SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 25 Pengakuan Bag 2


__ADS_3

Nay mengangkat kepalanya saat mendengar suara Sam, pandangan mereka bertemu, mereka saling tatap sejenak.


“Kamu sudah sadar?” tanya Nay.


Sam hanya mengangguk, “Apa kamu masih menyukaiku?” tanya Sam ulang.


“Kamu membohongiku! Kamu tidak koma kan?” ucap Nay dengan marah sambil memukul lengan Sam.


“Auw…,” jerit Sam kesakitan, “pundak ku masih sakit jangan pukul.”


“Maaf, maaf," ucap Nay dengan rasa bersalah.


Menatap kembali pada Sam, “Lagian kamu nyebelin, kamu bersekongkol dengan Bian untuk mengerjai ku kan? Pakai alasan luka di perut mengakibatkan kerusakan otak lah, aish… benar benar menjengkelkan kenapa dulu aku menyepelekan pelajaran IPA,” ucap Nay kesal.


Sam menarik lengan Nay dan menggenggamnya, “Tadinya aku bekerjasama dengan Bian untuk mengerjai mu, aku hanya ingin melihat ekspresi mu saja.”


Sam diam sejenak dan melanjutkan bicaranya.


“Tapi kamu masih menyukaiku kan?” tanya Sam lagi.


“Kata siapa? Mana mungkin menyukai orang menyebalkan sepertimu!” jawab Nay.


“Lalu kenapa kamu menangis sangat sedih seperti itu?” tanya Sam penasaran, lalu melepas genggaman tangan Nay dan merubah posisi dari tidur menjadi duduk.


“Kalau tidak menangis, aku harus apa? Dalam keadaan seperti itu walaupun bukan kamu yang terluka aku pasti akan ketakutan dan pasti akan menangis juga!” jawab Nay.


“Benarkah?” ucap Sam dengan nada sedikit kecewa.


“Uhm,” jawab Nay.


Sam menatap Nay dengan putus asa, “Semua yang di katakan Bian benar, kecuali tentang aku koma. Kamu adalah wanita satu satunya yang ada di hatiku, wanita yang aku cinta dan juga wanita yang aku benci!”


Akhirnya Sam mengalah dan mengakui perasaannya lagi.


“Apa kamu sedang menyatakan cinta?” tanya Nay.


“Uhm, lagi pula aku yakin tidak ada kamera disini jadi kamu tidak bisa mempermalukan aku lagi!” jawab Sam lugas.


“Tapi benar, dulu kamu sempat mengalami depresi?” tanya Nay lagi.


“Kenapa bertanya lagi, kan aku sudah bilang semua yang dikatakan bian benar kecuali tentang aku koma!” jawab Sam.


“Apa cintamu padaku sebesar itu sampai membuatmu gila?” tanya Nay penasaran.


Dia harus memastikan dulu bahwa Sam benar benar serius atas perasaannya, setelah yakin Nay akan mengutarakan cintanya pada Sam.


“Aish… apa kamu sebagus itu sampai harus membuatku seperti itu? Aku hanya depresi ringan Nay”. Ucap Sam kesal.


“Sebenarnya kamu suka aku tidak, kenapa jadi marah marah begitu?” tanya Nay sama kesalnya.


“Ya abis, kamu bilang aku gila! Itu adalah bentuk penghinaan, sekarang itu sudah tidak boleh menyebut 'Orang Gila' pada pasien gangguan jiwa, sekarang itu disebut 'ODGJ' Orang Dengan Gangguan Jiwa!” jelas Sam.


“Oke, oke, tapi kamu menjadi ODGJ karena aku kan?” tanya Nay antusias.

__ADS_1


"Mengapa harus kembali membahas itu lagi? Memangnya kamu mau punya suami ODGJ?


Nanti nih ya, kalau kita pergi bersama dan bertemu temanmu, lalu temanmu bertanya aku siapa dan aku hanya menjawab dengan tertawa terbahak bagaimana? Apa kamu tidak malu?” ucap Sam frustasi.


Nay membayangkan ucapan Sam, “Ah... tidak, tidak, sudah jangan bahas ODGJ lagi," ucap Nay.


“Kalau gitu kita bahas hubungan kita saja, kamu menyukaiku kan?” tanya Sam lagi, dia harus mendengar dari mulut Nay langsung.


“Apa kamu benar menyukai ku?” Nay bertanya balik.


“Kenapa jadi muter muter gini sih, aku kan sudah bilang hanya kamu yang aku suka, sekarang permasalahannya ada di kamu! kamu suka aku tidak?” ucap Sam panjang lebar.


“Kan aku sudah bilang, tidak mungkin menyukai pria menjengkelkan sepertimu!" Nay berkata dengan nada tinggi.


“Bohong! Kalau tidak suka aku, tidak mungkin kamu kemarin menangis seperti itu,” bales Sam.


“Terserah kalau tidak percaya, aku juga tidak memaksamu untuk mempercayaiku." Nay membuang mukanya kesal.


“Dasar pembohong, kamu menyukaiku, ini adalah buktinya." Sam menarik Nay dengan tangan yang terbebas dari selang infus untuk lebih mendekat dengan nya, lalu menciumnya.


Sam melepaskan setelah puas, “Kamu tidak pernah menolak saat aku cium," ucap Sam dengan senyum kemenangan.


“Itu bukti kamu menyukai ku," sambung Sam.


“Kamu yang memaksaku,” kata Nay.


“Tapi wajahmu merona! Sudah akui saja ga usah terlalu banyak drama biar permasalahannya cepat selesai. Ayo cepat katakan!” ucap Sam kesal.


Sam diam menunggu perkataan yang akan keluar dari mulut Nay.


Akhirnya keluar suara dari mulut Nay, “Aku menyukaimu,” ucap Nay dengan suara kecil.


“Kamu bilang apa?” tanya Sam.


“Tidak ada siaran ulang,” ucap Nay.


“Katakan lagi,” paksa Sam.


“Tidak mau, dasar menyebalkan!” Nay bersih keras untuk tidak mengulangi perkataan nya lagi.


“Aku cium lagi nih ya?” ancam Sam.


“Jangan, baiklah aku akan mengatakannya lagi, mengumpulkan keberanian, menarik nafas dan mengucapkan, “AKU MENYUKAIMU, sudah puas?” ucap Nay kesal.


“Puas,” jawab Sam lalu kembali mencium Nay lagi.


Nay mendorong Sam untuk melepaskan diri darinya, “Kenapa mencium ku? Bukannya kamu tidak akan mencium ku jika aku bilang menyukaimu?”


“Iya memang benar, tapi yang tadi sebagai tanda bukti bahwa kita saling menyukai!” ucap Sam.


“Dasar kekanakan,” ucap Nay.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat dan mendengar pembicaraan mereka di sela pintu yang terbuka, niat Bian kembali ke kamar Sam, namun dia mendengar pertengkaran mereka, jadi dia memutuskan untuk diam di depan pintu.

__ADS_1


"Apa benar mereka adalah orang dewasa? Mengapa lebih kekanakan dari anak SMP yang baru mengenal cinta. Ish… menjengkelkan" batin Bian.


Lalu menutup pintu kembali dan meninggalkan pasangan yang menurutnya menyebalkan itu.


………………………


Selama Sam dirawat di rumah sakit, segala keperluannya Nay yang mengurusnya.Mereka masih di Singapura, untuk pekerjaan Sam, sudah ada Bian yang mengurusnya dan untuk pekerjaan Nay di Jakarta sudah ada sekretarisnya yang mengurusnya namun terkadang Nay masih harus datang langsung ke kantor cabang yang ada di Singapura, jadi dia tidak bisa dua puluh empat jam menjaga Sam.


Zima datang mengunjungi Sam di saat Nay sedang berada di kantornya.


“kamu sudah mulai membaik? Dimana Nay?” ucap Zima.


“Nay sedang ada di kantornya, kenapa kesini? Pasti Bian yang memberitahumu! Kamu tidak memberi tahu ayah dan ibu kan?” ucap Sam.


“Tentu saja tidak memberitahu ayah dan ibu, bukan Bian yang bilang tapi Nay!” jelas Zima.


“Apa!” ucap Sam.


"Sedekat itu kah mereka," batin Sam.


“Bagaimana orang orang yang menyerang mu?” tanya zima


“Bian bilang mereka sudah di tangkap, masuk ke dalam kasus penganiayaan dan perampokan," jawab Sam.


“Emm,” ucap Zima.


Sam dan Zima sama sama terdiam begitupun pikiran mereka, bahwa mereka tidak percaya itu murni kasus perampokan saja.


“Tapi lukamu tidak parah kan?” Zima memecah keheningan.


“Sudah mulai membaik” jawab Sam.


“Kapan kamu akan pulang?” tanya Zima lagi.


“Tunggu dokter membolehkan aku pulang, mungkin tiga hari lagi," jawab Sam.


“Apa perlu aku disini mengurus mu?” tanya Zima.


“Tidak perlu, aku punya istri yang mengurusku, sudah pulang saja sana!” Usir Sam.


“Ais..., mentang mentang punya istri!” ucap Zima kesal.


“Sudah jangan mengganggu terus, aku butuh banyak istirahat, pergi sana!” Sam berkata.


“Baik, baik, aku pergi, mumpung disini aku mampir ke kantor Nay dulu saja,” ucap Zima menggoda.


“Tidak perlu kamu mampir, jangan ganggu pekerjaannya!” ucap Sam.


“Baiklah, aku pulang tidak akan mengganggu Nay."


Setelah itu Zima benar benar pulang tanpa mampir ke kantor Nay.


Bersambung………………..

__ADS_1


__ADS_2