
Setelah kepergian Nay, Clara menatap Sam dengan serius, “Ada yang ingin Tante omongin sama kamu!”
“Ada apa, Tante?” tanya Sam.
“Begini, sebenarnya dari hasil pemeriksaan istrimu … peluang untuk hamil hanya 8% dan jika pun dibantu obat kemungkinannya hanya 30%.”
Sam mendengarkan secara seksama, menampilkan wajah yang tenang. Bukan berarti dia tidak sedih, hanya saja terkadang dia harus lebih tegar agar bisa menguatkan Nay.
“Jadi, maksud Tante? Itu sama saja tidak bisa hamil?” lirih Sam.
Clara memegang tangan Sam untuk menguatkan, “Seandainya kemungkinan hanya 1%, tetap saja ada kesempatan. Seperti yang aku bilang, apapun bisa terjadi jika Tuhan berkehendak. Tapi, kuminta untuk merahasiakan ini dari Nayna, karena bisa mempengaruhi emosionalnya dan itu tidak baik untuk pengobatannya. Aku tidak ingin menutupinya darimu, karena aku tidak ingin membuatmu terlalu berharap. Kamu hanya perlu menenangkan istrimu. Biasanya, masalah kehamilan lebih sensitif bagi wanita.”
“Baik aku mengerti, aku permisi dulu, Tante.” Sam menarik tangannya dan pergi meninggalkan ruangan Clara.
Sam berjalan menuju apotik dimana Nay menunggu obat, berhenti dari kejauhan, memandang wanitanya yang duduk berdampingan dengan seorang anak kecil. Tertawa lepas dengan anak berambut pirang. Entah apa yang mereka bicarakan, hingga tawa mereka terdengar sangat renyah.
Sam tidak keberatan atas apa yang terjadi. Hanya saja, merasa apa yang dialami oleh Nay begitu tidak adil, tumbuh besar dengan penuh tekanan, mengahadapi kenyataan ibunya yang telah membunuh ayahnya, dan sekarang di tambah masalah kesuburan. Apakah karma Diska di turunkan pada Nay? Diska yang dengan tega memberi obat penghancur janin pada Sinta, dan apakah Nay yang harus menerima karmanya?
Sam tidak keberatan jika memang tidak punya anak, masih ada Zima yang bisa meneruskan darah Alegian. Yang dia pikirkan adalah Nay, dia tau istrinya sangat menyukai anak-anak, memupuskan cita-citanya menjadi guru Taman Kanak Kanak demi meneruskan usaha keluarga. Dia bahkan masih bisa memikirkan Sisil yang jelas-jelas dia membenci Ibunya.
Apakah bisa dia protes dengan Tuhan? Atas dasar apa dia protes? Sedangkan, Tuhan-lah yang mengatur segalanya, manusia hanya dapat berusaha. Maka, biarlah Tuhan yang menentukan akhirnya.
Sam masih dalam lamunannya, di kejutkan dengan suara yang memanggilnya.
“Sam!” Nay memanggilnya dengan tangan yang melambai.
Sam tersenyum dan berjalan mendekatinya, “Apa sudah selesai ambil obatnya?”
“Sudah, ini.” Nay mengangkat tangannya yang memegang paper bag berisi obat. “Kenapa berdiri di sana?”
“Hanya ingin memandangmu dari jauh.”
“Ish, bisa memandang lebih dekat, untuk apa memandang dari kejauhan.”
Sam tidak akan bilang, dia senang melihat Nay bersenda gurau dan tertawa lepas dengan seorang anak kecil pirang tadi. Dia mendekati Nay hingga jarak wajah mereka hanya berjarak lima centimeter. Nay panik, dia pikir Sam akan menciumnya di tengah keramaian. Namun, detik berikutnya Sam menjentikan jarinya ke dahi Nay.
“Auw, kenapa menyentil dahiku?” ucap Nay mengusap dahinya.
__ADS_1
“Kan, kamu sendiri yang bilang, aku bisa memandangmu lebih dekat.”
“Iya, tapi tidak sedekat itu! Pake nyentil segala lagi!”
“Abis, dari ekspresimu seperti minta dicium!”
“Ha! mana ada? Sembarangan!”
“Ayo, kita pergi,” ajak Sam.
“Ayo.”
“Mau kemana lagi sekarang?” tanya Sam.
“Terserah kamu aja.”
Sam akan melakukan apapun untuk membuat Nay senang. “Bagaimana kalau ke Jepang saja? sekalian membuktikan Salju Berlian.”
“Bukannya kamu bilang itu hanya legenda? Kenapa jadi kamu yang bersemangat sekali ke sana?” ejek Nay.
“Iya, tapi demi menyenangkan istriku, tidak apa jika harus sedikit alay.”
“Tidak. Hanya saja, terkadang rasa penasaranmu itu yang merepotkan!”
“Jadi aku merepotkan?” tanya Nay dengan memicingkan matanya.
“Bukan kamu! Orang yang ada di ujung jalan yang merepotkan!” Sam asal bicara.
“Siapa yang di ujung jalan? Bikin alasan saja! bilang saja kamu sudah bosan denganku! Kalau kamu bosan, masih banyak pria yang tidak bosan denganku! Memangnya pria hanya kamu ….”
Cup.
Sam membungkam bibir Nay yang bicara seperti kereta. Nay terpaku! Entah kenapa, dia masih saja canggung jika Sam menciumnya tiba-tiba, apa lagi di depan umum. Sam menjentikan jarinya ke dahi Nay. “Kenapa masih seperti itu ekspresinya? Aku sudah menciummu tidak terhingga jumlahnya, masih saja sepeti portal komplek!” ejek Sam dan berjalan meninggalkan Nay.
Nay tersadar, dia tidak terima jika Sam mengejeknya seperti portal komplek, dia berlari mengejar Sam dan loncat ke punggung Sam.
“Ah, apa yang kamu lakukan?” tanya Sam dalam posisi Nay sudah ada di atas punggungnya.
__ADS_1
“Menagih janjimu!”
“Janji apa?”
“Bukannya kamu sudah pernah bilang, jika akan bicara yang baik-baik saja padaku? Jika kamu bicara buruk tentangku kamu akan menggendongku keliling kota?”
“Iya, aku ingat! Tapi aku tidak pernah bicara buruk tentangmu?”
“Tidak kamu bilang? Tadi kamu bilang aku seperti portal komplek!”
“Itu bukan menghina tapi perumpamaan!”
“Sama saja! artinya aku datar bukan?”
“Wah, kamu pikirannya body shaming! maksudnya itu, kamu kaku bukan datar dadanya! Lagi pula kamu itu sexy”
“Sama saja, sama-sama penghinaan!"
Sam mengalah, “Baiklah, Samudra akan menggendong Nayna berkeliling kota."
"Ayo, jalan! Seekor kerbau menggendong istrinya!" teriak Nay.
"Hahaha, kamu juga kerbau dong! Ayo, kita jalan."
Sam menggendong Nay, mereka tertawa bersama, tidak peduli banyak mata yang melihat tingkah mereka.
Bersambung....
Terimakasih masih setia dengan Samudra Nayna 🤗🤗🤗
Jangan lupa like,love,vote dan komentarnya 🙏
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
Rekomendasi Novel hari ini, punya otor kece
Tyatul, selagi menunggu up dari Samudra Nayna bisa baca ini dulu ya😊
__ADS_1