
Semua mata terkejut mendengar perkataan Retno. Wajah Nima semakin pucat, bukan dia tidak menginginkan anak dari Zima. Namun, mengandung anak sebelum pernikahan baginya masih sangat memalukan terlebih Ibunya selalu mengajarkan untuk menjaga kehormatan.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Aku tidak mendidikmu melakukan hubungan sebelum nikah!" Sinta kecewa dan memukul lengan Nima.
"Maafkan aku, Bu!" ujar Nima menundukkan kepalanya, dia merasa telah mengecewakan Ibunya. Ibunya selalu berpesan untuk menjaga kehormatannya.
"Ibu, ini salahku." Zima menarik Nima ke belakangnya agar dia bisa menjadi tameng untuk calon istrinya.
"Sudah, sudah. Semua sudah terjadi, maafkan anakku, Zima sudah cerita padaku, saat itu dia mabuk." Retno meminta maaf pada Sinta atas perbuatan Zima. Kepalanya pusing, anak lelakinya menghamili perempuan sebelum menikah sedangkan anak lelaki satunya lagi sudah menikah. Namun, masih belum diberi keturunan. Antara senang dan sedih, senang karena akan menjadi nenek, sedih karena memiliki cucu dari hubungan diluar nikah.
"Ah!" Nima memegang perutnya.
"Kenapa? Apa yang sakit?" Panik Zima.
"Perutku, Kak!"
"Darah, Kamu berdarah, Nak!" Panik Sinta setelah melihat kaki Nima.
Zima langsung menggendong Nima dan memasukan ke dalam mobil. Beruntung Nima sudah mengganti gaun pengantinnya sebelum memuntahkan isi perutnya sebelumnya, jika tidak mungkin gaun putih tersebut sudah terkena noda darah.
Supir Zima melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Kepala Nima berada di pangkuan Zima.
"Kak, apa aku keguguran?" tanya Nima.
"Jangan bicara seperti itu, berharap saja yang terbaik," jawab Zima. Zima tidak menyangka dia akan menjadi ayah, bahkan dia tidak ingat saat berhubungan badan dengan Nima.
Sam dan Nay mengikuti mobil Zima dari belakang. "Mereka beruntung ya, Sam. Berhubungan sekali langsung dapat anak. Kita yang sudah tidak terhitung belum mendapat keturunan," lirih Nay.
"He, kamu tau dari mana mereka hanya sekali berhubungan?" tanya Sam.
__ADS_1
"Nima sendiri yang bilang, saat kita ke apartemen Kak Zima sebulan yang lalu."
"Kalau begitu, mungkin memang sudah takdir Tuhan. Aku yakin kita juga akan memiliki anak kita sendiri."
Nay hanya terdiam mendengar penuturan Sam, sudah tidak tau harus menjawab apa karena memang apa yang dikatakan Sam adalah benar."
Sam dan Nay tiba di rumah sakit, sudah ada Retno dan Sinta, mereka menunggu di luar pintu Instalasi Gawat Darurat. Tidak lama pintu terbuka, Zima keluar dari ruang Instalasi Gawat Darurat.
"Zima apa yang terjadi?" tanya Retno langsung bangun dari duduk setelah Zima keluar dari ruang Instalasi Gawat Darurat.
"Emmm." Zima ragu mengatakannya.
"Cepat katakan apa yang terjadi? Bagaimana bayinya?" cecar Sinta.
Zima melihat sekeliling, wajah-wajah penuh kekhawatiran. "Sebenarnya, Nima tidak keguguran."
"Syukurlah, jangan tambah lagi cobaan di keluarga kami Ya Tuhan!" ujar Retno bersyukur, tidak bisa dibayangkan jika Nima harus keguguran sedangkan Nay sulit mengandung.
"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kandungannya lemah? Bagaimana dengan Nima?" Beruntun pertanyaan dilontarkan oleh Retno.
"Maksudku, Nima tidak keguguran karena dia tidak hamil!"
"Apa!" Teriak semua orang yang menunggu Nima di ruang IGD.
"Lalu, darah itu?" tanya Nay.
"Itu darah menstruasi, Nima mengalami dismore!" ujar Zima.
"Mungkin maksudmu dismenore?" ucap Nay.
__ADS_1
"Ah, iya itu maksudku! Jadi mual dan kram perutnya karena dismenore saat haid tersebut dan juga Nima mengalami anemia jadi kepalanya pusing. Mungkin karena lelah mempersiapkan pernikahan."
Semua orang bernafas lega setelah mendengar Nima baik-baik saja walaupun harus menerima kenyataan bahwa Nima tidak hamil.
"Syukurlah, kalau baik-baik saja. Aku mau bertemu Nima dulu," ucap Sinta setelah itu masuk ke ruang IGD untuk bertemu Nima.
***
Hari pernikahan Nima dan Zima pun tiba, dekorasi yang dihiasi dengan lambang N&Z memenuhi aula pernikahan.
Terdapat satu spot photo untuk para tamu yang dihiasi dengan lukisan yang dibuat sendiri oleh Nima. Lukisan dirinya bersama dengan Zima. Kue pernikahan juga sangat unik karena di buat oleh seorang cake decorator terkenal.
Senyum bahagia terpancar dari pengantin dan semua tamu yang menghadiri. Semua kerabat, teman dan rekan kerja datang. Dari kalangan bisnis hingga seniman semua berkumpul di dalam aula. Tidak heran jika pernikahan mereka banyak yang menghadiri karena Zima dan Nima cukup banyak bergaul dengan teman-teman nya.
Nay ikut bahagia atas pernikahan mereka, dia memandang dari jauh kebahagiaan pengantin, dan Sam memandang wajah istrinya yang berada di sampingnya.
"Maaf!" ucap Sam.
"Kenapa minta maaf?" Nay mengalihkan pandangannya pada Sam setelah mendengarnya bicara.
"Maaf karena pernikahan kita sebelumnya tidak seperti ini."
"Tapi aku sangat bahagia hidup denganmu. Aku tau kamu diam-diam berusaha membuat sesuai dengan kesukaan ku. Kamar pengantin kita pasti idemu kan?" ucap Nay penuh senyum.
Sam hanya tersenyum mendengar perkataan Nay, memang dia yang menyiapkan kamarnya menjadi selera dengan kesukaan Nay. Dia tidak pernah lupa Nay sangat menyukai laut.
Bersambung...
Terimakasih yang masih setia dengan kisah Samudra Nayna 🙏🙏🙏
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan like, vote, love n komentarnya 😊😊
Salam Age Nairie 🥰😘😘