SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 67 The Countess


__ADS_3

“Memang tidak kamu kunyah dulu?” ucap Sam frustasi.


“Aku sudah tidak mau memakannya, tapi melihatmu bersih keras memintaku menghabiskannya jadi langsung aku telan! Bagaimana ini?” ucap Nay semakin panik, tidak mungkin dia harus mengoperasi perutnya untuk mengeluarkan cincin tersebut, melahirkan saja belum tapi sudah dioperasi untuk mengeluarkan cincin dari tubuhnya.


“Ayo kita ke rumah sakit!” perintah Sam.


“Bagaimana mungkin kamu tidak merasakan ada benda keras di dalam cake tersebut?”


“Kenapa jadi marah padaku? Kamu sendiri yang memasukan cincin ke dalam cake!”


“Aku kan cuma ingin membuat kejutan.”


“Ya, benar-benar membuatku sangat terkejut! Ayo kita ke rumah sakit!” ucap Nay marah.


Suasana yang seharusnya romantis menjadi pertengkaran diantara mereka, mereka berjalan melangkah keluar restoran. Namun, langkah mereka terhenti karena ada seorang koki mendekati mereka.


“Tuan maafkan saya. Saya lupa memasukan cincin yang Anda minta kedalam cake,” ucap seorang koki dengan menundukkan kepalanya.


“Apa! jadi tidak ada cincin di dalam perut istriku?”


“Maafkan saya Tuan,” ucap Koki tersebut.


“Kenapa minta maaf, memang kamu mengharapkan saya memakan cincin tersebut?” kesal Nay karena mengira dia menelan cincin tersebut.


“Ha? Bukan, bukan begitu Nyonya. Saya akan buat cake lagi dan memasukan cincin tersebut di dalamnya.”


“Tidak perlu! Kembalikan saja cincin tesebut padanya,” ucap Nay menunjuk ke arah Sam.


“Ini cincinnya Tuan.” Koki tersebut memberikan cincin berlian tersebut pada Sam.


***


Rencana makan malam romantis mereka gagal lagi, mereka memilih meninggalkan restoran. Nay membutuhkan mood booster setelah tragedi cincin berlian.


“Nay, maafkan aku,” ucap Sam setelah berada di dalam mobil.


“Ya, aku sudah memaafkanmu, aku yang terburu-buru memakan cake tersebut hingga berakibat tersedak.”


“Kita mau kemana? Belum makan loh!”


“Jalan saja dulu, kita putar-putar dulu saja.”


“Baiklah.”


Mereka mengelilingi kota, mata Nay melihat keluar dari kaca jendela mobil, hingga dia melihat ada satu gerobak yang dikelilingi banyak orang.


“Sam, berhenti.”


“Kenapa?” tanya Sam.


“Itu tukang apa? banyak sekali yang beli.”


“Mau turun?”


“Uhm.”

__ADS_1


Sam menepikan mobilnya dan mereka keluar dari mobil, Sam menggandeng tangan Nay, mereka menghampiri tukang jualan tersebut.


“Tukang bubur, Nay.”


“Pesan Sam, aku mau coba.”


“Makan disini atau dibawa pulang?”


“Makan disini saja. Kamu tidak keberatan kan, makan di pinggir jalan?”


“Makan dimana saja, aku bisa. Kamu tunggu disini ya, aku pesan dulu.”


“Jangan pakai kacang yah, sambelnya yang banyak.”


“Oke.” Sam mengantri untuk memesan bubur sedangkan Nay mencari tempat duduk di sekitar, dia duduk di kursi plastik yang disediakan tukang bubur, ada pula pelanggan yang duduk di trotoar sambil menikmati bubur ayamnya.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya bubur pesanan mereka siap disajikan. Nay menerima bubur yang diberikan Sam, mereka mulai memakan bubur tersebut.


“Bagaimana rasanya?” tanya Sam.


“Enak, lebih enak dari tukang bubur yang dekat sekolah kita itu. Pantas saja ramai pembeli.”


“Tidak ku sangka kamu suka makan makanan pinggir jalan.”


“Memangnya tidak boleh?”


“Bukan tidak boleh, hanya tidak disangka dengan image-mu itu bisa makan di pinggir jalan.”


“Itu kan pendapat orang lain, kamu sendiri bagaimana?”


“Emm, tukang somay yang diseberang sekolah kita juga enak. Tapi, bukanya mulai jam lima sore.”


“Abang gerobak juga?”


“Iya.”


“Bagaimana kamu bisa tau banyak makanan enak abang gerobak?”


“Dulu Ryawan yang sering mengajakku wisata kuliner abang-abang gerobak.”


Raut wajah Sam langsung berubah saat Nay menyebut nama Ryawan. Nay menyadari itu dan dia mulai mengalihkan pembicaraan.


“Aku mau tambah sate usus. Kamu mau tidak?”


“Tidak, sudah cukup.”


“Baiklah, aku ke abangnya dulu, ya.” Nay berdiri dan menghampiri tukang bubur untuk meminta sate usus.


Mereka menghabiskan bubur mereka. Setelah selesai makan bubur, Nay meminta Sam untuk berjalan sebentar mengelilingi taman kota sekedar untuk menurunkan makanan mereka yang sudah berada di dalam perut.


“Lampu tamannya bagus, yah.” Nay menikmati pemandangan yang ada di taman.


Mereka berjalan disekitar taman dengan tangan saling bertautan.


“Apa kita beli rumah saja? biar ada tamannya. Nanti kita beli lampu seperti itu.”

__ADS_1


“Tidak perlu, kita masih mondar-mandir rumah ibu dan apartemen.”


“Kalau sudah punya anak lebih baik kita punya rumah sendiri, agar anak-anak bebas bermain.” Sam membayangkan jika mereka punya anak.


Nay duduk di bangku taman, Sam mengikuti dan duduk disampingnya.


“Maafkan aku, yang belum bisa memberimu keturunan,” lirih Nay.


“Bukan maksudku seperti itu, soal anak biar menjadi urusan Tuhan, kita hanya berusaha. Kamu masih meminum vitamin dari dokter kan?”


“Masih, minggu depan habis. Setelah habis aku akan kontrol ke dokter.”


“Kamu jangan menjadikan ini beban, aku pun tidak menuntutmu. Asalkan kamu disisiku itu sudah cukup.”


Sam bangkit dari duduknya dan menghadap kearah Nay lalu berlutut dengan satu kaki, dia mengeluarkan cincin berlian dari sakunya, mengambil tangan Nay dan menyematkan cincin tersebut di jari manisnya. Lalu berkata, “Tenyata pas dan cocok di jarimu.”


“Ini kamu sedang mencoba cincin di jariku atau mau memberikannya padaku?”


“Tentu saja untukmu.”


“Kenapa tidak ada kata pembuka, seperti Will You Marry Me?”


“Kita kan sudah menikah, untuk apa aku bilang seperti itu.”


“Setidaknya, ucapkanlah kata-kata romantis. Kamu sudah terlanjur berlutut di depanku.”


“Baik, aku coba.” Sam membersihkan tenggorokannya, “Ehem, ehem. Sayang, ini cincin untukmu. Aku sulit mendapatkannya, ini adalah cincin hasil lelang, cincin ini adalah cincin bersejarah, cincin yang pernah di pakai oleh seorang ratu." Sam berhenti sejenak untuk mengingat, "Ratu siapa yah? Kalau tidak salah Ratu Elizabeth Bathory, aku lupa ratu siapa. Katanya, cincin ini simbol dari cinta abadi.”


“Sam, ini bukan kata-kata romantis! Ini namanya kamu sedang memberitahuku tentang sejarah cincin ini. Lagi pula, apa kamu tau siapa Elizabeth Bathory?”


“Seorang ratu bukan?”


“Dia bukan ratu.” Nay melepas cincin tersebut dan mengembalikan cincin tersebut kepada Sam. “Dia adalah seorang bangsawan Hongaria, dia seorang pembunuh berdarah dingin yang mempercayai bahwa darah gadis perawan akan membuat awet muda, karena keyakinannya itulah dia membunuh banyak gadis.”


“Benar kah?”


“Aku tidak berbohong padamu, kamu bisa searching di internet jika mau. Coba kamu cari tau lagi, ini cincin apa? mungkin kamu salah informasi, siapa tau Elizabeth yang lain.”


“Baiklah, besok aku pastikan lagi. Kamu tau banyak sejarah yah!”


“Tidak juga, hanya saja dulu pernah menonton film The Countess yang diadaptasi kisah nyata Elizabeth Bathory, setelah itu aku mencari informasinya di internet.”


Nay mengingat saat menonton film tersebut, film tentang kekejaman seorang wanita yang terobsesi dengan kecantikan, hingga membunuh banyak gadis untuk diambil darahnya. Saat itu dia tidak merasakan apapun, tidak ada kengerian saat menonton film tersebut, dia bahkan senang melihat darah di film tersebut. Nay tidak mungkin menceritakan itu pada Sam.


Bersambung....


Jangan lupa tap like,love,vote n flower jika berkenan 🙏


di tunggu saran dan kritik nya juga yah...


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰


Kali ini aku membawa rekomendasi novel dari Author Jika Laudia berjudul Superbia, ceritanya seru loh, mampir yuk n tinggalin jejak 😊


__ADS_1


__ADS_2