
Mereka pergi ke apartemen Zima, Sam tidak lupa membawa Nay. Sam menekan angka pada tombol kunci apartemen. Retno masuk terlebih dahulu diikuti oleh Leo, Sam dan Nay. Membuka pintu, sudah disuguhi oleh cardigan di lantai ruang tamu.
Retno terus melangkah ke kamar Zima, Dia terkejut melihat isi kamar, kemeja dan celana Zima sudah tercecer di lantai kamarnya. Lebih terkejut lagi saat melihat dua orang yang sedang tidur saling berpelukan dengan selimut yang hanya sampai di perut. Setelah itu Retno berteriak. "Apa yang kalian lakukan?"
"Ah ...!" Teriak Nima. Dia terkejut mendengar teriakan dari calon mertuanya, lebih terkejut lagi saat melihat Zima yang ada di pelukannya tanpa memakai baju dengan wajah yang melekat di dadanya. Beruntung dia masih memakai kaosnya.
Zima ikut membuka matanya setelah mendengar teriakan dari Ibu dan calon istrinya. Dia langsung melepas wajahnya dari tubuh Nima. Menatap ke sekeliling, sudah banyak orang di kamarnya. 'Sial!' batin Zima.
"Ibu tunggu kalian di ruang tamu!" ujar Retno penuh kekecewaan. Keluar dari kamar Zima, diikuti oleh Leo, Nay dan Sam. Sebelum menutup pintu Sam menatap Zima sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah pintu tertutup, Nima menatap tajam pada Zima. "Apa yang sudah Kakak lakukan padaku?"
"Tidak, aku tidak berbuat apa-apa."
"Kenapa Kakak tidak pakai baju?"
"Mana aku tau! Mungkin kamu yang membukanya!"
"Mana mungkin aku!" Protes Nima.
"Sudah jangan bertengkar. Ayah dan Ibu menunggu di luar."
"Ini gara-gara Kakak! Sudah dua kali kita kepergok seperti ini!"
"Iya, iya, aku akan bertanggung jawab jika kamu hamil!"
Nima membulatkan matanya setelah mendengar perkataan Zima. "Jadi kita benar melakukan itu?"
"Mana aku tau, semalam aku sedikit mabuk."
Nima hanya berdecak, melihat sekelilingnya tidak menemukan cardigan-nya. "Kak, cardiganku mana?" tanya Nima.
"Aku lupa lempar kemana, pakai kemeja ku saja." Zima mengambil kemeja di lemarinya dan memberikan kepada Nima. Nima menerima dan memakainya.
__ADS_1
Mereka keluar dari kamar dan menuju ruang tamu, mereka sudah di tunggu oleh Leo, Retno, Sam dan Nay. Zima dan Nima duduk berdampingan, Nima hanya menundukkan kepalanya dengan memakai kemeja Zima.
Retno melihat kearah Zima dan Nima, melihat kemeja yang digunakan oleh Nima, dia tau itu milik Zima, semakin membuatnya percaya bahwa Zima dan Nima telah berbuat terlalu jauh. "Kalian harus mempercepat pernikahan kalian! Ibu tidak ingin terjadi sesuatu." Retno kecewa dengan apa yang dilihatnya pagi ini. Beranjak dari duduknya dan melangkah keluar. Leo hanya bisa memijat dahinya dan mengikuti Retno keluar. Permohonan maaf yang sudah direncanakan gagal total.
Melihat orang tua mereka, Sam dan Nay pun pamit pulang. "Kami pulang dulu, ya!" ucap Nay.
"Zima, Nima, kami pulang dulu. Kalian lanjutkan saja aktifitas kalian." ujar Sam yang dihadiahi sebuah cubitan dari Nay.
Zima hanya menatap tajam pada Sam. Setelah itu hanya ada mereka berdua di ruangan. "Kak, bagaimana ini?" tanya Nima.
"Mau bagaimana lagi? Kita percepat pernikahan kita."
"Jadi benar aku akan hamil?" lirih Nima.
***
Sam dan Nay memutuskan menghabiskan sabtu mereka dengan berjalan-jalan. Mereka pergi ke daerah wisata pegunungan, membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai tempat tujuan. Setelah sampai, Nay langsung berlari ke kebun teh yang ada di pegunungan.
"Boleh, ayo!
Mereka melihat aksesoris yang dijual, Nay tertarik pada gelang pasangan yang terbuat dari serat kayu. "Berapa harganya?" tanya Nay pada si penjual.
"Sepasang lima belas ribu."
"Aku mau yang ini." Nay menunjuk gelang pilihannya.
Sam mendekatinya dan berbisik. "Kamu serius mau beli gelang seperti ini? Aku bisa membelikanmu emas satu truk."
"Tidak mau, aku mau ini! Cepat keluarkan uang, kamu yang bayar." Tegas Nay.
Sam menuruti perkataan Nay, dia membayar gelang tersebut, lalu Nay menarik lengan Sam dan mulai memasangkan gelang tersebut. "Bagus, bukan? Mulai sekarang kita punya gelang pasangan." Nay mengangkat tangannya yang sudah terpasang gelang tersebut dan menunjukan kepada Sam.
Sam memandang gelang tersebut. "Baiklah, kita jadikan gelang lima belas ribu ini, menjadi saksi kita pernah ke tempat ini."
__ADS_1
Mereka duduk di atas batu besar. "Sam, aku mau makan moci, biasanya ada yang jual."
"Ada disebelah sana, ayo kesana."
"Aku lelah, aku tunggu disini saja."
"Baik, kamu jangan kemana-mana"
"Iya."
Sam meninggalkan Nay sendiri untuk membeli moci. Nay jalan di sekitar, matanya tertuju pada pedagang yang menggelar barang dagangannya di bawah. "Maaf, Bapak jual apa?"
"Oh, aku tukang obat."
"Obat herbal?" tanya Nay.
"Bisa dibilang seperti itu, aku menggunakan obat tradisional untuk menyembuhkan pasien."
"Anda seorang dokter? atau semacam tabib?"
"Bukan, hanya sedikit mengerti kesehatan."
"Bisa menyembuhkan penyakit apapun?"
"Aku hanya berusaha, hasil akhir tetap Tuhan yang menentukan. Kamu mau aku periksa?"
***
Bersambung...
Mohon dukungannya dengan like love vote dan komentarnya 😊😊😊
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
__ADS_1