SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 34 Apa Kak Zima tidak membenciku?


__ADS_3

Setelah meeting selesai, Sam terus menelpon ke nomor Nay, namun tidak ada jawaban. Dia memutuskan untuk menelpon Zima.


Ponsel Zima berdering dengan ring tone lagu , we don’t talk anymore milik Charlie Puth. Zima mengangkat teleponnya.


“Hallo, Sam.”


“Kau dimana?” tanya Sam.


“Di rumah, kenapa?”


“Apa Nay sudah pulang?”


“Belum! Ku kira pulang denganmu?”


“Dia pergi ke tempat Nima, aku takut terjadi apa-apa dengannya!”


“Untuk apa dia kesana?” tanya Zima.


“Tentang kasus aborsi yang dialami Nay dulu, ceritanya panjang!” Sam enggan cerita lebih banyak karena baginya menemukan Nay lebih penting.


“Lacak saja nomor teleponnya, aku akan ke tempat Nima untuk mencari tau apa yang terjadi!”


“Oke!” Sam langsung memutuskan panggilan teleponnya.


Zima langsung mengambil kunci mobil dan melaju ke kediaman Nima, setibanya di kediaman Nima, dia melihat jam tangannya, sudah cukup malam untuk bertamu, dia putuskan untuk menelponnya, pada dering pertama sudah diangkat.


“Hallo,” sapa Nima.


“Nima, apa kamu bisa keluar sebentar? Aku ada di luar rumahmu!”


“Kak Zima kenapa kesini?”


“Kamu mau aku yang masuk atau kamu yang keluar?” Zima tidak menjawab pertanyaan Nima, malah balik bertanya.


“Aku yang akan keluar, soalnya ibu sudah tidur, aku tidak ingin membangunkannya.”


“Baiklah, aku tunggu!”


Nima keluar rumah, dia melihat mobil Zima di parkir di luar gerbang rumahnya.


Tok Tok Tok, Nima mengetuk kaca mobil Zima, Zima membukakan pintu mobil dan Nima masuk kedalamnya.


“ Ada apa Kak Zima kesini?” tanya Nima.


“Emm … maaf aku malam malam bertamu! Aku dapat kabar dari Sam, bahwa hari ini Nayna menemuimu.”


“Iya, Kak.”


“Dia belum pulang sampai sekarang,” ucap Zima.


“Dia seharusnya sudah pulang tiga jam yang lalu, Kak!” kata Nima.


“Sebenarnya apa yang terjadi?”

__ADS_1


“Tidak ada!”


“Nima, kamu bisa cerita padaku! Aku akan mendengarkanmu!” Zima mengubah posisi duduknya untuk menghadap Nima dan dengan kedua tangannya menyentuh bahu wanita di depannya itu.


“Apa yang Kakak mau tau?”


“Apa yang bisa kamu ceritakan?”


“Aku … .” Nima tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, dia tidak tau harus memulai dari mana.


“Ceritakan saja dari kasus aborsi Nay!”


Nima menatap manik wajah Zima, ada tatapan penuh keseriusan disana, dia ragu untuk mengatakan yang sejujurnya, dia takut Zima membencinya. Namun seperti apa yang dibilang Nay tidak akan mungkin menyimpan bangkai selamanya karena baunya pasti akan tercium.


Dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya dia membuka suaranya, “Aku … yang memfitnah Nay.”


Zima sedikit terkejut dengan penuturan Nima, namun dia bisa dengan mudah mengontrol emosinya! entah apa yang terjadi pada dua saudara sepupu ini, dulu Nay membakar semua lukisan Nima dan sekarang , dia tau Nima memfitnah Nay dengan kasus aborsi.


“Apa yang dia lakukan padamu? apa kamu terluka?” beruntun pertanyaan keluar dari mulut Zima sambil menyentuh kepala Nima, memastikan tidak ada yang terluka.


Nay terkejut dengan apa yang di dengarnya, Zima menanyakan dirinya! Sungguh di luar dari apa yang dipikirkannya. “Aku tidak apa-apa Kak.”


“Syukurlah, aku takut terjadi apa-apa denganmu! aku ingat dulu dia membakar semua lukisanmu.”


“Apa Kak Zima tidak membenciku?” tanya Nima ragu.


“Saat mendengar pernyataanmu, jujur aku sedikit terkejut! Tapi aku kira kamu sama dengan Nay, kalian berdua penuh dengan masalah sepertinya.”


“Kamu bisa cerita apapun denganku.”


“Apa Kakak mau mendengarkan ceritaku?” Nima meragukan telinganya sendiri saat Zima mau menjadi pendengarnya.


“Tentu saja, sebenarnya apa yang terjadi?”


“Nay mengajakku bertemu, kami bertemu di bengkel seniku, dia membawa semua bukti bahwa aku yang memfitnahnya.”


“Lalu?” ucap Zima.


“Dia hanya bertanya kenapa aku melakukannya, aku bilang yang sejujurnya bahwa aku iri dengannya! iri dengan prestasi akdemisnya, kecantikannya dan juga semua perhatian kakek hanya tertuju padanya! Karena itu aku melakukannya.” Nima bercerita dengan menundukkan kepalanya, betapa buruk dirinya yang memiliki rasa iri dan dengki. “Apa aku begitu jahat Kak?”


“Setiap orang punya kesalahan Nima, bagaimana cara kita memperbaikinya saja!”


“Aku merasa sangat buruk, Kak!” Nima mulai meneteskan air matanya.


Zima mengeluarkan sapu tangannya dan mulai mengelap air mata gadis di depan matanya itu. “Sudah, jangan menangis lagi!” masih dengan mengelap air mata Nima.


“Sebenarnya tidak ada pertengkaran diantara kami, Nay pun bilang bahwa dia juga iri padaku. Dia iri karena aku bebas menentukan apapun yang aku inginkan, sedangkan dia harus mengikuti apapun perintah kakek.”


“Jadi tidak ada pertengkaran diantara kalian?”


“Tidak ada! aneh bukan kami memiliki rasa iri satu sama lain, kami merasa kami hanyalah anak-anak angkat saja. Nay yang selalu di tuntut dalam bidang akademis, seperti dipersiapkan untuk meneruskan perusahaan padahal aku tau dia ingin menjadi guru TK. Sedangkan aku, kakek tidak pernah bertanya kabarku, kakek hanya memperhatikan ibuku, seperti seolah olah aku adalah perawat ibuku! padahal tanpa diminta pun, aku pasti akan merawat ibuku.”


“Kalau begitu kenapa Nay belum pulang? Sam sedang mencarinya, tidak mungkin kalau tidak ada masalah dia tidak ada kabar.”

__ADS_1


“Kak Zima!” panggil Nima.


“Ya.”


“Dia memang tidak bertengkar denganku, tapi dengan ibuku!”


“Ibumu?”


“Ya, ibu tiba-tiba datang untuk mengantar makanan untukku, namun dia langsung histeris, memaki Nay dan ingin melukainya!”


“Memangnya ada masalah apa dengan tante Sinta?”


“Entahlah Kak, aku juga tidak tau. Setiap melihat Nay dia seperti itu, mungkin karena itu kami tidak pernah kumpul keluarga.”


“Ibumu mencaci seperti apa? kalau jarang bertemu, bisa punya masalah apa?”


“Ibu berteriak, Nay wanita penggoda, wanita ular dan …” Nima tidak melanjutkan bicaranya, dia teringat sesuatu.


“Kak! Ibu bilang, ‘Pantas mati, seharusnya kamu yang mati bukan kakakku! Dasar wanita ular!’ itu yang dikatakannya. Dia tidak pernah memanggil Nay dengan namanya, Kak!”


“Maksudmu? cacian yang dilontarkan ibumu bukan untuk Nay?” tanya Zima.


“Iya, seperti melihat orang lain dalam diri Nay, aku bahkan pernah bertanya pada kakek namun tidak ada jawaban! Sebenarnya aku juga curiga, semenjak kecil aku menemani ibuku berobat di Amerika, padahal hanya sakit darah tinggi tapi kami di kirim kesana. Setelah aku besar, aku baru tau bahwa selama berobat ibu ditangani oleh psikiater!”


“Sepertinya ada yang disembunyikan kakekmu! Apa ibumu terpukul karena kematian kakaknya? bukankah orang tua Nay meninggal kecelakaan? Ayahmu juga meninggal bersama mereka, bukan?”


“Ya, yang kami ketahui seperti itu, usia kami baru empat tahun, jadi kami tidak terlalu mengingat peristiwa itu.”


“Apa ibumu tidak pernah cerita?”


“Tidak, dan aku enggan bertanya karena dia suka histeris, dokter yang merawat ibu juga bilang, jangan membuatnya tertekan! aku hanya berusaha agar dia bahagia, dia suka melihat lukisanku.”


“Aku rasa, kita harus mencari tau!” ujar Zima.


“Kakak mau membantu?”


“Tentu saja!” Zima tersenyum pada Nima.


Ponsel Zima berdering, Sam yang menelponnya.


“Aku sudah mengetahui keberadaan Nay, aku sedang menuju lokasi! apa kamu sudah bertemu Nima?” tanya Sam.


“Ya, dia disampingku! Kamu fokus saja dengan Nay, tidak ada pertengkaran dengan Nima, namun tante Sinta lah yang bertengkar dengan Nay.”


Bersambung....


Jangan lupa like and love nya yach…. Kalau berkenan vote nya juga.


Mohon maaf jika masih banyak kesalahan dalam menulis, maklum baru pertama menulis.


Jika berkenan kasih saran dan kritik donk…. Biar tambah oke nich cara menulisnya.


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2