
Nay sudah menyisir rambutnya, hari ini dia mengikat rambutnya ke belakang dengan model kuda poni. Dengan riasan natural look menambah kecantikan alaminya, memadu padankan kemeja dan blazer yang menyesuaikan warnanya. Dia melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Menggunankan sepatu hak tidak terlalu tinggi agar dia bisa bebas bergerak, mengambil tas kerjanya dan siap menjalani aktivitas hari ini.
Saat mulai beranjak dari depan cermin, Sam menghampirinya dan menarik ikat rambut yang telah dia gunakan.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Nay sebal.
“Kenapa mengikat rambutmu? Biasanya dibiarkan tergerai?”
“Memang kenapa? Kalau di ikat aku jadi lebih leluasa.”
“Kamu mau memamerkan lehermu itu?”
“Kamu ini kenapa sih? Siapa yang memperhatikan orang sampai ke leher!”
“Pokoknya tidak boleh mengikat rambutmu, kalau mau di ikat hanya boleh di rumah saja.”
“Monoton sekali, masa harus di gerai terus? lagi pula ini rambutku, terserah aku mau diapakan.”
“Tapi aku suamimu, aku berhak atas dirimu.”
“Dan istri pun mempunyai hak berhias, apa kamu tidak memberiku hak berhias?”
“Bukan tidak memberikan, hanya saja tidak ingin kamu menjadi pusat perhatian.”
Sam mulai melihat di atas meja rias Nay dan menemukan sesuatu untuk Nay.
“Kamu bisa menggunakan ini di rambutmu!” Sam memberikan jepit rambut kepada Nay.
Dengan terpaksa Nay menerima jepit rambut itu, dia kembali merapikan rambutnya dan menjepitkan jepit rambut yang tadi diberikan oleh Sam.
“Begini lebih baik,” ucap Sam.
Nay berjalan dengan wajah yang cemberut, dia tidak menyangka ikat rambut saja bisa menjadi perdebatan diantara mereka.
…………..
Sam memutuskan untuk antar jemput Nay setiap hari dan Nay tidak keberatan akan hal itu.
“Nanti ketemu jam berapa dengan detektif sewaan mu itu?” tanya Sam sambil mengemudikan mobilnya.
“Jam makan siang!”
“Memangnya mau makan siang bersamanya?”
“Maybe.”
“Kenapa?”
“Karena ketemunya jam makan siang, pasti perut sudah lapar, mungkin akan sekalian makan siang.”
“Tidak boleh!”
“Kenapa?” tanya Nay bingung.
“Tidak boleh makan dengan pria lain.”
“Sam, kamu demam?” Nay memegang dahi Sam, “tidak panas.”
“Aku tidak demam.”
“Tapi kenapa sikap mu aneh begitu?”
“Aneh bagaimana?”
__ADS_1
“Ya aneh, aku tidak boleh mengikat rambutku dan sekarang tidak boleh makan siang!”
“Bukan tidak boleh makan siang, yang tidak boleh makan siang dengan pria lain!”
“Aku itu pasti bertemu banyak klien, pasti ada acara makan bersama, mana bisa aku menolak jika ada jamuan.”
‘Kenapa jadi posesif begini, apa ini sifat asli Sam?’ batin Nay.
“Ya … boleh, asal jangan berdua saja, setidaknya kamu bawa asisten mu.”
“Uhm.” Nay malas berdebat lagi dengan Sam, lebih baik mengiyakan saja.
“Nanti siang kita makan bersama, aku akan menjemputmu, kita temui detektif itu bersama.”
“Uhm,” jawab Nay.
Mobil terus berjalan, sampai akhirnya tiba di kantor Nay.
“Aku pergi dulu.” Nay baru akan membuka pintu mobil namun lengannya di tarik oleh Sam.
“Pergi begitu saja?” tanya Sam.
“Memangnya apa lagi?”
Sam menghela nafasnya, menarik Nay mendekat dengannya dan mulai menciumnya, Nay hanya pasrah menerima ciuman dari Sam. Setelah puas, Sam melepaskan Nay.
“Begitu cara pamit dengan suami.”
“Uhm, aku pergi dulu.” Nay membuka pintu mobil lalu keluar dan tidak lupa melambaikan tangan ke arah Sam.
“Kenapa jadi seperti ini,” lirih Nay.
………….
“Bian, apa sudah menyelesaikan kontrak dengan PT Karya Nusa?” tanya Sam.
Sam sedang memeriksa beberapa dokumen di tangannya, “Apa sudah tidak ada laporan yang harus ku periksa lagi?”
“Kamu sudah menyelesaikan semuanya? Cepat sekali! Katakan padaku ada hal baik apa?” cecar Bian. Dia tau sifat Sam, pasti ada hal baik terjadi.
“Tidak ada, aku hanya akan makan siang dengan Nay!”
“Bohong, katakan padaku apa yang terjadi di Singapura setelah aku pergi?”
“Tidak ada!”
“Cepat cerita atau aku tidak akan peduli lagi padamu!”
“Baiklah, aku dan Nay sudah resmi menjadi sepasang kekasih.” Sam bercerita dengan rona yang sangat bahagia.
“Wow, akhirnya kau mendapatkan cintamu. Katakan padaku, kau sudah melakukan itu bukan?”
“Apa?”
“Jangan pura pura bodoh, pasti sudah kan!”
Sam hanya tersenyum lebar mendengar perkataan Bian.
“Ternyata benar kamu sudah melakukannya,” Bian menunjukan ekspresi penasarannya, “Bagaimana rasanya?”
“Mau tau?”
“Ya.”
“Nikah sana!” Sam menampilkan senyum sumringahnya.
__ADS_1
“Sial!” Bian menatap ke arah Sam, “tapi aku salut dengan mu, kamu bisa menerima Nay apa adanya, kamu hanya menilai dengan hatimu dan tidak keberatan dengan masa lalunya.”
Sam tertarik dengan apa yang di ucapkan Bian.
“Aku salah Bian!”
“Salah kenapa?”
“Aku salah menilai Nay selama ini, aku pikir dia telah memberikan kehormatannya pada Ryawan, ternyata tidak.”
“Jadi, ada pria lain lagi? Apa jangan jangan dia berikan pada Justin?” tanya Bian.
Pluk… Sam memukul bahu Bian dengan dokumen yang di pegang nya.
“Sembarangan saja kalau bicara,” protes Sam.
“Lalu pada siapa dia memberikan kehormatannya?”
“Aku!” jawab Sam pasti.
“Wow, jadi kau dapat bonus, kamu mencintainya secara tulus padahal kamu tidak pernah peduli bagaimana keadaan nya. Tuhan memang baik padamu.”
“Ya, aku juga merasa begitu. Apa kamu ingat, dulu aku pernah cerita padamu bahwa Nay memberikan sesuatu berharganya pada Ryawan?”
“Iya, aku ingat.”
“Yang dia berikan adalah kepercayaan dan itulah yang tidak aku dapatkan dari Nay dulu.”
“Jangan pedulikan masa lalu, yang penting sekarang kamu mendapatkan seutuhnya Nayna.”
“Tapi sebelum menyelesaikan dengan Ryawan, aku tidak akan tenang, Nay masih berhutang padanya.”
“Hutang apa?”
“Gara gara Nay, dia dikeluarkan dari sekolah dan kondisi keluarganya sedang tidak baik. Ayahnya sering melakukan KDRT pada ibunya, ibu nya sakit keras sedangkan dia adalah tulang punggung.”
“Lalu bagaimana keadaan pria itu sekarang?”
“Tidak tau, setelah di berhentikan dari sekolah, dia pergi dengan ibunya, entah pergi kemana. Selama pria itu belum di temukan masih akan ada yang mengganjal nantinya untuk hubungan kami.”
“Maksudmu? Jadi benar Nay mencintai pria itu?”
“Bukan cinta, lebih tepatnya rasa bersalah, jadi aku harus menemukannya.”
“Jadi kamu mau memberikan kompensansi pada pria tersebut?”
“Entahlah, yang pasti hal pertama yang aku lakukan adalah berterima kasih padanya karena telah menolong Nay dan Nay pula juga harus membalas budi pada pria itu.”
“Memang apa yang sudah dilakukan pria itu pada Nay, hingga membuat kalian harus membalas budi?”
“Terlalu rumit untuk diceritakan, yang jelas aku harus menemukannya.”
“Apa kamu pernah bertanya pada istrimu itu, bahwa Ryawan tidak mencintai istrimu?”
“…”
Sam terdiam, dia tidak pernah terpikirkan sampai ke sana, bagaimana mungkin dia tidak terpikirkan bahwa ada pria lain melakukan hal besar untuk seorang wanita jika tidak memiliki perasaan cinta. Selama ini dia hanya memikirkan perasaan Nay saja, selama Nay bilang tidak memiliki perasan terhadap pria lain maka dia akan percaya pada Nay.
Dia bisa percaya pada Nay, tapi apakah dia bisa percaya pada perasaan orang lain.
Bersambung............
hi pencinta Samudra Nayna, eh btw ada yang cinta ga yach sama Sam n Nay!
aku mau kasih info nih ada novel bagus temanku... mampir juga yach 😉
__ADS_1