SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 89 Berdamai Dengan Takdir


__ADS_3

Persiapan acara lamaran Zima dan Nima berjalan dengan lancar, tidak ada kendala apapun dalam persiapan. Tibalah di hari lamaran, keluarga Alegian bertamu ke kediaman Rastian. Leo mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang. Kakek Adam menerima lamaran Zima. Acara berjalan sederhana, Zima dan Nima sepakat akan melakukan pernikahan lima bulan ke depan.


Acara lamaran diakhiri dengan jamuan makan, keluarga Rastian menghidangkan beragam jenis daging dan seafood berkonsep barbeque-an di taman belakang, ada juga olahan soup. Kakek Adam sengaja menjamu dengan cara seperti itu untuk menciptakan suasana kekeluargaan.


Sam, Zima dan Nima membakar daging di atas alat pemanggang. Kakek Adam, Leo, Retno dan Sinta menikmati cemilan selagi menunggu daging matang. Nay mengambil soup kepiting untuk di konsumsinya.


Retno menghampiri Nay dengan membawa daging sapi yang sudah di bakar dan menyodorkan kepada Nay, "Ini makanlah, Ibu lihat kamu hanya memakan soup!"


"Tidak Bu, terima kasih. Aku menghindari makanan yang di bakar untuk menjaga pola makanku," jawab Nay.


"Apa hasil pengobatannya, baik?" tanya Retno.


"Iya, Dokter Clara bilang untuk menjaga pola makan dan minum obat tepat waktu agar cepat hamil," ujar Nay.


Retno sumringah mendengar perkataan Nay. "Baguslah kalau begitu, semoga kamu cepat hamil." Retno memeluk pundak Nay.


Sam sedang membakar daging dan mendengar obrolan Nay dengan Ibunya. Tatapan matanya bertemu dengan Nay, mereka tersenyum. Hati Sam sakit. Namun, dia masih bisa tersenyum.


Retno melihat interaksi anak dan menantunya, dia melihat senyum kebahagian di wajah Nay. Tetapi, tidak dengan senyum Sam. Dia adalah ibunya, walaupun Sam tersenyum, Retno sangat mengenal anaknya, ada kesedihan di senyum Sam.


Acara lamaran berakhir, keluarga Alegian pamit untuk pulang. Setibanya di rumah, Retno sempat menemui Sam disaat Sam sedang sendiri tanpa Nay. "Sam, Ibu ingin bicara denganmu sebentar."


"Apa yang ingin Ibu bicarakan? Aku tida tahan mau buang air kecil, Bu!"


"Ya sudah, pergilah ke toilet. Nanti temui Ibu ya?"

__ADS_1


"Iya, aku ke toilet dulu." Sam pergi ke toilet yang berada di lantai bawah. Setelah itu dia ke ruang buku ibunya. Sam mengetuk pintunya dan masuk kedalam.


Nay berada di dalam kamar dia menunggu Sam. Namun, tak kunjung datang, dia putuskan mencari Sam.


Sam berada di ruang buku ibunya. "Ada apa, Bu?" tanya Sam.


"Duduklah." Retno melihat Sam masuk, meletakan buku novel yang sedang ia baca. "Ibu mau bertanya padamu? Sebenarnya, apa hasil pemeriksaan Nay?"


"Baik, Bu."


"Aku ini ibumu. Walaupun, kamu tersenyum, tetapi aku bisa melihat kesedihan dimatamu!" ujar Retno menatap Sam.


Sam tau, dia tidak bisa berbohong pada ibunya, dari awal dia menyukai Nay, ibunya lah orang yang pertama tau. "Sebenarnya, Nay hanya memiliki 8% kemungkinan memiliki anak, dan jika di bantu obat hanya 30% peluang paling besar."


Sam hanya bisa menunduk. "Ya, aku belum berani bilang pada Nay!" Sam memikirkan Nay, dia sangat ingin memiliki anaknya sendiri. Tanpa sadar cairan bening menetes dari mata Sam. Retno melihat itu semua, dia memeluk anaknya.


Sam melepas tangisnya dalam pelukan ibunya, orang yang membuatnya nyaman sejak dilahirkan. Retno pun ikut menangis, ikut larut dalam kesedihan anaknya.


Nay melihat itu semua dari celah pintu, dia menutup pelan pintu tersebut dan kembali ke kamarnya. Dia berusaha sebisa mungkin mengikuti saran dokter. Namun, hanya 30% keberhasilan, bukankah itu sama saja tidak ada harapan!


Sam mengusap air matanya, mencuci wajahnya dan kembali ke kamarnya, melihat istrinya sudah beristirahat di ranjang dengan posisi menyamping. Sam naik ke atas ranjang dan memeluk Nay dari belakang. Mereka diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Hingga, akhirnya Sam membuka mulutnya. "Kau melihatku bersama ibu, kan?" Sam menyadari saat pintu tertutup, nalurinya berkata Nay lah yang menutup pintunya.


"Uhm, Sam maafkan aku."


Sam membalik tubuh Nay. "Kabar seperti ini bukan pertama kali kita dengar, Nay! Anggap saja sebagai pengulangan informasi. Kita masih bisa bahagia. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, aku tidak keberatan. Begitupun dengan orang tuaku. Kita hanya cukup bahagia."

__ADS_1


Nay masuk dalam dekapan Sam, mencari kenyamanannya, dia sudah tidak menangis seperti dulu lagi. Mencoba berdamai dengan takdir."


Sam memeluk erat Nay, tidak disangka reaksi Nay lebih tenang dari dugaannya.


***


Sam datang ke kantornya agak siang, dia mengantar Nay terlebih dahulu ke kantornya. Setibanya di kantor, dia di hentikan oleh Bian.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Sam saat Bian menghentikannya masuk kedalam ruangan.


"Di dalam ada Falista, sepertinya dia marah!" ucap Bian memperingati.


"Aku akan menemuinya!" ujar Sam. Membuka pintu dan masuk kedalam ruangannya, sudah ada Falista yang sedang duduk menunggunya.


Bersambung....


Terima Kasih masih setia dengan kisah Samudra Nayna 🙏


Mohon maaf jika ada kesalahan, mohon dukungannya dengan cara like, love, vote. Ditunggu juga komentarnya 😊


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰


Rekomendasi novel hari ini. Selagi menunggu up dari Samudra Nayna bisa baca dulu karya otor kece Gupita 😊


__ADS_1


__ADS_2