
Setelah meninggalkan Nay di gudang, dia berjalan tergesa menuju ruang bermain, Bibi Ana melihat Sinta berjalan dengan tergesa. Maka dari itu, dia mengikuti Sinta lalu bersembunyi mengamati apa yang terjadi.
Sinta sampai di ruang bermain Nay, dia melihat Diska yang duduk dengan tenang sambil mengupas sebuah apel merah menggunakan sebuah pisau, Sinta mendekatinya, ingin sekali dia memaki wanita didepannya ini, tapi mengapa keberaniannya menghilang setelah melihat ekspresinya, Sinta seperti tidak mengenal orang yang ada d depannya ini.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Diska menoleh melihat Sinta, meletakkan pisau dan juga buah apel yang belum sempurna di kupas.
“Bagaimana kabarmu, Sinta?”
“Jangan berpura-pura baik padaku,Diska! aku sudah tau apa yang kamu lakukan!”
“Memang apa yang sudah aku lakukan?”
“Tak perlu aku yang menjawab, seharusnya kamu tau apa kesalahan yang telah kamu perbuat?” ucap Sinta.
“Emmmm,” Diska menegakkan kepalanya dan matanya menatap atap seolah-olah dia sedang berpikir. “Oh, mungkin kamu ingin bertanya kepadaku siapa selingkuhan suamimu?” tanya Diska tanpa rasa berdosa.
“Kamu bicara seperti kamu tidak bersalah, Diska! Kenapa kamu melakukan ini padaku?” ucap Sinta penuh amarah.
“Aku? Suamimu sendiri yang datang padaku, aku hanya memberikan yang tidak bisa kamu berikan! Lagi pula aku sudah bosan dengannya, kamu bisa mengambilnya ATAU buang saja!”
“Semudah itukah kamu bicara?” Sinta heran mengapa Diska bisa bicara seperti itu, apakah dia tidak punya hati? Atau inikah sifat aslinya? Sungguh sangat berbeda dari yang dikenalnya.
“Lalu, kamu mau aku bicara apalagi? Oh ya, aku baru ingat! ada satu lagi yang ku lakukan padamu, apa kamu mau mendengar?”
Sinta hanya menatap Diska dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan.
Diska mulai berdiri, melangkah mendekat berhadapan dengan Sinta dan membisikkan. “Aku telah memberimu obat penghancur janin! Apa kamu tidak ingat? aku pernah memberimu sebotol vitamin. Harga obat itu mahal, Ku kira, kamu akan langsung keguguran tapi ternyata bayi itu bertahan sampai dilahirkan, ya walaupun tidak sampai satu jam dia bertahan di dunia ini.” Diska bicara, seperti itu bukanlah suatu kesalahan, dia mundur selangkah lalu dia meletakkan jari telunjuknya di bibir dan berkata, “Shuttt, jangan bilang siapa-siapa! Ini rahasia kita berdua.”
__ADS_1
Sinta syok mendengar apa yang dikatakan oleh Diska, dia langsung mundur seketika, kakinya lemas, berharap semua ini hanya mimpi. Bagaimana mungkin ada manusia seperti ini?
“Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? Apa kesalahanku?” ucap Sinta dengan wajah pucat.
Bibi Ana yang mendengar semua itu juga sangat kaget! Dia pergi menjauh, mencari telepon dan mengubungi Tuan Besar.
Diska memiringkan kepalanya, “Apa salahmu? Aku pun tidak tau! Aku hanya ingin melakukannya saja, melihatmu menangis membuatku bahagia!” ucap Diska dengan senyum diwajahnya.
Plak
Sinta menampar Diska. “Dasar wanita gila! Kau bukan manusia, Diska!” caci Sinta dengan berteriak.
“Kau akan mati!” ucap Diska dan mengembalikan tamparan Sinta.
Terjadilah perkelahian antara Diska dan Sinta, suara cacian dan juga teriakkan mereka terdengar sampai ketelinga Nay yang terkurung didalam gudang yang gelap, rasa lembab dan gelap membuatnya sesak, dia mencoba memanggil ibunya namun tidak ada yang mendengar hingga akhirnya dia tak sadarkan diri.
“Hentikan!” teriak Bima, “Jangan jadikan dirimu seperti dirinya, Sinta.”
Sinta tersadar, dia bangkit dari tubuh Diska dan membuang pisau tersebut, dia berlari dan memeluk kakaknya. Mereka berpelukkan, Diska mengambil pisau tersebut lalu berlari untuk menikam Sinta, namun Bima berbalik, menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Sinta. Diska menarik pisau yang tertancap di punggung Bima dan menancapkan kembali ketubuhnya, namun kali ini bukan di punggung melainkan di leher.
Sinta berteriak histeris, Bima terjatuh, darah mulai mengalir, Bima menatap pada Diska, dia menyadari bahwa dia membuat kesalahan besar dengan membawa Diska masuk rumah ini.
“Kenapa kamu menghalangiku?” ucap Diska menatap Bima yang sudah terkapar, seolah dia tidak melakukan sesuatu yang salah.
Sinta memangku kepala Bima, dia hanya bisa menangis histeris di detik-detik kematian kakaknya, namun pelaku semua ini tidak menunjukkan penyesalan, Diska mengambil tisu yang berada di dekat apel merah yang dipotongnya, membersihkan tangannya dari sisa darah lalu berkata, “Sinta, aku pergi dulu!” pergi dari ruangan itu dengan santai, melewati Bibi Ana yang mematung setelah melihat semua kejadian itu.
Flashback Off
__ADS_1
Bibi Ana menangis tersedu menceritakan apa yang terjadi malam itu. Nay semakin memucat, wanita yang selalu dia impikan, wanita yang selalu sempurna dalam bayangannya telah berbuat sekeji itu! dengan mudahnya merenggut sosok ayah yang disayanginya.
Nima dan Sam pun tidak kalah terkejut mendengar cerita seperti itu, apakah dia bisa disebut manusia setelah melakukan hal keji tersebut.
“Lalu apa yang terjadi lagi?” tanya Sam pada Bibi Ana.
“Setelah Nona Diska keluar, bertepatan dengan Tuan Riko datang. Saat itu aku masih syok dan hanya bisa mematung ditempat namun aku masih bisa mendengar percakapan mereka, Nona Diska mengakui bahwa dia telah menikam Tuan Bima karena ketidaksengajaan, dan Tuan Riko percaya begitu saja lalu membawa kabur Nona Diska. Setelah mereka pergi, Tuan Adam dan Anton baru datang.”
Sam memeluk erat tubuh Nay, entah apa yang dia rasakan Nay saat ini. Dia yang tidak mengalami ini saja sangat kaget mendengarnya apalagi dengan Nay.
“Aku dan Tuan Adam datang terlambat, saat kami tiba, Tuan Bima sudah meninggal!” ucap Anton tertunduk. “Tuan Adam, langsung menyuruh orang untuk mengejar mereka. Dalam proses pengejaran, Diska dan Riko mengalami kecelakaan, Riko meninggal di tempat sedangkan Diska dilarikan kerumah sakit. Tuan Adam menginginkan hukuman seberat beratnya untuk Diska, dia ingin Diska membusuk di penjara namun hal itu tidak bisa terjadi, Diska mengalami koma selama seminggu setelah itu dia meninggal dunia.”
Semua wanita yang ada disitu menangis mendengar cerita Anton dan Ana, Nima ikut menangis, betapa sedih kisah hidup ibunya, di selingkuhi suami dan juga harus melihat kematian kakaknya sendiri.
“Setelah kematian Bima, Sinta mengalami depresi, awalnya dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kakaknya, dia merasa seharusnya dia yang menerima tikaman pisau tersebut, semakin hari semakin menghawatirkan, dia bisa melukai dirinya sendiri, karena itu Tuan Adam membawanya ke Amerika untuk berobat, selama perawatan disana sudah mengalami banyak peningkatan, sampai akhirnya, saat dia kembali pulang ke Indonesia, dia bertemu denganmu Nay, kamu sangat mirip dengan Diska, karena itu penyakit PTSD-nya kambuh saat melihatmu.” jelas Anton.
Bersambung…..
Jangan lupa like, vote dan masukan daftar favorit yah,,, di tunggu komentarnya juga..
otor masih baru, masih perlu banyak belajar, jadi otor minta saran dan kritiknya yach 🙏🙏
terima kasih 🥰
selagi menunggu up dari samudra nayna bisa d baca karya author yayuk triatmaja
__ADS_1