
Pagi menjelang, matahari sedikit malu menyinari Samudra, angin yang berhebus pelan sedikit terdengar tenang. Suara gemuruh desaran ombak bagai menghapus titik pasir di pesisir. Bagaikan langkah dewi Nayna, setapak dengan rona yg indah.
Sam bangun terlebih dulu, dia berencana membuat sarapan untuk mereka. Berjalan ke dapur dan mulai memasak. Tangan Nay meraba sisi sampingnya, dia tidak menemukan prianya, membuka mata, benar saja sudah tidak ada Sam di sampingnya.
Matanya mengedar sekeliling kamar, dia berjalan ke kamar mandi tetap tidak menemukan, keluar kamar mencari orang terpentingnya. Hatinya tenang saat melihat bayangan Sam berada di dapur dengan spatula di tangannya. Nay mendekat dan memeluknya dari belakang.
“Sudah bangun?” tanya Sam tanpa menoleh pada Nay. Dia masih fokus dengan masakannya.
“Kenapa tidak membangunkanku?” aku bisa masak untukmu.
“Tidak, apa! biarkan aku masak yang kedua kali untukmu.”
“Mana ada kedua kali? Ini kan yang pertama!” ucap Nay menyunggingkan bibir.
“Ini yang kedua, yang pertama aku buat di apartemen. Tapi, kamu malah pulang ke rumah!”
“Masa? Kapan?” tanya Nay melepas pelukannya. Sam berbalik menatapnya.
“Saat sebelum kamu dinas ke Singapura! Ingat tidak?”
Nay mencoba mengingat, “Tidak ingat! Kamu tidak pernah bilang pernah memasak untukku.”
“Saat aku mau jemput kamu, tapi kamu ngambek dan pulang ke rumah, setelah itu besoknya kamu pergi meninggalkanku ke Singapura. Masih tidak ingat?” Sam berbalik dan mematikan kompornya, mengangkat omelet dan menaruhnya di piring.
“Oh, Ingat, sangat ingat kejadian sehari sebelum aku pergi ke Singapura dan aku juga ingat penyebab aku marah padamu! aku marah saat kamu bilang bahwa aku adalah wanita penggoda, bukan? hanya karena Justin menarikku dari aula pernikahan temanmu itu!” ucap Nay sinis, bagaimana pun dia tidak akan pernah lupa setiap perkataan pedas Sam.
“Hehehe, kamu masih ingat ternyata! Saat itu aku mau meminta maaf padamu dengan cara memasak makan malam untukmu!”
“Kenapa tidak bilang? Saat itu aku mengharapkan permohonan maafmu, tapi tak kunjung datang!”
“Itu, aku sudah berusaha memberi kejutan tapi gagal!”
“Lain kali tidak usah kasih kejutan! Kebanyakan gagalnya!”
“Iya, benar, aku panik saat ku kira kamu menelan cincin berlian!”
“Hahaha, sudah ayo kita sarapan, jangan bahas masa lalu terus. Sudah matang kan?”
“Sudah, ayo sarapan.”
__ADS_1
Mereka sarapan pagi dengan canda, seperti kejadian kemarin tidak pernah terjadi.
Disela makan pagi, Sam bertanya, “Nay, kapan kamu punya waktu luang?”
“Kenapa?”
“Bukannya kamu bilang mau lihat salju berlian di Jepang?”
“Sebenarnya kantor dalam keadaan aman terkendali, aku bisa take over pekerjaan sama Rudi.”
“Ya, sudah dalam waktu dekat ini saja perginya?”
“Kita baru berlibur dari pulau, masa mau liburan lagi?”
“Kenapa? Kepulau juga sudah berapa minggu yang lalu, sebelum aku ke Paris, kan?”
“Iya,” Nay memikirkan sesuatu, “Sam!”
“Ya.”
“Aku mau ke Amerika.”
“Bukan, aku ingin berobat!”
Sam menatap lekat manik Nay, “Kamu serius?”
“Apa perkataanku terdengar seperti bercanda?”
“Tidak, hanya saja, aku tidak mau kamu terlalu dibebani masalah anak.”
“Bagaimana bisa di sebut wanita jika tidak dapat hamil?”
“Kata siapa? Kamu itu wanita paling hebat kedua dalam hidupku.”
“Kedua? Lalu yang pertama?”
“Tentu saja, Nyonya Retno!”
“Hahaha, kamu menyebut ibumu pakai Nyonya.”
__ADS_1
“Emang dia Nyonya, kan!”
“Ya, ya.”
***
Seminggu kemudian mereka berangkat ke Amerika, mereka duduk berdampingan di pesawat. Nay antusias untuk melakukan pengobatan, tiba-tiba dia teringat akan penyakit Sisil. Memikirkan nasib anak itu, walaupun tidak menyukai ibunya. Tapi Nay menyukai Sisil.
“Sam, bagaimana dengan Sisil?” tanya Nay menatap Sam.
“Aku tidak tau, semenjak kamu terluka aku tidak dapat kabar apapun darinya.”
“Kita bantu dia, Sam!”
“Kamu mau aku menemuinya?”
“Bukan, kamu kan bisa meminta Bian saja yang bertemu.”
“Memang Bian tidak ada kerjaan? dia bisa ngamuk setelah aku tinggal pergi, di tambah untuk menyelesaikan masalah pribadi kita. Sudah, nanti aku minta Bian transfer saja untuk Sisil tidak usah berkunjung.”
“Ide bagus! Sebenarnya aku juga agak merasa bersalah, aku tau dia tidak pernah menggodamu! Tapi, aku sangat yakin dia masih sangat menyukaimu.”
“Sudah jangan dibahas lagi! Aku tidak ingin terlibat dengan wanita manapun selain dirimu.”
Hati Nay berbunga setelah mendengar perkataan Sam, dia tau dirinya akan cemburu buta jika Sam ada yang mendekati. Berbeda dengan Nay yang berbunga, hati Sam sedikit tidak tenang, tidak tau apa penyebabnya.
Akhir-akhir ini dia sering teringat perkataan Falista yang bilang, ‘dia bukan manusia normal!’. Sam mencoba untuk tenang, meyakinkan dirinya, semua akan baik-baik saja, meyakinkan jika dia dan Nay akan bahagia selamanya.
Bersambung....
Terima kasih masih setia dengan Sam dan Nay
Jangan lupa like, love,vote,flowernya jg ya ..
Di tunggu komentarnya agar otor bisa lebih baik lagi dalam berkarya 🙏🙏🙏
Jika berkenan tolong mampir ke cerpen otor Sweet Memories dan tinggalkan love nya ❤️❤️
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
__ADS_1