SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 31 Mawar Merah dan Lotus


__ADS_3

Sam menghentikan aksinya meminta kecupan di pipi, setelah mendengar nada protes Nay.


Terkadang cinta itu membuat buta, apa mungkin itu yang dialami oleh Sam, tidak sadar bahwa di depannya masih ada orang lain.


Nay menyadari Lori masih memperhatikan interaksi mereka, “Lori, apa kamu mau sekalian makan siang?” tanya Nay.


Lori melihat Nay dan juga Sam, “Tidak, terima kasih!” melihat arlojinya, “aku masih ada urusan.”


“Baik, nanti aku transfer sisanya,” ucap Nay.


“Tugasku masih ada satu lagi, aku akan terus mencarinya.”


“Ya, terima kasih, kerjamu bagus!”


“Senang bekerja denganmu, Bu Nayna!” puji Lori.


“Aku juga.”


Lori pamit pada Nay dan juga Sam, “Aku pamit dulu, Bu Nayna dan Pak Samudra, selamat siang.”


“Siang,” jawab Nay, dan Sam hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah Lori pergi, Sam memutuskan untuk makan siang bersama Nay.


“Sudah berapa lama dia bekerja denganmu?” tanya Sam.


“Belum lama, baru beberapa bulan.”


“Kenapa baru sekarang menyelidikinya?”


“Kalau dulu aku punya kekuatan, sudah dari dulu aku melakukannya.”


Dulu Nay tidak dapat berbuat apa apa, dia hanya lah seorang pelajar yang tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan, berbeda dengan sekarang dia lebih dewasa dan memiliki kekuasaan.


Sam terdiam mendengar penuturan dari Nay, dia sendiri tidak melakukan apa-apa atas apa yang telah terjadi pada Nay di masa lalu. Penyesalan dan rasa malu, itu yang di rasakan Sam saat ini, merasa gagal menjadi seorang laki laki. Dia bahkan tidak membantunya, tapi malah ikut menganggap Nay sebagai wanita penggoda.


“Maaf,” ucap Sam.


“Kenapa?” tanya Nay bingung.


“Karena aku tidak berbuat apa apa saat itu, saat rumor itu beredar, semua orang menatapmu dengan tatapan jijik. Dan kamu menghadapinya sendiri.” Sam berkata dengan rasa penyesalan.


“Sudah, jangan bahas itu lagi! Toh aku juga baik baik saja sekarang.” Nay mengambil minumannya dan menyesapnya.


Sam menarik Nay ke dalam pelukannya dan berkata, “Aku janji tidak akan membuatmu sedih.”


“Aku tidak perlu janji. Jika janji tidak di penuhi, aku hanya akan dapat angin surga saja.”


Sam semakin mengeratkan pelukannya, dia berjanji di dalam hatinya tidak akan membuat Nay menangis lagi.


“Apa yang akan kamu lakukan setelah tau bahwa Nima yang melakukannya?” tanya Sam.


“Tentu aku akan membalas semua perbuatannya?”


“Seperti apa?”

__ADS_1


“Dia akan merasakan seperti apa yang ku rasakan dulu.”


Sam dapat melihat kebencian dalam diri Nay, dia memahami perasaan Nay tapi Sam tidak ingin Nay berbuat terlalu jauh.


“Aku rasa kita harus bicara padanya, kenapa dia melakukan ini.”


Nay menatap Sam, “Aku tau apa yang harus aku lakukan.”


Sam hanya terdiam, tidak tau apa yang sedang dipikirkan oleh Nay.


“Ayo kita kembali lagi ke kantor,” ucap Sam.


“Baik.”


………..


Sam kembali ke kantornya setelah mengantar Nay, berjalan menuju ruangannya dengan segudang pikiran, memikirkan siapa orang yang melindungi Nima, dia sangat yakin bahwa ada orang lain yang terlibat kasus aborsi Nay, belum lagi masalah penyerangan saat di Singapura dan juga masalah kerjasama dengan Enzo.


Bagaimana mungkin banyak orang yang ingin menjatuhkan Nay. Mulai sekarang dia harus lebih ekstra protective pada Nay. Sam melirik telepon di mejanya, mengangkat gagang telepon dan menekan satu angka yang langsung menghubungkan ke telepon Bian.


“Hallo!” sapa Bian.


“Ke ruanganku sebentar,” ucap Sam.


“Baik.”


Bian melangkahkan kakinya menuju ruangan Sam, mengetuk pintu dan masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban.


“Ada apa?” tanya Bian tanpa basa basi lalu duduk di kursi depan Sam.


“Apa sudah ada kabar tentang pengurangan ku di Singapura?”


“Itu artinya ada yang menyuruh mereka?”


“Ya, aku sudah mengintrogasi, tapi mulut mereka sangat rapat.”


“Aku punya tugas satu lagi untukmu, cari orang yang menutupi kasus Aborsi Nay.”


“Maksudmu?” tanya Bian.


“Orang yang memfitnah Nay adalah Nima, sepupunya sendiri. Tadi aku bertemu dengan detektif sewaan Nay, dia kesulitan dalam mencari bukti, seperti ada yang menutupi kasus ini. Tidak mungkin Nima bertindak sendiri, pasti ada orang di belakangnya.”


“Tidak disangka Nima orangnya, dia terlihat sangat polos!”


Sam memandang Bian yang sepertinya tertarik dengan Nima.


“Apa kamu menyukainya?”


“Bukan begitu, Nima itu terlihat sangat innocent. Ibarat bunga, dia bagaikan bunga lotus, indah dan tenang. Berbeda dengan Nayna, bagaikan bunga mawar merah yang menantang dan menggoda namun berduri.”


“Maksudmu apa bilang istriku menantang dan menggoda?” protes Sam.


“Tidak ada maksud, itu hanya perumpamaan saja.” Bian sebal bicara dengan Sam jika mengenai istrinya.


“Ish, walaupun perumpamaan jangan bawa bawa istriku.”

__ADS_1


“Baiklah, tapi kenapa istrimu banyak masalahnya? Apa kamu pernah memikirkannya?”


“Mungkin banyak yang iri dengannya, istriku kan cantik.” Sam berbicara seolah olah dia adalah pria paling beruntung karena bisa menikah dengan Nay.


“Ya, ya, kau benar, Nayna memiliki kecantikan perempuan penggoda, walau dia hanya diam saja sudah membuat orang tergoda, ditambah lagi dengan tatapan dan rambut bergelombang alami yang sangat menantang.”


Sam melihat tajam ke arah Bian, tidak disangka temannya ini menjelekan istrinya sebagai perempuan penggoda di depannya.


Bian menoleh pada Sam, menyadari bahwa dia salah bicara.


“Sam, aku akan menemukan orang dibalik kasus aborsi istrimu itu dan juga aku akan mencari tau orang yang memerintah penyerangan terhadap kalian.” Bian bergegas meninggalkan ruangan, sebelum Sam mengamuk padanya.


“Tunggu dulu!” Sam memanggil Bian masih dengan tatapan tajamnya, “Masih ada tugas lagi untukmu, cari informasi tentang Enzo dan juga cari keberadaan Ryawan!” Sebenarnya untuk masalah Ryawan, dia ingin mengurusnya sendiri tapi terlanjur kesal dengan Bian, maka dia limpahkan semua padanya.


“Baik,” ucap Bian.


…………


Pukul 17.00, waktunya Sam menjemput Nay, karena mereka tidak melalui proses pacaran, Sam memutuskan mengajak Nay untuk makan malam di luar, anggap saja sebagai kencan mereka.


“Kenapa kesini?” tanya Nay setibanya di sebuah restoran.


“Makan malam dulu.”


“Uhm.”


Mereka memilih duduk yang dekat dengan kaca.


“Pesanlah, aku mau ke toilet sebentar,” ucap Sam.


“Baiklah, makananmu aku yang pesan yah,” ujar Nay dan ditanggapi dengan senyuman.


Setelah Sam selesai dengan urusannya di toilet, dia tidak langsung menuju ke kursi yang mereka duduki namun lebih memilih memperhatikan Nay yang sedang asik memainkan ponselnya tanpa sepengetahuannya.


“Apa benar yang di katakan Bian bahwa diamnya Nay sudah membuat orang tergoda,” batin Sam.


Sam masih tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba dia melihat seorang pria tidak kenal mencoba untuk mendekati Nay.


“Sial, yang di katakan Bian benar,” lirih Sam.


Laki laki itu sudah sampai di meja mereka.


“Hai, apa kamu sendirian? apa aku boleh duduk disini?” pinta Pria itu.


Sebelum Nay menjawab permintaan pria itu, sudah terdengar suara Sam ditelinga mereka.


“SAYANG!” teriak Sam.


Bersambung.................


Hallo semua pembaca Samudra Nayna, semoga hari kalian menyenangkan.


Saya Age Nairie , seorang reader sejati yang sedang mencoba menulis. Samudra Nayna adalah karya pertamaku, jadi saya harap bagi yang membaca kisah Sam dan Nay bisa ngasih Saran dan Kritiknya agar saya bisa menulis lebih baik lagi..


Sekalian jangan lupa like, favorite n Vote,.. kalau berkenan :)

__ADS_1


oh ya, ini ada karya otor yang sudah senior nih.. di jamin pasti oke punya... bisa mampir dan nikmati karya Jika_Laudia.



__ADS_2