
Sam terus memeluknya dan berkata, “ Sudah tidak apa, ada aku di sini.” Namun Nay seperti sudah menjadi gila, Sam membujuknya tetap tidak membuatnya tersadar. Sam tau selama ini Nay seperti menahan sesuatu. Namun ia enggan untuk bertanya. Meyakinkan dirinya bahwa istrinya baik-baik saja. Dia pernah melihat ekspresi Nay saat membakar lukisan Nima, tanpa ragu memecahkan botol ke kepalanya. Sampai, tidak ada rasa ketakutan saat melihat banyak manusia tergeletak tak bernyawa saat pertikaian kelompok Viktor dan Justin terjadi, bukan Sam tidak melihat ekspresi Nay, dia melihat semua mimik muka Nay. Namun dia hanya diam saja.
Hidup Sam begitu sempurna saat menikah dengan Nay terlebih mereka sudah saling mencintai, hanya saja saat ini, dirinya lah yang membuat wanita yang di cintainya berbuat sesuatu yang kejam. Semua karena Sam, membuat Nay hilang kendali. Dia tidak pernah sekejam ini sebelumnya, bahkan saat masih membenci Sinta, dia masih bisa mengontrol emosinya. Dia masih mencelakai tangannya saat pertemuan di restoran bersama Falista. Namun, hari ini semua lepas kendali. Demi Sam, dia rela membiarkan dirinya menjadi hampir seperti seekor binatang buas.
Tangan Sam memeluk Nay begitu erat dan semakin mengencang, tetapi dengan gerakan begitu lembut. “Nay, aku mencintaimu. Tidak peduli kau seperti apa!” Sam menutup matanya. Namun air mata terus mengalir. Cinta memang sulit dimengerti, terkadang manusia dibutakan dengan namanya cinta.
Nay mulai menyadari sesuatu, perkataan cinta Sam terdengar olehnya, Gigitannya mulai dilonggarkan, tatapan matanya masih kosong, kebingungan tampak di wajahnya. Melihat Nay seperti itu, Sam langsung menggendongnya dan menjauhkan dari Falista. Dia meletakan Nay di atas ranjang. Sam mengerutkan dahinya, melihat banyak darah di mulut Nay, menggunakan tangannya dan mengelap sisa darah di mulut Nay. Tiba-tiba tubuh Nay bergetar hebat, menunjuk Falista yang terbaring di lantai. “A—ku menggigitnya! Hiks … hiks ….” Nay menangis histeris. Sam refleks memeluknya. “Ada aku, ada aku, tenanglah.” Sam mencoba menenangkan Nay.
Bian tiba di rumah Falista, melihat pintu terbuka dia langsung menerobos masuk, setelah menelpon Nay, dia berencana menyusul Sam ke rumah Falista karena memang ada beberapa dokumen penting yang harus segera di tanda tangani oleh Sam. Namun, dokumen tersebut menjadi tidak berarti saat Bian masuk ke dalam kamar Falista. Bian terkejut dengan apa yang ada di depan matanya. Melihat Sam yang setengah telanjang dan Nay yang menangis di pelukan Sam. Lebih terkejut lagi saat melihat Falista terbaring di lantai dengan berlumuran darah. Bian langsung menghampiri Falista, menyentuh nadinya, lalu menggendongnya keluar tanpa mengganggu sepasang suami istri tersebut berpelukan. Dia takut terlambat membawa Falista ke rumah sakit. Saat keluar dari kamar, Bian menatap Sam, Sam pun melihatnya, Sam menatap dengan tatapan memohon pada Bian. Bian tau apa yang harus dilakukannya.
Nay mendongakkan kepalanya, menatap Sam. “Mengapa kamu biarkan dia menyentuhmu? Bagaimana bisa? Kamu milikku, Kau milikku!” Jerit Nay. Dia masih membayangkan kejadian sebelumnya. Menatap suaminya putus asa, mengingat apa yang sudah Sam lakukan dan apa yang sudah ia lakukan pada Falista. Nay mulai menangis histeris kembali, tangisan yang begitu menyedihkan, kondisi seperti itulah yang membuat orang yang melihatnya ikut bersedih. Sam tidak dapat berkata apa-apa. Hanya bisa dengan erat memeluknya.
‘Apakah aku masih bisa mencintaimu? Ku yakin masih bisa mencintaimu. Namun, bagaimana denganmu? Apakah kau masih bisa menerima diriku seperti ini?’ ucap Nay dalam hati.
__ADS_1
***
“Sam, apa kamu sudah siap?” tanya Kakek Adam. Sam hanya menganggukkan kepalanya. Mereka pergi kesebuah rumah sakit, melihat dari kejauhan wanita yang di cintainya sedang menatap kosong ke depan. Sam tidak di perbolehkan bertemu dengan Nay, dia hanya boleh mengamati dari jauh.
“Bagaimana perkembangannya?” tanya Kakek Adam.
“Saat ini kondisinya stabil, tapi masih suka histeris di malam hari dan terkadang menyakiti dirinya sendiri. Kami tidak dapat mengisolasinya di ruang tertutup, pasien masih memiliki Claustrophobia. Jadi kami bebaskan dia untuk ke tempat terbuka. Namun, masih terus dalam pengawasan. Hidupnya penuh tekanan selama ini dan selama itu pula dia selalu menutupi dengan baik, dan juga Nyonya Nayna ada indikasi memiliki penyakit kejiwaan yang diturunkan.” Jelas doker panjang lebar.
“Belum saatnya, dirimu lah yang membuat dirinya mengeluarkan sesuatu yang sudah sangat lama ditahannya. Mungkin kaulah orang yang sangat berarti bagi dirinya, selama ini dia masih bisa mengontrolnya karena tidak ada yang membuat dirinya terancam. Rasa cintanya padamu membuat dirinya hilang kendali saat ada yang mengganggu miliknya.” Dokter tersebut mengelus bahu Sam. “Bersabarlah, sampai saat ini perkembangannya cukup baik.” Setelah itu, dokter meninggalkan Kakek Adam dan Sam. Sam hanya bisa menatap Nay dari kejauhan, berapa lama lagi dia bisa memeluk istrinya itu. Dia hanya bisa pasrah dan berharap yang terbaik untuk Nay.
Begitu pula dengan Kakek Adam, di sedih melihat cucunya seperti itu, semua salahnya, didikan yang sangat ketat membuat Nay menjadi hidup dengan penuh tekanan. Cobaan demi cobaan dialami keluarganya. Kapan dia akan hidup tenang, usianya sudah tidak muda lagi. Namun, hatinya masih belum tenang melihat keadaan keluarganya. Sinta yang sudah membaik diganti dengan kondisi Nay yang seperti ini. Apakah ini kutukan? Entah dosa apa yang telah dilakukan sebelumnya hingga mengalami cobaan seperti ini.
***
__ADS_1
Sepuluh bulan berlalu, Nay masih di dalam rumah sakit jiwa, selama itu pula tidak bertemu dengan Sam. Dulu Sam masih mengamati dari jauh. Namun, Nay melihatnya dan membuatnya menjadi menangis histeris. Sejak saat itu dokter melarang Sam menemuinya. Kondisinya saat ini mulai membaik, Nay sudah diperbolehkan di kunjungi. Sam berlari keluar dari mobil, dia tidak sabar bertemu dengan istrinya. Setelah mendapat kabar dari dokter yang menangani Nay dan dinyatakan boleh di kunjungi, Sam langsung bergegas ke rumah sakit.
Sudah sepuluh bulan mereka tidak bertemu, Selama itu pula dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Sam bahkan membantu Kakek Adam dalam menjalankan perusahaannya. Sudah terlalu lama memendam rindu untuk bertemu dengan Nay. Selalu masih ada asa dan rasa yang terbendung dan juga harapan untuk di keluarkan.
“Sayang …” Suara Sam tercekat, matanya berembun, berusaha menguatkan dirinya agar tidak terlihat cengeng di depan Nay. Nay berbalik melihat orang yang sedang berada di depannya, seperti mimpi. Namun, semua ini nyata baginya, bukan suatu mimpi atau delusi. Sam merentangkan tangannya, berharap wanita angkuh ini berlari kepelukannya. Namun, jika Nay tidak berlari mendekatinya, maka dia yang akan berlari ke tempat Nay.
Bersambung…
Terimakasih masih setia dengan kisah Samudra Nayna.🙏🙏🙏
Jangan lupa like, love, gift dan komentarnya yach 😊
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1