
Sam hanya bisa tersenyum melihat istrinya, dia senang menggoda Nay.
“Oh ya, hari minggu ini ada reuni SMA kita, kamu mau datang?”
“Ada reuni? Benarkah?”
“Iya, kamu mau ikut tidak?”
“Terserah kamu saja, aku juga tidak punya banyak teman sepertimu!”
“Kalau begitu datang saja, siapa tau kamu jadi banyak teman.”
“Tapi teman-teman kita belum banyak yang tau tentang pernikahan kita, mereka terkejut tidak ya kalau tau kita menikah?”
“Kalau gitu sekalian kita umumkan saja kalau kita sudah menikah, pasti mereka akan terkejut, mungkin nanti kita akan jadi cemoohan, pria yang telah kamu permalukan malah menikah denganmu!”
“Ya sudah tidak usah hadir saja!”
“Kamu takut jadi bahan cemoohan?”
“Tidak, aku sudah biasa, yang aku takutkan dirimu! Kehidupanmu selalu berjalan lurus tidak seperti diriku yang berlika-liku, aku takut kamu yang tidak kuat dengan omongan mereka.”
“Ish, meremehkan diriku, sudah kita datang saja, aku ingin tau apa mereka berani mencemoohku!”
“Ya, terserah kamu saja.”
***
Sesampainya di kantor, ponsel Nay berdering, nomor tidak dikenal.
“Hallo!”
“Hallo, Nay! ini aku Ryawan”
“Ya, ada apa?”
“Aku ingin meminta waktumu sebentar, apa boleh?”
“Ya, tentu! Ada apa Wan?”
“Aku mau mengajakmu ke suatu tempat.”
“Kemana?”
“Rumah sakit.”
“Rumah sakit?”
“Ya, ibuku ingin bertemu denganmu.”
Nay tidak enak menolak, terlebih ibunya Ryawan sangat baik padanya dulu, “Oh, baiklah, kapan kita kesana?”
“Saat jam makan siang saja, agar tidak mengganggu waktu kerjamu.”
“Baiklah, kamu kirimkan saja alamatnya, nanti aku kesana.”
“Baik, terima kasih Nay.”
“Tidak perlu berterima kasih, kita sudah seperti saudara, kamu dulu sudah banyak membantuku.”
“Ya.”
Jam makan siang pun tiba, Nay menuju ke rumah sakit tujuan, dia bertemu Ryawan di depan ruang rawat ibunya.
“Kamu sudah sampai?” ucap Ryawan.
“Ya, dimana Tante?”
“Ada di dalam, ayo masuk.”
Mereka masuk kedalam, Nay membawa keranjang buah, “Siang Tante Feli, bagaimana keadaan Tante?”
Feli melihat Nay dengan senyum diwajahnya, “Nayna! Kamu datang?”
__ADS_1
“Iya aku datang.” Mereka berpelukan.
“Aku sangat merindukanmu, sudah hampir tujuh tahun kita tidak bertemu.”
“Aku juga merindukan Tante, Tante sakit apa?” Nay melepaskan pelukannya.
“Biasalah, penyakit tua! Kamu tambah cantik saja Nayna.”
“Terima kasih Tante.”
“Sekarang Ryawan sudah sukses, tinggal menikahnya saja belum, apa kamu mau menikah dengannya?”
“Ha?” Nay terkejut dengan penuturan dari Feli, beralih menatap Ryawan.
“Bu, jangan membicarakan pernikahan!” tutur Ryawan.
“Umurmu sudah berapa? sekarang Nayna sudah kembali mau tunggu apa lagi?”
“Kita bicarakan ini nanti saja, sekarang aku dan Nayna masih ada pekerjaan, kami harus kembali ke kantor.”
Nay hanya memperhatikan interaksi ibu dan anak tersebut tanpa mau menyela pembicaraan mereka.
“Nayna, kamu harus sering berkunjung ya?” ucap Feli.
“Iya, Tante! Aku akan sering berkunjung, aku permisi dulu.”
“Ayo Nay!”
“Baik.”
“Hati-hati dijalan.”
Mereka keluar dari ruang perawatan.
“Ryawan, bisa kita bicara?”
“Ya, tentu.”
“Kita bicara di taman saja.”
“Ada apa?” tanya Ryawan.
“Sebenarnya, aku sudah menikah!”
“Ya, aku tau, dengan Samudra.”
“Kamu tau?” tanya Nay terkejut.
“Uhm, mudah untukku mencari informasi! Sebenarnya aku menenuimu karena ibuku merindukanmu tapi maaf dia menganggapmu calon istriku, dia sangat menyukaimu sejak dulu.”
“Mungkin karena gossip disekolah yang bilang kita pacaran! emm, kamu sudah berapa lama kembali kesini?”
“Sudah sekitar Enam bulan.”
“Tidak lama setelah aku kembali kesini juga! Oh ya kamu belum cerita bagaimana kamu bisa berada di Jerman.”
“Setelah aku menghadap kakekmu, nampaknya dia tidak percaya bahwa aku telah mencoba menodaimu, namun dia tidak berbuat apapun padaku, dia tau tentang masalahku dan memberiku sejumlah uang untuk pergi, dia merekomendasikan dokter di Jerman untuk ibuku, dari uang yang dia berikan aku gunakan untuk berobat dan juga modal bisnisku dan aku juga bertemu orang yang baik hati disana yang banyak membantuku, hingga bisnisku berkembang sampai saat ini.”
“Wah hebat, kamu bisa sukses dengan usahamu sendiri.”
“Kalau bukan modal dari kakekmu belum tentu aku seperi ini, sebenarnya aku malu bertemu denganmu, aku menggadaikan persahabatan kita dengan sejumlah uang!”
“Itu bukan masalah, asal kamu baik-baik saja.”
“Kalau begitu kita kembali ke kantor saja, apa mau makan siang dulu?”
“Tidak perlu, aku langsung kembali ke kantor saja.”
“Kamu bawa mobil?”
“Tidak, tadi naik taxi.”
“Kalau begitu aku antar.”
__ADS_1
“Terima kasih.”
Mereka bangkit dari kursi taman dan menuju mobil Ryawan terparkir, ponsel Nay berdering setelah masuk kedalam mobil.
“Hallo, Sam!”
“Kamu dimana?”
“Lagi menuju kantor, aku habis dari rumah sakit.”
“Kamu sakit?”
“Tidak, menjenguk ibunya Ryawan, sudah dulu ya aku sedang menuju ke kantor.” Nay tidak ingin menjelaskan terlalu panjang pada Sam, lebih baik menjelaskan jika sudah sampai di rumah.
“Ya.” Sambungan telpon terputus.
“Sam yang menelpon?” tanya Ryawan.
“Iya, oh ya, Sam ingin bertemu denganmu, apa bisa?”
“Tentu, kamu atur saja kapan pertemuannya.”
“Baiklah, aku akan bilang Sam dulu.”
Sepulang kerja, Nay memilih pulang lebih cepat untuk menemui kakeknya, dia ingin tau alasan kakeknya mengirim Ryawan ke Jerman daripada membersihkan namanya di sekolah. Setibanya dikediaman Rastian hanya ada Kakeknya yang sedang duduk sore dengan secangkir teh sambil menikmati pemandangan tanaman di pekarangan. Nima dan Tante Sinta sedang berada di bengkel seni Nima.
“Kakek!”
“Kamu kesini Nay?”
“Ada yang ingin ku tanyakan kek?” Nay duduk disamping kakeknya, menaruh tas kerjanya disamping kakinya.
“Ada apa?”
“Aku sudah bertemu Ryawan, dan aku juga tau bahwa Kakek yang mengirimnya ke Jerman, kenapa Kek?”
“Baiklah, Kakek akan ceritakan, dia anak yang baik hanya saja kurang beruntung, aku tau dia tidak mencoba menodaimu karena kalau itu terjadi pasti reaksimu tidak seperti itu bukan?”
“Iya, tapi kenapa tidak membersihkan namanya disekolah?”
“Kamu mau Kakek bilang apa disekolah? Bilang kalian suka sama suka? Atau memberitahu pihak sekolah tetang claustrophobia-mu?”
“Kakek tau aku terkena claustrophobia?”
“Tentu aku tau, Ryawan pula lah yang membantumu! Aku lihat dia tulus padamu, namun kamu tau aku masih trauma dengan masa lalu anak-anakku, dulu Riko juga dari kalangan biasa, awal menikah dengan Sinta pun terlihat sangat harmonis tapi nyatanya?”
“Tapi kami hanya sebatas persahabatan!”
“Itu kan kamu! Yang aku lihat dia berharap lebih darimu, karena itu aku lebih memilih menjauhkan dirinya darimu, aku takut kamu jatuh cinta padanya.”
“Tidak semua orang seperti Riko, Kek!”
“Ya, kamu benar, hanya saja Kakek masih agak trauma, tapi terserah kamu jika sekarang kamu memiliki rasa dengannya dan rela meninggalkan Samudra!” ucap Kakek dengan menaikan alisnya.
“Mana mungkin aku meninggalkan Sam, lagi pula aku hanya menganggap Ryawan sahabat!”
“Baguslah, tapi jangan terlalu dekat dengannya, kamu harus menjaga perasaan suami.”
“Uhm, aku tau batasan Kek.”
Mereka mengobrol sebentar dan Nay pamit untuk pulang.
Bersambung……….
Jangan lupa like dan masukin daftar favorit
terima kasih masih setia dengan Sam dan Nay,,
bab saat ini yang ringan dulu yah,...
salam age nairie 🥰🥰🥰
Rekomendasi novel oke ni
__ADS_1