
Tuhan, apakah ini jalan hidupku? Kamu tidak memberiku anak, apakah ingin memutuskan darah Diska yang mengalir dalam tubuhku, agar tidak ada lagi orang-orang seperti kami?
Nay mencoba menghibur dirinya, dia sudah merasa ada yang salah pada dirinya. Mencoba berpikir positif, mungkin benar Tuhan tidak ingin menciptakan orang-orang seperti dirinya agar tidak ada orang lain yang terluka.
Berdiri di depan laut lepas di depannya, menatap dengan kosong. Harapan memiliki anak mirip seperti Samudra tinggallah angan-angan. Nay mengambil ponselnya, memandang wallpaper dengan photo Sam, dia luruh, terduduk di pasir. Menangis dengan posisi dahi menyentuh lutut. Menangis begitu pilu, meratapi nasibnya yang pahit. Dua puluh lima tahun hidup penuh tekanan, hatinya hancur setelah mengetahui fakta menyakitkan tentang orang tuanya. Tidak pantaskah dia sekarang bahagia?
Baru sebentar merasakan bahagia mendapatkan suami yang mencintainya, keluarga yang mulai harmonis. Namun, seperti hanya mendapat sedikit jatah kebahagian untuknya, kembali merasakan pahit kehidupan. Tangisan yang tidak dapat ia tahan terus mengalir tanpa terkendali, sempat menjadi perhatian beberapa orang yang sedang berada di sana. Tapi, tidak ada yang mendekati, bukan berarti jahat. Namun, terkadang menangis bukan hanya karena sakit, melainkan melepaskan sesak di hati agar kepedihan itu berkurang.
Hujan mulai turun, begitu pula dengan air mata Nay yang belum berhenti, menyamar bagaikan air hujan yang turun dari langit. Tiba-tiba hujan berhenti di atas kepalanya, Nay mendongakkan kepalanya. Bukan hujan ajaib yang berhenti di atas kepalanya, melainkan ada sebuah jas yang menghalangi hujan turun ke kepalanya.
“Sam.”
Sam hanya tersenyum melihat Nay, mencoba untuk menguatkan wanitanya, melihat balutan di tangan Nay membuat hatinya sedih dan khawatir. Dia yakin, Nay sudah mengontrol dirinya. Dia memilih menyakiti dirinya daripada harus menyakiti orang lain.
“Ayo, kita masuk ke rumah,” ajak Sam, dia mengulurkan tangannya untuk Nay.
Nay menyambut uluran tangan Sam, dia berdiri dan langsung memeluk tubuh Sam. Sam membalas pelukan tersebut dan membuat jas-nya terjatuh, mereka bermandikan air hujan. Sam melepaskan pelukannya, menghapus air yang ada di pipi Nay, entah air mata atau air hujan.
“Kita akan selalu bersama, apapun keadaannya!” ucap Sam penuh keyakinan. Tidak ada kekhawatiran lagi tentang perasaan, Sam sangat yakin mereka saling mencintai. Namun, ada rasa kekhawatiran yang tidak bisa dijelaskan dihatinya.
“Apa kau tidak akan meninggalkanku? Apapun keadaanku?”
“Tidak akan!” jawab Sam yakin.
__ADS_1
Sam membingkai wajah Nay, dia mulai menciumnya di tengah hujan, air membasahi bibir yang saling bertautan, ada rasa di air tersebut, mereka tidak peduli rasa asin dari air mata ataukah rasa asam dari air hujan.
Mereka kembali kerumah, di dalam rumah memang sudah di siapkan barang-barang pribadi mereka, agar tidak perlu repot membawa barang saat berkunjung kerumah tersebut.
“Aku siapkan air hangat untuk mandi dulu, yah?” ucap Sam.
“Uhm.”
Setelah membersihkan diri, mereka duduk di sofa ruang TV, Sam mengambil kotak obat, membuka balutan luka Nay yang sudah basah dan menggantinya. Selama proses tersebut, Sam tidak bertanya mengapa tangannya terluka. Dia sudah tau penyebabnya, setelah melihat pecahan gelas di restoran. Begitupun dengan Nay, tidak perlu menceritakan apa yang terjadi karena dia yakin Sam pasti sudah mengetahuinya.
“Kamu pandai segala hal, Sam,” puji Nay saat Sam selesai mengganti perbannya.
“Apa kamu percaya? aku pernah menolong orang dengan mengeluarkan peluru di dalam tubuh seseorang?”
“Baiklah jika tidak percaya, kamu akan terpukau jika bertemu orang yang kutolong.”
“Memangnya siapa yang kamu tolong?”
“Tadi meragukanku! Sekarang malah bertanya?”
“Sudah, cepat katakan, siapa? Apa presiden? Atau artis terkenal? Biasanya orang-orang terkenal banyak yang tidak suka,” tanya Nay penasaran.
“Bukan mereka, yang aku tolong adalah bos Mafia.”
__ADS_1
Pufft..
Nay tertawa mendengar ucapan Sam, “Kalau ngibul jangan ketinggian, mana ada kamu kenal dengan mafia?”
“Ya, sudah kalau tidak percaya.” Ucap Sam menaikan satu alisnya. “Kamu pasti lelah, ayo istirahat. Kita menginap saja disini.”
“Uhm.”
Mereka ke kamar utama, pertama kalinya mereka akan tidur di kamar itu. Tapi, bukan pertama kalinya mereka mencoba ranjang yang ada di kamar tersebut.
Sam mengelus lembut surai rambut Nay yang dalam keadaan lurus tidak sempurna. Ya, rambutnya sudah mulai sedikit bergelombang. Bagaimanapun, buatan manusia tidak dapat menandingi kekuasaan Tuhan. Maka, pasti akan kembali ke wujud asli dari yang Tuhan ciptakan.
Nay memeluk erat Sam, bagai ketakutan kekasih hatinya pergi meninggalkannya. Sam merasakan kekhawatirannya itu, dia membalas pelukan Nay, mendekapnya bagai ingin memasukan kedalam tubuhnya agar tidak ada yang mengambilnya. Mereka terlelap hingga pagi menjelang.
Bersambung…..
Jangan lupa like dan komentar nya 🙏🙏
Terima kasih 🙏🙏
Salam Age Nairie 🥰🥰😘
Otor membawa rekomendasi dari otor kece nih .. cus kepoin yah Sahabat Jadi Nikah.. 😊
__ADS_1