembali memfokuskan pikirannya untuk mengemudi, sampailah dia ditempat tujuan. Tempat yang dinamai bengkel seni.
Membuka pintu yang tidak terkunci, dia melihat Nima sedang di depan kanvas, tangan kirinya memegang palet cat dan kuas ditangan kanannya. Nima tidak menyadari ada yang datang, maka dari itu Nay mengetuk daun pintunya.
Nima menoleh, “Kamu sudah datang?”
“Seperti yang kamu lihat,” jawab Nay.
Nima meletakkan peralatan melukisnya lalu beralih mendekati Nay.
“Duduklah!” ucap Nima.
Mereka duduk berhadapan.
“Apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?” tanya Nima.
Nay adalah orang yang tidak suka berbasa basi, maka dari itu dia langsung ke intinya.
“Enam tahun yang lalu, kamu lah yang membuat rumor aborsiku!”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
Nay melempar map ke atas meja, Nima mengambilnya dan membukanya. Wajahnya pucat setelah melihat isi di dalamnya.
“Ini…,” Nima sudah tidak dapat melanjutkan perkataannya.
“Sekarang kamu tidak bisa mengelak!” Nay menegakkan punggungnya. “Kenapa kamu melakukannya, Nima?”
Apa yang ditakuti Nima datang, kebohongannya akan terbongkar. Nay mengetahuinya sekarang, dia tidak tau apa yang harus dikatakan pada Nay.
Bersambung.............
Hai pecinta Samudra dan Nayna jangan lupa kasih saran dan kritik yach... karna aku sangat butuh masukan kalian semua...
Jangan lupa like, Fav dan Vote juga.
Hari ini aku mau info novel temenku nich, karya dari Faiz Bellz, judulnya Cinta Kedua. Jangan lupa mampir ya...
__ADS_1