SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 91 Miss Ribet


__ADS_3

"Apa maksudmu, sehari di datangi dua wanita cantik?" ucap Nay yang baru keluar dari ruang peristirahatan.


Bian terkejut dengan kedatangan Nay yang tiba-tiba. "Sam, aku baru ingat ada meeting dengan divisi Finance." Bian langsung keluar ruangan Sam, sebelum singa betina mengamuk.


Setelah kepergian Bian, Nay menatap tajam Sam. Sam tersenyum melihat Nay, dia sangat senang jika Nay cemburu. Membuktikan hanya Sam lah dihatinya.


"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Nay.


"Aku suka melihat ekspresimu saat cemburu." Sam mendekat kearah Nay dan memeluknya.


"Kamu senang melihatku cemburu. Tapi, jika kamu yang cemburu aku tidak boleh senang! Bahkan kamu mengeluarkan kata-kata menyakitkan jika cemburu." Nay kesal jika teringat Sam mengeluarkan kata-kata pedas. Melihat wajah Sam yang berubah menjadi sedih, buru-buru Nay mengalihkan pembicaraan. "Cepat katakan, siapa wanita cantik yang berkunjung selain aku?"


Sam tersenyum kembali. "Mata Bian bermasalah, yang berkunjung memang ada dua wanita, tapi hanya satu wanita yang cantik! Karena hanya istriku yang cantik."


"Ish, sudah jangan gombal! Katakan siapa yang datang?"


"Falista," ucap Sam.


"Untuk apa dia datang kesini? Dia datang menggodamu? Awas saja jika kamu tergoda dengannya!" ujar Nay panjang lebar.


"Dia datang mengembalikan Cek yang Bian berikan untuk pengobatan Sisil."


"Kenapa dikembalikan?"


"Dia mengira, aku memberikan Cek untuk kompensasi dirimu yang telah menyiramnya."


"Lalu bagaimana dengan Sisil?" tanya Nay khawatir.


"Tidak tau, mungkin dia sudah ada dananya untuk pengobatan Sisil."


"Semoga saja Sisil baik-baik saja! Oh ya, Sam! Aku lupa membayar gelas yang aku pecahkan saat bertemu dengan Falista waktu itu!"


Sam membulatkan matanya. "Bisa-bisanya kamu berpikir sampai ke gelas yang pecah, seharusnya kamu mengkhawatirkan lukamu bukan gelasnya! Benar-benar tidak habis pikir!" gumam Sam.


"Aku jadi kepikiran pelayan di sana, jangan gara-gara aku, dia jadi yang membayar." Nay menggigit bibirnya.


"Huft, selain Miss Perfect, ternyata kamu juga Miss Ribet. Lagi pula, pasti sudah dibayar Falista."


"Itu dia! Punya hutang padanya lebih mengkhawatirkan daripada hutang pada Rentenir! Nanti, dia malah minta dibayar pake yang lain lagi!"

__ADS_1


"Bisakah kita tidak membicarakan tentang gelas ataupun hutang? Kita bisa ngobrol yang lebih bermanfaat, bukan?" ucap Sam yang terkadang bingung dengan istrinya yang suka membuat masalah kecil menjadi rumit.


Nay melepas pelukan Sam. "Sudah aku mau kembali ke kantor."


"Makan dulu, aku sudah pesankan makanan."


Akhirnya Nay memilih memakan makanan yang Sam belikan. Setelah itu, dia pamit untuk kembali ke kantor.


"Sayang tunggu sebentar, biar aku akan mengantarmu." Sam bersiap mengambil kunci mobilnya.


"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri. Bukannya kamu bilang mau ada rapat?"


"Benar, tidak apa sendiri?" tanya Sam.


"Iya, aku pergi dulu."


Nay kembali ke kantor, sudah ada Rudi yang menunggunya. "Bu, Tuan Adi Ryawan sudah menunggu."


"Aku tidak terlambat, bukan?" tanya Nay.


"Tidak, masih sekitar lima menit lagi jadwal meeting-nya."


Mereka masuk keruangan meeting, sudah ada Ryawan dan juga asistennya. Mereka membicarakan tentang kerjasama, ada beberapa selisih pendapat, sehingga meeting berlangsung alot.


"Bagaimana jika kita break sebentar, agar pikiran kita lebih jernih!" Usul Ryawan.


"Baiklah, kita break dua puluh menit," ucap Nay.


Mereka menunju ke ruang coffee break, waktu senggang itu di pakai Nay untuk menghubungi Sam. "Sam, kamu tidak usah menjemputku, aku pulang naik taxi saja."


"Kenapa?" tanya Sam.


"Aku masih ada meeting dan berjalan alot! Aku tidak tau selesai jam berapa."


"Baiklah, sebenarnya aku juga ada jamuan."


"Ya sudah, kamu pergi saja. Aku bisa pulang sendiri."


"Baiklah."

__ADS_1


Nay kembali mengadakan meeting, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 21.30, Ryawan dan asistennya pamit pulang. Begitupun dengan Nay, dia menunggu taxi di depan kantor, Ryawan melihatnya di pinggir jalan dan menghentikan mobilnya. "Kau tidak bawa mobil?" ucap Ryawan setelah membuka kaca jendela mobil.


"Tidak, aku naik taxi," jawab Nay.


"Mau kuantar?"


"Tidak perlu." Nay tidak ingin mengambil resiko, lebih baik dia pulang naik taxi.


Ryawan keluar dari mobil. "Baiklah, jika tidak mau diantar. Tapi, biarkan aku menemanimu menunggu taxi, aku khawatir jika kamu menunggu sendiri di tempat sepi."


Nay hanya tersenyum menanggapi perkataan Ryawan. Ponselnya berdering, Sam menelponnya. "Hallo!"


"Sayang aku masih ada jamuan, belum bisa menjemputmu!" ucap Sam.


"Iya tidak apa! Aku lagi nunggu taxi."


"Kamu sendirian?"


"Iya."


"Benar?" tanya Sam lagi.


"Benar." Nay tidak mungkin bilang bahwa dirinya sedang bersama Ryawan, dia tidak mau ada baku hantam lagi.


"Baiklah." Sam menutup sambungan teleponnya.


Nay mengusap lengannya karena tertiup angin malam yang dingin. Ryawan yang melihat itu melepas jasnya dan memakaikan ketubuh Nay.


"Tidak perlu," ucap Nay yang akan melepas jas Ryawan.


"Hanya jas saja, masa tidak menerima niat baikku." Ryawan tersenyum pada Nay.


Tidak lama mereka mendengar suara mesin mobil dinyalakan dan juga ada cahaya yang menyorot pada mereka berdua. Nay dan Ryawan melihat kearah mobil yang lampunya menyorot pada mereka. Nay kenal pasti mobil siapa itu.


Sam menatap tajam dibalik kemudi, dia ingin memberi kejutan dengan datang tiba-tiba. Namun, yang dilihatnya Nay sedang bersama Ryawan.


Bersambung....


Jangan lupa like,love,vote dan komen jika berkenan 🙏

__ADS_1


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰


__ADS_2