SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 21 Maaf


__ADS_3

Sepeninggalan Bian dari ruangannya, Sam terus memikirkan cara untuk meminta maaf kepada Nay, namun tidak juga melepas ke profesional nya dalam bekerja, Sam melanjutkan pekerjaannya dengan teliti.


Waktu menunjukan pukul tiga sore, Sam menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat dan meninggalkan kantornya untuk menuju apartemennya, Sam berencana membuatkan makan malam untuk Nay sebagai permohonan maafnya.


Waktu yang ditempuh dari kantor Sam ke apartemen membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit dengan kecepatan cukup kencang.


Setibanya di apartemen, Sam mulai membuka ponselnya dan browsing cara memasak, membuka isi kulkas mengambil bahan bahan yang akan dimasak, dengan kecerdasannya walaupun tidak pernah memasak tidak sulit bagi Sam memahami cara memasak.


Setelah satu jam berkutat di dapur akhirnya masakannya selesai, tidak lupa untuk mencuci alat alat yang telah dia gunakan untuk memasak, menata rapih hidangan di atas meja makan lengkap dengan bunga mawar putih bertengger di dalam vas bunga indah. Setelah itu menjemput Nay di kantor.


Sesampainya di kantor nay, sam menunggu di dalam mobil dan mengirim chat pada nay.


“Sudah pulang? Aku ada di bawah…” Isi pesan Sam.


Tidak ada balasan dari Nay.


“Nay kita pulang bareng, kita pulang ke apartemen saja." Sam mengirim pesan lagi.


Masih tidak ada balasan namun sudah menandakan chat Sam sudah di baca oleh Nay.


Sam memutuskan untuk langsung menelpon nya, setelah lama berdering barulah ada suara Nay.


“Hallo," ucap Nay.


Nay memang sudah membaca pesen Sam namun enggan membalasnya, ponselnya berdering terus menerus, sangat mengganggunya maka itu di putuskan untuk mengangkat telepon Sam.


“Kamu dimana?”


“Jalan pulang, sebentar lagi sampai."


“Pulang kemana?”


“Rumah”


“Rumah mana?”


“Rumah mertuaku!" Nay langsung menutup teleponnya tanpa menunggu Sam bicara lagi.


Sesampainya di rumah, Zima sudah terlebih dahulu sampai.


“Sore, Kak.”


“Sore, Nay.”


Nay mengingat Nima saat di kantor kakeknya,


“Boleh kita bicara, Kak?”


“Tentu, kita bicara di taman belakang saja, sambil melihat tanaman,” usul Zima.


“Baik,”


Sesampainya mereka di taman belakang, mereka duduk disebuah gazebo yang tersedia di sana.


"Mau bicara apa, Nay?”


“Tadi aku bertemu Nima!"


Zima menoleh, “Kalian sudah mulai akrab?”


"Bukan gitu, tidak sengaja bertemu di ruangan kakek.


Aku mendengar Kakek membentak Nima, dan saat aku datang mereka seperti terkejut gitu.


Wajah Nima pun tidak terlihat begitu baik.”


“Jadi?” tanya Zima.


“Aku ingin Kakak menanyakan keadaannya, sepertinya ada yang disembunyikan!”

__ADS_1


“Dia juga menghindari ku, bagaimana caraku bertanya padanya,” keluh Zima.


“Dicoba dulu Kak, oh ya tadi kakek juga bilang padaku bahwa Nima mau buka pameran lukisannya, Kakak bisa memulai dengan itu!” jelas Nay.


“Kenapa bukan dirimu saja?” tanya Zima.


“Dia kan pernah menyukaimu, jadi lebih mudah jika Kakak mendekatinya, karena tidak mudahkan melupakan orang yang pernah kita sukai."


Zima hanya diam dan mengangguk kecil, memikirkan cara mendekati Nima.


Setelah pembicaraan tentang Nima, Nay dan Zima mengobrol santai.


...............


Sam tiba di rumah, dia langsung mencari keberadaan Nay, melihat ke ruang tv dan ruang tamu tidak ada, lalu menaiki tangga ke kamar mereka juga tidak ada.


Turun lagi ke bawah, bertanya pada ibunya “Bu, Nay sudah pulang?”


“Ibu, belum lihat,” jawab Retno, karena memang saat Nay pulang Retno sedang ada di kamarnya.


Sam melanjutkan mencari Nay, saat dia kearah taman belakang, dia mendengar tawa seorang wanita dan seorang pria. Sam melangkah lebih dekat semakin jelas suara tawa dan juga orang yang tertawa, Zima dan Nay sedang asik tertawa bersama.


Sam tidak pernah seperti itu bersama nya, melihat Nay tertawa lepas bersama Zima membuatnya cemburu.


Di tengah canda tawa Zima dan Nay, Zima menyadari keberadaan Sam.


“Kamu sudah pulang, Sam? “ tanya Zima.


Nay pun sedikit menoleh kearah Sam.


“Ya,” jawab Sam.


Zima melihat Nay berubah jadi diam, dia menyadari ada masalah dengan kedua adiknya.


“Kemari lah, Sam! temani Nay, aku mau mandi dulu!" Zima beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Nay ataupun Sam.


Sam mendekat dan duduk di samping Nay.


“Aku bisa pulang sendiri,” ucap Nay santai.


“Nay!” panggil Sam.


“Hmmm.”


“Aku…." Sam ingin meminta maaf, namun bibirnya sulit mengatakan maaf.


“Aku sudah menunggu di kantormu, lain kali kalau mau pulang sendiri, kasih kabar! Bukannya membuat orang lain menunggu.”


Bukannya minta maaf, Sam malah menambah keributan diantara mereka.


“Apa aku minta di jemput? apa aku bilang mau di jemput oleh mu? perasaan aku tidak bilang apa apa! Kenapa kau harus marah marah kepadaku?” ucap Nay dengan emosi menggebu.


“Setidaknya, kamu balas chat ku.”


“Membalas atau tidak itu adalah hak ku, jadi jangan terlalu inisiatif dalam mengambil keputusan!” ucap Nay dengan marah dan meninggalkan Sam sendiri di gazebo.


Setelah makan malam bersama, Nay dengan mudah mengatur emosinya di depan orang lain, dia asik ngobrol dengan mertuanya namun tidak dengan Sam yang menyibukkan dirinya diruang kerja sambil menunggu Nay selesai mengobrol dengan ibunya.


Sam keluar dari ruang kerjanya menuju kamar mereka, di sana sudah ada Nay yang sedang memasukan pakaian ke dalam koper.


“Apa yang kamu lakukan? kamu mau pergi?” tanya Sam dengan nada sedikit panik.


"Dinas,” jawab Nay dengan terus melanjutkan aktivitasnya merapikan isi koper.


“Kemana?”


“Singapura.”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Ada yang harus ku selesaikan.”


“Berapa lama?”


“Seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan, tidak dapat ditentukan.”


Sam diam, sudah tidak bertanya lagi.


Keesokan paginya setelah sarapan.


“Ibu, Ayah, hari ini aku akan ke Singapura selama beberapa hari, ada yang harus ku kerjakan di kantor cabang Singapura” ucap Nay.


“Apa harus dirimu?” tanya Retno.


“Iya, bu! aku kan lama di sana, jadi sudah tau seluk beluk permasalahan di cabang sana” jawab Nay.


“Kamu jangan terlalu lelah bekerja agar cepat hamil, kalau bisa asisten mu saja yang menggantikan.”


“Aku akan menjaga kesehatanku Bu dan jika sudah terkendali keadaan di sana aku akan segera pulang.”


“Baiklah, jika itu mau mu,” jawab Retno pasrah.


………….


“Mau apa?” tanya Nay saat akan memasukan kopernya ke dalam mobil namun diambil oleh Sam.


“Aku antar ke bandara,” ucap Sam.


Nay pasrah dan masuk kedalam mobil Sam, sesampainya di Bandara, Sam mengeluarkan koper Nay namun tidak hanya satu koper tapi dua koper yang di keluarkan Sam.


“Kenapa ada dua koper?” tanya Nay.


“Aku juga dinas.”


“Oh!” Nay tidak bertanya pada Sam, dia mau kemana.


Mereka berdampingan masuk ke dalam Bandara, sadar Sam terus mengikutinya...


“Kenapa kamu mengikuti ku?” tanya Nay kesal.


“Aku tidak mengikuti mu! Aku juga dinas ke Singapura.”


“Bisa kebetulan gitu, memang kau ada cabang di Singapura?”


“Kamu saja yang tidak tau Bisnisku apa saja,” ucap Sam dengan sombong.


“Baiklah, kalau begitu bisa berjalan menjauh dariku?” ucap Nay dengan gerakan tangan mengusir.


“Kenapa?”


“Kalau sampai dilihat orang, nanti aku dikira sudah punya pasangan!”


“Kamu memang wanita yang sudah menikah!” ucap Sam agak kesal.


“Pokoknya aku tidak mau tau, jauh jauh dari ku!” Nay berjalan pergi menjauhi Sam.


“Dasar rubah!” ucap Sam pelan namun masih bisa terdengar di telinga Nay.


Nay menoleh dan menatap tajam Sam.


“Maaf “ ucap Sam pelan.


“Apa?” sahut Nay.


“Aku minta maaf,” ucap Sam lagi.


“Aku tidak dengar, bicaralah dengan lantang.”


“AKU MINTA MAAF!" ucap Sam dengan kencang dan lantang.

__ADS_1


Bersambung.............


__ADS_2