
"Lalu apa rencanamu?" tanya Sam.
"Entahlah, aku sangat kecewa dengan Ayah."
Sam mengerti perasaan Zima, Bagaimana rasanya harus berpisah dari orang yang di cintai, apalagi orang yang memisahkan adalah ayahnya sendiri. Lelaki yang selalu di kagumi olehnya.
"Lalu, apa kamu mau mencari Maretta? Bagaimana dengan Nima?"
Hanya keheningan sebagai jawaban atas pertanyaan Sam. "Pikirkanlah baik-baik, jangan sampai ada hati yang tersakiti lagi." Imbuh Sam.
"Akan kupikirkan!" jawab Zima.
"Ayo, pulang!" Ajak Sam.
"Tidak, aku belum siap bertemu dengan Ayah, sementara aku akan tinggal di apartemen ku dulu."
"Baiklah."
Sam dan Zima berpisah, Zima melajukan mobilnya ke arah apartemennya. Sesampainya di unit apartemennya, sudah ada seorang wanita menunggunya di sana.
"Kak Zima!" Panggil Nima.
"Kenapa ada di sini?" tanya Zima.
"Nay menelpon ku, katanya Kak Zima keluar rumah. Apa Kakak baik-baik saja?" Nima mendekati Zima dan mencium bau alkohol. "Kakak habis minum?"
"Sedikit."
Nima menyerengitkan dahinya, dia baru tau Zima peminum alkohol. "Itu, tidak baik untuk kesehatan Kak, jangan di minum lagi."
__ADS_1
"Iya, yang terakhir kali." Zima mendekatkan diri lebih dekat dan menatap wajah Nima lekat.
Nima ditatap seperti itu, jadi salah tingkah. "Ada apa Kak?"
Zima hanya menatap Nima tanpa menjawab pertanyaan nya, dia menemukan jawaban dari hatinya. Meyakini siapa pemilik hatinya yang sesungguhnya. Sebelumnya dia bingung, harus kemana hatinya berlabuh, pada wanita di depannya ataukah cinta pertamanya yang telah di paksa berpisah dengannya.
Zima menarik pinggang Nima dan mulai menciumnya, ciuman lembut penuh kasih sayang lama-kelamaan menjadi ciuman mendamba. Tangan Zima menekan angka pada tombol kunci unit apartemennya, membuka pintu dan mendorong Nima masuk ke dalam apartemen dengan bibir mereka yang masih bertautan. Nima mulai panik saat mereka sudah di atas tempat tidur, terlebih Zima sudah membuang cardigan yang dipakainya, menyisakan kaos tanpa lengan yang dipakainya. Nima ingin mendorong Zima saat tangan Zima menyusup kedalam kaosnya. "Jangan menolakku, ku mohon," ucap Zima memelas.
Melihat wajah Zima yang lelah dan juga sorot mata yang menyedihkan membuat Nima tidak tega. Ingin bertanya ada apa. Namun, waktunya tidak tepat.
"Nima, jadilah wanitaku seutuhnya!" ujar Zima.
Nima semakin bingung, bukankah mereka akan segera menikah! Bukankah akan menjadi pasangan sesungguhnya!"
"Kak Zima! Sebenarnya ada apa?" Nima memberanikan untuk bertanya.
***
Sam kembali ke rumah, Ibunya ada di ruang TV menatap layar berwarna hitam.
"Ibu belum tidur?" Sam mendekati Ibunya, menyadari kesedihan di wajah ibunya. Dia yakin Ibunya telah mengetahui yang sebenarnya.
"Dimana Zima?" tanya Retno pad Sam yang duduk di samping nya.
"Dia ada di apartemen nya. Ibu jangan khawatir, dia baik-baik saja."
"Apa Ibu kecewa pada Ayah?" tanya Sam.
"Tentu saja, kesalahannya membuat Zima menjadi seperti ini."
__ADS_1
"Aku yakin Zima baik-baik saja. Dia pasti akan pulang Bu. Dia hanya belum siap untuk bertemu dengan Ayah, Zima adalah orang yang bertanggung jawab."
"Iya, dia memang bertanggung jawab. Bagaimana jika dia mencari Maretta dan kembali padanya? Bagaimana nasib Nima?" Dua gadis itu adalah gadis baik-baik, Retno sebenarnya juga menyukai Maretta. Namun, dia juga tidak memungkiri bahwa Nima juga gadis menyenangkan. Apalagi Nima tidak ada kenangan buruk pada keluarganya.
"Aku rasa Zima akan memilih dengan bijak."
Sam menenangkan Ibunya, meyakinkan semua akan baik-baik saja. Meyakinkan mereka akan menjadi keluarga yang harmonis seperti dulu.
Setelah memenangkan Ibunya, dia kembali ke kemar, menceritakan semuanya pada Nay. Nay hanya mendengar seksama setiap kata yang dilontarkan oleh Sam. Dia selalu berpikir bahwa hidup Sam sempurna. Tetapi kenyataannya, masih ada celah yang membuat kesempurnaan itu cacat. Ya, setiap keluarga memiliki cobaannya masing-masing.
Keesokan harinya, Leo dan Retno sudah rapi untuk pergi. Sam melihat orang tua mereka. "Ayah, Ibu, pagi-pagi begini mau kemana? Ini kan hari sabtu?"
"Ayah ingin memohon maaf pada Zima, kami ingin ke apartemennya! Sam kamu tau kata sandi apartemennya, kan?" ujar Retno, Leo hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak berbuat salah pada Sam, tetapi dia tau pasti Sam juga kecewa atas apa yang sudah dia lakukan.
"Tau, tanggal pernikahan kalian!" jawab Sam.
"Kalau begitu kami ke sana."
"Aku ikut, Bu!" Sam takut terjadi sesuatu, lebih baik dia menemani orangtuanya.
Mereka pergi ke apartemen Zima, Sam tidak lupa membawa Nay. Sam menekan angka pada tombol kunci apartemen. Retno masuk terlebih dahulu diikuti oleh Leo, Sam dan Nay. Tidak lama Retno berteriak. "Apa yang kalian lakukan?"
Bersambung....
Terimakasih masih setia dengan kisah Samudra Nayna 🙏🙏
Jangan lupa like , love n vote. Di tunggu saran dan kritiknya juga ya 😊😊😊
Salam Age Nairie 🥰🥰😘
__ADS_1