
Sam tidak menyangka dia akan kalah lagi oleh Nay, Sam tau, Nay bukan tidak mendengar permohonan maafnya tapi hanya mengerjainya, namun tetap saja dia melakukan apa yang disuruh oleh Nay.
Saat Sam mengetahui Nay akan dinas, malam itu juga dia mengatur jadwal penerbangan mereka, jadi saat ini mereka bisa duduk berdampingan di dalam pesawat.
“Kamu mengerjai ku,” ucap Sam.
“Tidak!” Nay menyangkal.
“Kamu sengaja, membuatku mengulang permintaan maaf ku."
“Aku hanya ingin melihat ketulusan mu dalam meminta maaf.”
“Memangnya harus di dengar banyak orang apa, kan aku malu, tadi di lihat banyak orang.
Sudah seperti gorila di kebun binatang saja dilihatin!” ucap Sam panjang lebar.
“Kamu sendiri yang menganggap dirimu gorila! aku sih tidak merasa, lagi pula aku memintamu bicara dengan lantang bukan teriak.”
"Bisa bisa saja beralasan,” gumam Sam.
“Kalau tidak tulus jangan meminta maaf, lagi pula tidak ada yang memaksamu meminta maaf!" Nay mendengus.
“Lagi pula apa permintaan maaf mu itu bisa menarik kata katamu yang menyakitkan itu.
Aku hanya ingin melihat ketulusan mu saja, tapi kamu masih saja membuat ku kesal.”
Lanjut Nay bicara, setelah itu membuang muka menghadap jendela.
“Jadi kamu kesal sekarang?”
Nay membalikkan kembali wajahnya menghadap Sam, bisa bisanya Sam bertanya apakah dia kesal.
“Bagaimana aku tidak kesal setelah apa yang kamu lakukan padaku, kamu bilang aku perempuan penggoda, selingkuh, kabur bersama pria lain, kamu bilang aku rubah dan sekarang kamu tanya aku kesal atau tid ....”
Suara Nay tenggelam masuk kedalam ciuman Sam, lagi lagi Sam mencuri cium dan lagi lagi Nay tidak bisa berkutik dan hanya bisa menerima, Sam menghentikan ciuman mereka dan membisikan ucapan maaf di depan wajah Nay.
“Aku minta maaf dan tidak akan asal menuduh lagi, tapi untuk kamu rubah betina aku tidak akan meminta maaf, karena dengan mu bicara saja sudah menggoda diriku.”
Sam kembali mencium Nay dengan lembut, setelah cukup lama mereka menghentikan aktivitas ciuman mereka.
“Jangan pernah dekat dengan pria manapun, apalagi tersenyum dihadapan mereka karena setiap gerakkan mu akan membuat orang lain tergoda.”
“Gombal, kau kira aku itu Succubus!” ucap Nay.
“Apa itu?”
“Iblis penggoda yang menyerupai seorang perempuan,” jelas Nay.
“Tidak perlu jadi Succubus, cukup jadi rubah betinaku!
tapi aku serius, jangan pernah bicara dengan pria lain,” ucap Sam dengan nada yang sangat serius.
“Tidak mungkin aku tidak bicara dengan pria lain, aku bukan tinggal di hutan yang tidak bertemu orang lain, lagi pula apa hak mu melarang ku?”
“Aku menggunakan hak ku sebagai suamimu.”
“Tapi kamu boleh dekat dengan wanita lain?”
“Apa kamu pernah lihat, selama lebih satu bulan kita menikah, aku dekat dengan seorang wanita?”
"Benar juga, selain wanita yang bertemu saat honeymoon aku tidak pernah melihat wanita manapun di dekat Sam," batin Nay.
“Pernah lihat," Nay berucap.
“Ish.,. apa matamu buta? mana ada, satu pun tidak ada."
“Siapa itu siska?”
__ADS_1
“Siska siapa?”
“Yang di maldives?”
“Oh, dia yang mendekatiku dulu, katanya satu kampus denganku! bukannya dia juga sudah menjelaskan padamu?”
“Tapi jelas sekali dia tertarik padamu!”
“Tau dari mana? Kami hanya ngobrol sebentar, kamu sudah berfikiran terlalu jauh… jangan jangan kamu benar cemburu ya waktu itu?” tanya Sam antusias.
“Mana ada! terserah kamu berbuat apa, tapi setidaknya jangan di depan mataku,” ucap Nay.
“Tidak akan,” Sam berkata dengan serius.
"Apa kata kataya bisa di percaya," batin Nay.
“Jalan saja di jalan mu sendiri dan aku jalan di jalan ku sendiri sesuai dengan perjanjian awal kita," ucap Nay.
“Tidak ada perjanjian pra nikah Nay, kamu harus ingat itu.”
“Ish...,” keluh Nay.
Mereka terdiam, setelah diam beberapa saat akhirnya Nay mengeluarkan suaranya lagi, “Sam, sepertinya kita harus bicara serius.”
"Memangnya dari tadi tidak serius? sudah aku ngantuk lanjut nanti saja bicaranya, memang nya kamu tidak lelah apa bicara terus?” Sam memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di bahu Nay.
Nay tidak menolak saat kepala Sam bersandar di pundaknya, "apa sudah saatnya aku menaruh kepercayaan ku padanya," batin Nay.
…………………………..
“Dia sudah tiba disini,” ucap Enzo.
“Kamu sudah mengatur semuanya?” tanya Justin.
Justin menggunakan perusahaan Enzo untuk bekerjasama dengan perusahaan Nay.
“Tidak masalah, jalankan sesuai rencana.”
………….
Nay dan Sam sudah sampai di hotel mereka tinggal, siang mereka dihabiskan dengan berkutat di depan laptop masing masing untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
“Nanti malam, mau makan apa?” tanya Sam.
“Kamu makan saja sendiri, nanti malam aku akan bertemu klien.”
“Perlu aku antar?”
“Tidak perlu, aku bisa naik taxi.”
“Tidak usah naik taxi, aku sudah siapkan mobil selama disini, biar aku yang mengantarmu.”
“Memangnya kamu tidak sibuk?”
“Tidak.”
“Baiklah, kami bertemu di hotel klien ku tinggal, nanti kamu tunggu di luar saja.”
“Di hotel?” tanya Sam.
“Iya, di ruang pertemuannya,” jelas Nay.
…………..
Malam pun tiba, saatnya bertemu klien, Nay dan sam sudah sampai di lobby hotel tujuan.
“Kenapa mengikuti ku? kamu tunggu disini saja.”
__ADS_1
“Tidak, aku ikut!" Entah kenapa ada perasaan tidak enak di hatinya.
“Untuk apa kamu ikut?” tanya Nay.
“Anggap saja aku ini asisten mu!”
"Kenapa hanya sendiri, saat bertemu klien," batin Sam.
Memasuki ruangan sudah terdapat dua orang Enzo dan Ari.
“Selamat malam nona Nayna?” Enzo mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Nay.
“Malam, Tuan Enzo,” jawab Nay.
“Ini Ari, asistenku,” Enzo menunjuk Ari dan mereka bersalaman.
“Dan ini Samudra, asistenku,” Nay memperkenalkan Sam sebagai asistennya.
"Menyebalkan, benar benar memperkenalkanku sebagai asisten," umpat Sam dalam hati.
Mereka berbincang mengenai kerjasama bisnis, saat Nay akan menyetujui kerjasama diantara perusahaan Enzo dan Nay, disitu Sam interupsi.
“Baik Tuan Enzo, akan kami pertimbangkan terlebih dahulu, jika memang sudah cocok dan sesuai kami akan menghubungi pihak Tuan Enzo!” ujar Sam.
“Bukankah Nona Nayna sebagai decision maker?” tanya Enzo.
“Ya benar, tapi kami harus mempertimbangkan beberapa hal terlebih dahulu, jadi saya harap Tuan Enzo bisa mengerti," jawab Sam lugas.
“Baik, aku mengerti,” ucap Enzo.
“Jika seperti itu kita akhiri pertemuan kita disini, kami akan menghubungi pihak Tuan Enzo lagi jika sudah mengambil keputusan!” Ucap Sam sambil bersiap untuk pergi.
“apa kalian tidak mau makan malam dulu?” tawar Enzo.
“Terima kasih atas undangannya tapi kami masih ada keperluan lain,” lagi lagi Sam yang berbicara.
“Setidaknya, minumlah dulu,” ucap Enzo.
“Maaf, kami tidak minum alkohol!” Sam menolak tawaran Enzo, setelah itu mereka pamit.
Nay dan Sam keluar ruangan, Enzo menatap kepergian Sam dan Nay, mengambil ponselnya dan menelpon Justin.
“Tidak berhasil, Samudra ikut bersamanya namun Nayna mu memperkenalkannya sebagai asisten bukan sebagai suami,” ucap Enzo.
Tidak ada jawaban dari Justin, setelah Enzo bicara dia mematikan ponselnya.
…………….
Setelah keluar dari hotel Nay dan Samudra langsung menuju mobil mereka.
“Kenapa kamu membatalkan kerjasama?” tanya Nay.
“Kamu kenal dari mana orang itu?” bukannya menjawab namun Sam malah balik nanya.
“Dari head manajer cabang sini, kenapa?”
“Jauhi orang itu!” ucap Sam dengan masih mengendarai mobilnya.
“Ini perusahaan ku, kenapa harus kamu yang mengurusnya?”
Sebenarnya Nay juga merasa kurang cocok bekerjasama dengan Enzo, karena itu dia tidak menghentikan apa yang dilakukan Sam.
“Apa kamu tidak lihat proposal nya tadi? itu akan lebih merugikan perusahaan mu!" jelas Sam.
"Bukan hanya perusahaan tapi kamu juga akan hancur," batin Sam.
Walaupun Sam tidak minum alkohol namun dia bisa membedakan perbedaan warna minuman yang ada di gelas mereka dengan yang di gelas Enzo, meski perbedaannya sangat tipis namun penglihatan Sam sungguh tajam dan sangat yakin bahwa ada yang tidak beres dengan yang ada di minuman mereka.
__ADS_1
Bersambung....