SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 30 Sayang


__ADS_3

Sam melajukan mobilnya menuju kantor Nay, perkataan Bian mengganggu pikirannya. Bagaimana mungkin hal itu tidak terpikirkan olehnya. Apa yang harus dia lakukan jika memang bertemu dengan Ryawan.


Tidak terasa sudah sampai dikantor Nay, mengeluarkan hand phonenya dan melakukan panggilan.


“Belum selesai?” tanya Sam.


“Sudah, ini lagi turun,” jawab Nay.


“Oke!” ucap Sam.


“Oke!” Nay pun menjawab seperti yang Sam katakan.


“Kenapa tidak tutup teleponnya?”


“Bukannya kamu yang bikin peraturan bahwa aku tidak boleh menutup telepon mu duluan!”


“Oh, iya!” Sam terdiam dan enggan menutup teleponnya.


“Sam, kamu kenapa? Kok diam?”


“Tidak apa apa.”


“Cepat tutup teleponnya!”


“Tidak mau!”


“Kalau gitu aku yang tutup teleponnya yach?”


“Tidak boleh!”


“Kenapa jadi manja banget sech.”


“Masa?”


“Kamu jadi aneh!”


“Aneh bagaimana?”


Sam belum mendapat jawaban dari Nay, kaca mobilnya sudah ada yang mengetuk. Sam menoleh melihat orang yang mengetuk kaca mobilnya, lalu terseyum setelah melihat siapa yang mengetuk.


Nay memberi isyarat kepada Sam untuk mematikan teleponnya dan membuka pintu mobil.


Sam mematikan sambungan teleponnya dan membukakan pintu mobil, Nay masuk ke dalam mobil.


“Sudah lama menunggu?” tanya Nay setelah masuk ke dalam mobil.


“Tidak!” Sam mulai melajukan mobilnya menuju café tujuan mereka.


“Kamu sudah tau dimana letaknya?”


“Yellow café bukan?”


“Uhm.”


“Tadi kamu belum jawab pertanyaanku.”


“Pertanyaan yang mana?”


“Kamu bilang aku aneh?”


“Oh, iya. Kamu tuh aneh, terlalu banyak mengatur!”


“Apa iya?”


“Uhm.”


“Kamu keberatan?”


“Selama masih wajar, aku tidak akan marah.”


Sam menoleh melihat wajah Nay, mengangkat tangan kirinya untuk mengusap kepala Nay.


“Istri yang patuh,” puji Sam.


Nay hanya menanggapi dengan tertawa kecil, begitu pun dengan Sam. Dia melupakan sejenak tentang apa yang tadi mengganggu pikirannya.


Sudah sampai di tempat tujuan, Sam menghentikan mobilnya dan memakirkannya.

__ADS_1


“Sudah sampai, ayo turun sayang.”


“What?” tanya Nay terkejut dengan ucapan sayang Sam.


“Aku bilang sudah sampai, ayo turun.”


“Kurang lengkap! Tadi masih ada lanjutannya.”


Sam mengerti apa maksud Nay. Menatap dengan senyum di wajahnya dan berucap, “Sayang, kita sudah sampai. Ayo kita turun.”


“Ha.. Ha.. Lebayyyyyyyyyyy,” Nay tidak bisa menahan tawanya, dia merasa geli dengan panggilan sayang dari Sam.


“Kenapa lebay? bukan kah wajar dengan panggilan itu.”


“Entahlah Sam, kita sudah terbiasa dengan panggilan nama saja.”


“Kalau gitu kita ubah dari sekarang.”


“Tidak mau, jadi aneh tau.” Nay membuka pintu mobil dan berjalan keluar.


Sam pun keluar dari mobil dan mengikuti Nay.


“Sayang, tunggu!” teriak Sam.


Nay menoleh kebelakang, mengerutkan dahinya, malu dengan apa yang di ucapkan oleh Sam.


“Sam sudah, jangan panggil sayang! Aku masih belum terbiasa.”


“Baiklah, istriku!” ucap Sam.


“Ish, sudah ayo masuk.”


Mereka memasuki yellow café, suasana makan siang sedikit ramai namun Nay sudah reservasi di privat room. Mereka datang lebih awal dari waktu janjian sehingga Sam dan Nay harus menunggu kedatangan Lori.


“Orangnya belum sampai?”


“Belum.”


“Mau pesan makanan dulu?” tanya Sam.


“Baik, Istriku!”


“Apa sih, aneh lagi dech,” ucap Nay


“Kenapa sih kamu bilang aku aneh mulu?”


“Emang aneh, ga merasa?”


“Enggak.”


“Sudah cepat pesan minuman, aku haus berdebat denganmu.”


Nay membuka buku menu dan memilih minuman yang dia mau.


Nay memanggil waiters untuk memesan minuman.


“Jasmine tea satu, es cappucino dengan gula aren satu.”


Waiterss menuliskan pesanan Nay dan bertanya, “Ada lagi nona?”


Nay beralih pada Sam, “Sam, kamu pesan apa?”


Sam melihat isi buku menu, “Cafe au lait satu, Mba”


“Apa ada tambahan lagi?” kata Waiterss.


“Cukup, itu saja dulu,” ujar Nay.


Waiterss pamit meninggalkan mereka.


“Es cappucino dengan gula aren, bukannya kamu tidak suka kopi, kenapa kamu pesan itu?” tanya Sam.


“Oh, bukan untuk ku, tapi untuk Lori,” jelas Nay.


“Kamu tau kesukaannya?”


“Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya, jadi tau apa yang dia minum.”

__ADS_1


“Kamu perhatian sekali,” ejek Sam.


“Bukan perhatian, tapi ingatan ku bagus, jadi aku tau apa yang disukai orang lain hanya dengan sekali lihat.”


“Lain kali tidak usah perhatian dengan pria lain, cukup lihat aku saja.”


“Pekerjaanku mengharuskan bertemu banyak klien, dengan sedikit perhatian saja membuat orang nyaman, kalau sudah nyaman akan mudah bekerjasama.”


“Dalam bisnis tidak perlu perhatian, yang penting adalah kualitas!”


“Service juga merupakan sebuah kualitas. Coba kamu lihat, jika pelayanan di café ini buruk, pasti tidak akan ada pelanggan yang akan datang walaupun makanan di sini enak!” jelas Nay.


Sam baru saja akan membalas perkataan Nay, namun seseorang sudah berada di depan mereka.


“Siang Nona Nayna,” sapa Lori.


“Duduklah,” ucap Nay.


Lori duduk tepat di depan Nay, bertepatan dengan waiterss datang membawakan minuman mereka.


“Nona sudah memesankan saya minum?” tanya Lori.


“Sudah, minumlah.”


“Es Cappucino dengan gula aren, kesukaan ku,” ucap Lori sambil memium Es Kopinya.


“Oh ya, perkenalkan. Ini Samudra, suamiku,” Nay memperkenalkan Sam pada Lori.


“Siang, Pak Samudra, saya Lori!”


Sam hanya menganggukan kepalanya saja.


“Apa yang kamu temukan?” tanya Nay.


“Orang yang memfitnah mu adalah keluargamu sendiri!” Lori mengeluarkan map, dan menyerahkannya kepada Nay.


Nay membuka map tersebut dan mengeluarkan isinya.


“Nima,” lirih Nay.


Sam menatap Nay, lalu mengambil map yang di pegang oleh Nay.


“Bisa kau jelaskan lebih terperinci?” ujar Sam pada Lori.


Lori mulai menjelasakan, “Orang yang memfitnahmu adalah gadis bernama Nima, sepupumu sendiri. Dia menyuap Dokter Stella, dia adalah dokter kandungan yang ijin prakteknya sudah di cabut, karena itu dia melakukan tindakan ilegal aborsi.


Namun saat aku mengorek informasi tentang ini, aku mengalami sedikit kesulitan seperti ada yang menutupi kasus ini. Setelah kejadian aborsi yang menimpamu, dokter Stella juga menghilang. Aku bahkan menemukannya di desa terpencil.”


“Mungkin Nima lah yang menutupi kasus ini agar tidak meninggalkan jejak.” Nay menduga semua ini adalah perbuatan Nima.


“Bukan, mungkin yang memfitnah benar Nima, tapi yang menutupi kasus ini aku yakin bukan dia,” ujar Sam.


“Kenapa bukan dia?” tanya Nay.


“Nima tidak sepintar itu! Dia hanyalah pelajar SMU.”


“Dia punya pemikiran untuk memfitnahku melakukan aborsi, pasti dia juga bisa berfikir untuk tidak meninggalkan jejak.” Nay geram, mengingat apa yang telah dilakukan oleh Nima.


“Kalau pun memang dia yang ingin menutupi kasus ini, pasti ada orang lain di belakangnya,” jelas Sam.


“Tapi siapa?” tanya Nay.


“Kita akan mencarinya, aku akan membantumu.”


“Apa kamu mau membantuku?”


“Tentu saja, aku adalah suamimu, masalahmu adalah masalahku juga. Lagi pula, aku juga ingin mengembalikan nama baik istriku.”


“Sam, terima kasih!” ucap Nay tulus.


“Kan aku sudah bilang bukan begitu cara berterima kasih!” Sam menunjuk pipinya.


“Sam,” protes Nay.


Lori hanya melihat interaksi mereka dengan senyuman.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2