
Seandainya hanya dengan sebuah tatapan bisa membunuh, mungkin saja Nima bisa mati seketika.
Nay masih menatap tajam pada Nima yang hanya membeku di kursinya.
“Kenapa kamu diam saja? sepandai pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga!”
“Apa yang ingin kamu dengar dariku? Kamu sudah menyelidikinya!” jawab Nima.
“Aku ingin dengar dari mulutmu sendiri! Kenapa kamu melakukannya? dan siapa orang yang membantumu menutupi kasus ini?”
“Apa penting, jika aku mengatakan motifku melakukan itu?” tanya Nima.
“Setidaknya aku harus memikirkan, apa balasan yang setimpal untukmu!” Nay menatap nanar pada Nima.
Ada ketakutan di mata Nima, dia teringat masa lalu, saat mereka bertengkar, Nay dengan tanpa perasaan membakar semua lukisan Nima.
“Ku dengar, kamu akan membuka galeri lukisanmu sendiri? kuharap semua berjalan dengan lancar!” Ucapan harapan yang terlontar dari mulut Nay terdengar sangat manis, namun ada makna dibalik dari ucapan itu.
“Apa kamu percaya jika aku mengatakannya?” tanya Nima.
“Percaya atau tidak, itu menjadi urusanku.”
Nima menghela nafasnya. “Aku, iri denganmu!”
“Kenapa?”
“Karena aku membencimu, walau kamu terlihat tidak memiliki teman tapi kamu selalu menjadi bahan pembicaraan orang lain, dengan kecantikan dan kepintaranmu serta sifat sempurnamu itu, membuat orang lain tidak berani mendekatimu. Sombong! kata itu memang pantas untukmu.”
“Hanya itu?” tanya Nay, dia merasa masih ada alasan lain.
Nima terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya.
“Kakek tidak pernah menyayangiku, dia selalu mengutamakanmu!” ucap Nima.
“Omong kosong! Jika dia menyayangiku, tidak mungkin membuatku hidup dengan penuh tekanan.”
Nay mengepalkan tangannya. “Kakek tidak pernah memberiku pilihan, semua di tentukan olehnya, sedangkan kamu bebas melakukan apa saja yang kamu inginkan!”
“Itu karena dia tidak pernah peduli padaku, apapun yang aku lakukan tidak akan berarti baginya bahkan saat aku memenangkan perlombaan melukis! tidak seperti kamu yang menjadi prioritasnya, apapun yang kamu lakukan akan mendapat perhatian darinya!” Nima menahan air matanya yang akan membasahi pipi namun semua gagal, cairan bening itu begitu mudah jatuh ke pipinya.
Nay menatap wajah Nima yang sudah penuh air mata, ada rasa iba di hatinya. Dia tidak menyangka bahwa Nima akan iri pada kehidupannya yang penuh dengan tekanan, karena selama ini dia juga iri pada Nima yang bebas melakukan apa saja.
Disini dia baru mengerti bahwa setiap orang memiliki persoalannya masing masing. Bagaimana cara menyelesaikannya dan bagaimana cara bersyukur.
Nay mulai meluluh dan akhirnya dia ikut mengutarakan yang selama ini dia pendam.
“Apa kamu tau, Nima? bahwa aku juga sedikit iri padamu. Aku selalu merasa kamu lebih beruntung karena masih memiliki seorang ibu, aku bisa melihat tante Sinta sangat menyayangimu. Aku bahkan berpikir kalau kakek juga menyayangimu.”
“Hanya ibuku yang tulus menyayangiku, kakek tidak pernah melihatku, yang dia tanyakan hanya ibuku.”
“Kamu belum jawab pertanyaanku! Siapa orang yang membantumu dalam menutupi kasusku?”
“Tidak ada.”
__ADS_1
“Detektif sewaanku kesulitan mencari informasi, pasti ada orang di balik semua ini.”
“Aku hanya sendiri, aku yang datang dan menyuap dokter Stella untuk membuat keterangan palsu dan aku juga yang menyebarkan rumor.”
“Apa kamu tau, nasib dokter Stella seperti apa sekarang?”
“Tidak, aku tidak tau kabarnya lagi.”
“Dia ada di sebuah pedalaman, seperti seseorang yang telah berbuat kesalahan besar lalu bertobat. Mengabdikan diri untuk masyarakat.”
“Sungguh aku tidak tau apapun, aku memang berbuat kesalahan tapi aku jamin aku hanya bekerja sendi...ri.” Nima berhenti bicara dan mengingat sesuatu. “Sepertinya aku tau siapa yang melakukannya!”
“Siapa?” tanya Nay.
“Kakek!”
“Apa?”
“Kakek bilang padaku kalau dia langsung menyelidiki saat rumor itu beredar! Aku juga baru tau setelah kamu kembali.”
“Jadi dia tau bahwa kamu yang memfitnahku? dan dia membuangku selama enam tahun!” Nay sudah tidak bisa menahan tangisnya, dia tidak melakukan kesalahan apapun namun dia yang harus terbuang dan namanya menjadi buruk di depan banyak orang.
“Apakah aku bukan cucunya?” tanya Nay lebih pada dirinya sendiri.
“Ku kira kita sama Nay.”
Mereka berdua terdiam di tempat, disaat mereka masih dalam pikiran mereka masing masing, ada sebuah suara dari arah pintu masuk.
“Nima, Ibu datang membawa makanan untukmu!” suara Sinta
“Ibu, kamu datang?” ucap Nima.
“Kamu lagi ada tamu?” tanya Sinta.
Posisi Nay membelakangi Sinta, setelah mendengar suaranya, Nay menolehkan kepalanya menghadap Sinta.
Mereka saling tatap, Nay baru akan membuka mulut untuk memberi salam, namun suara itu tidak sempat keluar karena Sinta sudah menjerit.
“Ah… Ah…!” jerit Sinta dengan memegang kepalanya.
“Ibu!” Nima berlari untuk mendekat pada Sinta.
“Dasar perempuan penggoda, untuk apa kamu kesini? Tidak puaskah kamu menghancurkan rumah tanggaku?” caci Sinta dan mulai mendekati Nay namun Nima memeluk ibunya agar tidak menyerang Nay.
“Tante, apa maksudmu?”
“Pantas mati, seharusnya kamu yang mati bukan kakakku! Dasar wanita ular!”
Sinta terus berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari pelukan Nima.
“Ibu, aku mohon hentikan!” Nima terus memeluk erat ibunya.
“Nay, cepat pergi!” Perintahnya pada Nay.
__ADS_1
“Bagaimana denganmu Nima?”
“Pergilah, aku akan mengatasi ibuku!”
“Dasar perempuan Ibblis, wanita murahaan!” Sinta terus memaki Nay,
Nay berlari meninggalkan bengkel seni milik Nima dengan suara tante Sinta yang masih terngiyang di telinganya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, terus melaju tanpa arah tujuan.
Dia selalu merasa ada yang aneh dengan tantenya, kenapa bisa membenci dirinya seperti ini. Tatapan penuh kebencian, cacian yang keluar dari mulutnya. Beragam pikiran yang ada di otaknya hingga tanpa sadar mobilnya sudah berada di pinggir pantai.
***
Di kantor Sam.
“Sam, aku sudah menemukan yang kamu minta,” ucap Bian.
“Apa yang kamu temukan?”
“Yang menutupi kasus aborsi istrimu adalah kakeknya sendiri! dan aku menemukan satu fakta lagi.” Bian terdiam, dia ragu apakah harus melanjutkannya.
“Kenapa terdiam?” tanya Sam.
“Tuan Adam datang ke panti asuhan untuk mengadopsi seorang anak perempuan.”
“Maksudmu tante Sinta adalah anak adopsi?” tanya Sam.
“Dia mengadopsi sekitar 25 tahun yang lalu.”
“Apa? jadi maksudmu? Nay cucu adopsi?”
“Entahlah, usia Nay dan Nima bukannya sama?”
“Cari tau lebih lanjut!”
“Bukankah lebih mudah tes DNA?” usul Bian.
“Permasalahannya bukan tes DNA, bagaimana caranya aku bilang pada Nay?”
“Tinggal bilang saja, memang kenapa?”
“Aku hanya takut akan reaksinya! Dia selalu merasa hidup dengan tekanan. Aku takut melukai hatinya!”
“Lebih baik, bicara dulu dengannya pelan pelan.”
Sam menganggukkan kepalanya, menandakan setuju dengan perkataan Bian.
“Apa meeting kita bisa di mulai lebih awal? hari ini Nay bertemu dengan Nima, aku takut dia lepas kontrol!”
“Aku koordinasi dulu untuk membuat jadwal meeting di buat lebih awal.”
Bersambung...............
Jangan lupa like dan Fav 😊
__ADS_1
mampir juga ya d novel temanku,, yg oke punya..