
Nay menunggu di Bandara, hari ini adalah kepulangan Sam, dia tidak sabar bertemu dengan suaminya. Tersenyum, melihat dari kejauhan, Sam berjalan semakin mendekat padanya. Mereka berpelukan lama, tidak peduli jika banyak mata yang memandang mereka, toh, mereka adalah sepasang suami istri resmi.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Sam masih memeluk Nay.
“Aku pun merindukanmu!” Nay melepas pelukan mereka, “Ayo kita pergi.”
Mereka melangkah pergi meninggalkan Bandara, setibanya di dalam mobil, Sam langsung menarik tengkuk Nay, dia ******* bibir yang ia rindukan selama beberapa hari ini. Mereka berciuman cukup lama.
“Ayo, kita pergi,” ucap Nay setelah ciuman mereka terlepas.
Sam tersenyum dan melajukan kendaraannya, Nay melihat arah jalan mereka, tidak menuju ke rumah mereka. “Sam, ini bukan jalan pulang!”
“Iya, aku tau. Aku mau mengajakmu kesuatu tempat.”
“Kemana?”
“Nanti kamu akan tau.”
Nay tidak bertanya lagi, dia mematuhi perkataan Sam. Hingga, tibalah di tempat tujuan.
“Apa ini, Sam?” tanya Nay, matanya memandang rumah indah yang ada di hadapannya. Rumah yang berada di area pantai yang berhadapan langsung dengan laut. Bukan rumah yang besar. Namun, elegan dan cukup untuk sepuluh orang tinggal didalamnya.
“Rumah ini, aku siapkan untukmu.”
“Sam, tapi kenapa?”
“Aku hanya ingin memberikannya padamu, aku tau kamu sangat suka laut. Jadi, aku siapkan ini semua.”
Nay langsung memeluk Sam, dia terharu dengan apa yang dilakukan Sam untuknya, “Sam, terima kasih.” Nay mengecup sekilas pipinya, dia tidak lupa ajaran Sam tentang berterima kasih.
“Ayo, kita masuk,” ajak Sam.
Mereka masuk ke dalam rumah, rumah dengan nuansa putih dan biru sesuai dengan warna kesukaan Nay, ada piano di tengah ruang keluarga, semua ornamen yang ada di sana, sesuai dengan kesukaan Nay. Dia benar-benar bersyukur memiliki suami seperti Sam. Dia bukanlah tipe lelaki yang dingin seperti kebanyakan CEO, dia lelaki yang humble, mudah bergaul dan tidak pernah membedakan status orang lain. Terlebih lagi, dia setia.
“Apa kamu suka?” tanya Sam.
“Suka, suka, suka.” Nay mengucapkan sampai tiga kali kata suka.
“Ayo, keliling lagi.”
__ADS_1
Mereka berkeliling setiap sudut ruangan, dari halaman depan sampai taman belakang. Banyak bunga di taman belakang, bunga mawar berwarna putih dan merah. Hingga, mereka tibalah di kamar utama.
“Wah, kamarnya indah sekali. Sam, benar ini kamar kita?”
“Tentu saja.”
“Apa tidak terlalu berlebih? Ini seperti kamar seorang putri kerajaan.”
Sam mendekat dan memeluk Nay dari belakang, “Karena kamu memang seorang putri, jadi kamu pantas mendapatkannya.”
“Bukannya kamu bilang aku ini adalah seorang Ratu?”
“Baiklah, baiklah, kamu adalah Putri yang sudah menjadi Ratu dari Raja Samudra.”
“Dasar! Bisa saja gombalnya. Oh ya, tempat ini jauh dari kantor, kalau kita tinggal disini agak sedikit repot.”
“Rumah ini, hanya kita gunakan untuk berlibur saja.”
“Baiklah kalau begitu. Ayo, kita pulang. Saat liburan kita ke sini lagi.”
“Pulang sekarang?” tanya Sam.
“Setidaknya di coba dulu yang ada di sini.”
“Coba apa?”
“Coba ranjangnya!” Sam langsung mengangkat Nay menuju ranjang, sudah berhari-hari dia puasa, tidak mungkin baginya harus berpuasa lagi. Merebahkan Nay, mulai menciumnya, dari bibir hingga turun ke bawah, tidak ada penolakan dari Nay, hanya ada sambutan yang sangat baik, dia juga sangat merindukan Sam.
***
Tiba waktunya di rumah, saat mereka tiba, sudah melewatkan jam makan malam. Nay mampir ke dapur untuk mengambil minum dan Sam mengikuti di belakangnya.
“Kamu ngapain ikutin aku?” tanya Nay.
“Kamu ke sini, ya aku ikutin. Emang kamu mau apa?” ucap Sam.
“Mau ambil minum, kamu mau?”
“Ya sudah, sekalian saja.”
__ADS_1
Mereka berjalan ke dapur, ada jendela kaca yang besar dan juga pintu kaca yang terhubung dengan taman belakang. Taman yang hanya disinari beberapa lampu taman yang redup.
“Sam, sepertinya ada orang di gazebo! Sepertinya ada dua orang!” ucap Nay sambil menunjuk ke arah gazebo yang kebetulan lampu taman dekat gazebo mati.
“Mana ada? Kalau ada orang pasti ada suaranya.”
“Jangan-jangan maling!”
“Di depan banyak penjaga, tidak mungkin dengan mudahnya masuk ke sini.”
“Lalu, itu siapa? Kenapa bersembunyi di sana?”
“Mana aku tau, jangan-jangan makhluk halus.”
“Sembarangan!” Nay memukul bahu Sam.
“Biar aku hampiri mereka, aku juga takut itu penyusup.”
Nay mengambil wajan teflon dan memberikannya kepada Sam, “Bawa ini, untuk jaga-jaga.”
Sam mengambil wajan tersebut, “Kamu di sini saja.”
“Aku mau ikut, aku akan di belakangmu.”
Mereka melangkahkan kaki mereka ke taman belakang, berjalan mengendap-endap bagaikan pencuri, membuka pelan pintu yang sudah sedikit terbuka, yang menghubungkan dapur dengan taman belakang. Tidak ada suara dari orang yang berada di gazebo, hanya ada suara decakan.
Hanya berjarak kurang dari dua meter, Sam berteriak, “Siapa kalian?”
Bersambung….
Terimakasih masih setia dengan Samudra Nayna 😘
Jangan lupa dukung othor dengan like, love, vote dan komentarnya..
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
Rekomendasi novel hari ini, Terjerat Rindu Mafia, punya othor kece Faiz Bellz.. jangan lupa mampir yah 😊
__ADS_1