
Anton menghampiri Nima dan Sinta, "Selamat siang Nyonya Sinta, Nona Nima."
"Siang Paman Anton," sapa Nima.
"Kalian ingin bertemu Tuan Adam?"
"Iya, hari ini ayah pulang kan?" tanya Sinta.
"Iya benar, aku mau urus administrasi terlebih dahulu, Nyonya Sinta, apa bisa ikut saya?"
"Aku harus ikut?" tanya Sinta.
"Iya, setelah dari administrasi aku mau bertemu dokternya kakek Adam, sebaiknya Anda ikut."
"Baiklah, aku ikut denganmu," menoleh pada Nima, "kamu masuk duluan saja, nanti ibu menyusul," ucap Sinta.
"Nona Nima, bisa Anda membereskan yang ada di ruangan Tuan Adam?" Anton mengangkat alisnya sebelah, memberi kode pada Nima.
"Memangnya tidak ada orang yang membersihkan? kenapa harus anakku?" protes Sinta.
"Maksud saya, hanya membereskan barang pribadi milik Tuan Adam!" Anton bicara sangat normal tanpa ada kegugupan.
"Tidak apa-apa Bu, paling hanya sedikit, aku pergi dulu ya?" Nima pergi menuju kamar Kakeknya, Anton dan Sinta menuju ruang administrasi.
Sesampainya di kamar rawat, membuka pintu sudah ada Sam dan Nay. Nima mengerti mengapa paman Anton mengajak pergi ibunya.
"Pagi, Kakek, Sam, Nay!"
"Pagi!" ucap Sam.
"Kamu sendiri?" ucap kakek Adam.
"Dengan ibu! tapi sedang bersama paman Anton, mengurus kepulangan kakek," menoleh kearah Nay, "biar aku yang antar kakek pulang!"
"Nima benar, kamu dan Sam pulanglah! cukup Anton dan Nima yang mengantarkanku pulang!" ucap Adam.
Nay mengerti arah pembicaraan mereka, "Kalau begitu aku pulang."
Mereka keluar dari kamar rawat dan menuju ke parkiran, mereka masuk kedalam mobil, Sam duduk di kursi kemudi dan Nay di kursi penumpang.
"Sam tunggu, tasku ketinggalan?"
"Biar aku yang ambil, kamu tunggu disini saja!"
Belum sempat keluar dari mobil, ponsel Sam berdering. "Aku angkat telepon dulu ya?" Sam bersiap menjawab teleponnya.
"Aku ambil sendiri saja, hanya sebentar kok!"
__ADS_1
Nay keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban Sam. Dia pikir hanya sebentar pasti tante Sinta masih mengurus administrasi. Nay melangkahkan kakinya menuju ruangan kakeknya, di lorong rumah sakit dia bertemu dengan kepala asisten rumah tangga kakeknya, Bibi Ana. Orang yang dulu sempat mengasuh Nayna waktu kecil.
“Non, Nayna,” panggil Bibi Ana yang berjalan di belakang Nay.
Merasa dirinya ada yang memanggil, dia menoleh. “Bibi Ana, Bibi kesini?”
“Iya, Tuan Besar minta dibuatkan sup ayam kampung, namun tadi kehabisan stok ayam jadi bibi beli dulu kepasar, jadi agak siang deh anter kesininya, Non Nayna sendiri?”
“Sama Samudra, Bi. Dia nunggu di mobil.”
“Nona juga baru sampai sini?”
“Enggak Bi, aku malah udah mau pulang, ini mau ambil tas aku yang ketinggalan.”
“Ayo, Non, bareng ke ruang Tuan Besar?”
“Ayo, Bi.”
Mereka menuju ruang rawat, mengetuk pintu dan masuk, didalam hanya ada Nima dan kakeknya.
“Kamu kembali lagi?” tanya Nima, melihat ada orang di belakangnya. “Bibi Ana juga kesini?”
“Iya, Non Nima, mau antar sup ayam kampung untuk Tuan Besar.” Bu Ana menghampiri meja dan menyiapkan sup ayam untuk kakek Adam.
“Tasku ketinggalan.” Nay beralih ke kursi yang berada di dekat kakeknya, mengambil tasnya lalu pamit untuk pulang. “Aku pulang dulu, Kakek, Nima!”
“Hati-hati!” ucap kakek Adam.
“Ayah …,” ucapan Sinta terputus karena melihat Nay. Mata mereka bertemu, Nay membeku di tempat.
Sinta mulai mencakar tanggannya sendiri, wajahnya penuh amarah, dia telah mencoba menahan penyakit PTSD (post-traumatic stress disorder) yang dideritanya, berusaha agar tidak kambuh namun gagal, mulai menarik rambutnya dan mulai berteriak histeris.
“Argh ….” Sinta berlari untuk menyerang Nay, tanpa peringatan lalu mencekik Nay.
“Tante, ap-a yang kamu lakukan?” tanya Nay dengan nada terputus karena tercekik.
“Ibu!” teriak Nima.
Anton langsung berlari dan mencoba melepaskan cekikan Sinta di leher Nay, Penuh banyak tenaga untuk melepaskannya dan Nima langsung memeluk ibunya dari belakang, Nay terbatuk akibat cekikan itu. “Aku salah apa tante?”
“Kau adalah pembunuh, kamu yang seharusnya mati! Dasar perempuan penggoda!” teriak Sinta masih dalam pelukkan Nima.
“Aku bukan perempuan penggoda!” ujar Nay juga tersulut emosi, dia bukanlah wanita berhati malaikat, dia bisa kapan saja melawan jika ada yang mengusiknya.
Entah tenaga Nima yang lemah atau Sinta yang memiliki kekuatan hingga dia terlepas dari pelukkan Nima dan mulai menyerang Nay kembali. Nay dapat menahan tangan Sinta yang akan mencekiknya dan mendorongnya hingga Sinta terjatuh dilantai. “Aku sudah tidak tahan lagi akan cacianmu, Tante!” teriak Nay lalu mengambil vas bunga yang ada di atas meja dan melemparkan kehadapan Sinta.
"Hentikan!" teriak kakek Adam
__ADS_1
Prank...
Teriakkan Kakek Adam tidak berhasil menghentikan Nay melempar vas bunga namun dia tidak melempar kearah Sinta, dia melempar vas bunga tepat disamping Sinta.
Nay bergetar hebat, dia tidak tau mengapa dia berbuat seperti itu, apakah emosinya meledak akibat tekanan terhadap dirinya selama ini atau memang sudah ada jiwa liar didalam dirinya, terakhir, hal gila yang dia lakukan adalah saat membakar semua lukisan Nima tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sinta langsung di peluk kembali oleh Nima, Sinta kembali histeris, kembali melontarkan cacian pada Nay, “Pembunuh, per*sak, dasar Iblis!”
Bibi Ana yang melihat Nay bergetar langsung memeluknya, dia tidak tega melihatnya.
“Nyonya Sinta! ini Nona Nayna, bukan Nyonya Diska! Tolong hentikan, dia tidak bersalah, bukan dia yang membunuh Tuan Bima!” ucap bibi Ana dengan berderai air mata.
Nay tersentak atas apa yang didengarnya! Kakek Adam mulai memegang dadanya, Anton yang melihat itu langsung mengahampiri, “Tuan!”
***
Kakek Adam dibawa ke ruang ICU, Sinta diantar pulang dan Nay masih seperti patung, dia masih mencerna apa yang tadi didengarnya, dia ingin tidak percaya dengan apa yang di bilang Bibi Ana.
Membunuh! Siapa yang membunuh? Bukankah orang tuaku tewas karena kecelakaan?
Dada Nay terasa sesak, padahal dia tidak dalam ruangan sempit dan gelap tapi terasa sangat menyiksa, dan akhirnya dia pingsan.
***
Sam kembali ke dalam rumah sakit karena ponsel Nay tidak bisa dihubungi, namun setelah dia sampai, Nay sudah berbaring diatas ranjang rumah sakit ditemani bibi Ana, dia belum siuman.
“Sebenarnya, apa yang terjadi?” tanya Sam pada bibi Ana.
“Saat Nona Nayna mengambil tasnya, Nyonya Sinta juga datang dan terjadi perselisihan.”
“Apa ada yang terluka?”
“Tidak ada, Nyonya Sinta hanya terjatuh saat Nona Nayna mendorongnya.”
“Apa Nay tidak melakukan hal lainnya?” Sam khawatir Nay melakukan tindakan lebih jauh, dia menyaksikan saat Nay membakar semua lukisan Nima ada senyum diwajahnya. Saat itu adalah raut wajah yang sangat berbeda, raut yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Belum sempat bibi Ana menjawab sudah ada suara Nay terdengar. “Sam!”
Bersambung...................
Note : PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan.
Mohon maaf jika terjadi kesalahan penulisan, otor masih penulis pemula...
mohon like n love nya, jangan lupa komentarnya.... :)
aku mau promosiin novel temen aku nih, selagi menungu samudra nayna up bisa baca Fake Love....
__ADS_1
terima kasih