SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 77 Pupus


__ADS_3

Falista masih membatu di kursinya, dia tidak berniat mengucapkan kata-kata menyakitkan pada Nay, karena tersulut emosi, terlontarlah kata-kata sakral tidak bisa hamil. Kata-kata yang sangat menyakitkan bagi setiap wanita.


Dia hanya ingin meminta bantuan untuk pengobatan Sisil, tidak etis baginya jika meminta bantuan hanya lewat telepon, jadi dia ingin menemui Sam untuk terakhir kali. Berencana untuk pindah dan menjauh dari hidup Sam. Namun, sayang yang datang Nay, menuduhnya sebagai wanita tidak tau malu. Hingga, timbul rasa untuk memiliki Sam.


Sam turun dari mobil dan masuk kedalam café tersebut, dia melihat Falista yang terdiam di kursinya dengan wajah yang basah terkena cairan minuman berwarna merah. Sam pun melihat ada gelas pecah terbagi menjadi beberapa bagian dan juga darah yang bercecer, kontras dengan warna lantai yang putih.


“Apa kamu baik-baik saja? dimana Nayna?” tanya Sam.


Falista menatap Sam, “Apa salahku? Kenapa aku di perlakukan seperti ini? kamu sendiri yang bilang, jika aku butuh bantuan untuk pengobatan Sisil, kamu siap membantu. Tapi, nyatanya aku di bilang pelakor oleh istrimu! Apa aku pernah menggodamu? Tidak pernah, bukan?”


“Maafkan aku, dia hanya terbakar cemburu!” Sam melihat ke tubuh Falista, ingin memastikan dia baik-baik saja, menghampiri dan berkata, “Apa yang terjadi? Siapa yang terluka?”


“Tinggalkan dia, Sam!” ucap Falista. Dia tidak menjawab setiap pertanyaan Sam.


“Apa maksudmu?”


“Kenapa kamu bisa menikah dengan wanita gila seperti itu?”


“Jangan bilang seperti itu! Dia adalah istriku!” ucap Sam dengan nada tinggi. Dia tidak suka orang yang menghina istrinya.


“Kamu tidak disini, Sam! kamu tidak melihat bagaimana tatapan matanya, dia bukan manusia normal!”


“Hentikan! Aku yang lebih tau siapa istriku!” Melihat sekali lagi dari ujung rambut hingga kaki Falista memastikan tidak ada yang terluka, “Aku pikir kamu baik-baik saja.”


Sam meninggalkan Falista sendirian, setelah memastikan Falista baik-baik saja, ada rasa khawatir di dada Sam, dia takut darah yang bercecer di lantai adalah darah Nay. Sam merogoh saku celananya, dia tidak menemukan ponselnya.

__ADS_1


***


Nay melajukan mobilnya ke arah rumah sakit, bukan untuk mengobati tangannya yang terluka, dia ingin memastikan lagi keadaan rahimnya.


“Aku ingin mendaftar ke dokter spesialis kandungan,” ucap Nay di meja pendaftaran.


Seorang petugas pendaftaran melihat tangan Nay yang terluka, “Nona, apa kamu baik-baik saja? lebih baik mengobati tangan Anda terlebih dahulu.”


“Aku bilang, aku ingin bertemu Dokter Obgyn!” tegas Nay.


Petugas pendaftaran tersentak dan tidak ingin terlibat pembicaraan lebih jauh lagi, “Baik, bisa di bantu nama Anda?”


Setelah proses pendaftaran, Nay di panggil suster untuk masuk ke ruang pemeriksaan.


“Aku mau periksa kesuburan?”


“Baiklah, tapi sebelumnya biarkan aku membalut lukamu!” Dokter tersebut hanya membersihkan dan membalut lukanya tanpa bertanya pada Nay apa yang terjadi.


“Sudah selesai, ayo kita periksa!”


Sebelum meminta Nay ke ranjang pemeriksaan, dia beralih ke komputernya melihat data pasien, dan menemukan Nay pernah melakukan pemeriksaan di rumah sakit tersebut dengan dokter kandungan yang lainnya.


“Anda sudah kesini sebelumnya?”


“Ya,” jawab Nay.

__ADS_1


“Baiklah, berbaringlah!” Dokter tersebut mengarahkan ke ranjang pemeriksaan dan melakukan serangkaian pemeriksaan. Nay meminta serangkaian ulang pemeriksaan, walaupun harus menunggu beberapa jam untuk melihat hasil.


Setelah hasil pemeriksaan keluar, Nay kembali menemui dokter, mereka kembali duduk di meja dokter, ekspresi dokter sangat serius. “Apa yang akan kubicarakan, mungkin akan sama seperti dokter yang memeriksamu sebelumnya.”


“Infertilitas primer?” ucap Nay.


“Ya!”


Ucapan dokter sudah tidak lagi bagaikan bom di telinga Nay, dia sudah tau hasilnya tidak mungkin berubah. Namun, dia tetap datang melakukan pemeriksaan. Perkataan Falista yang bilang dia tidak bisa hamil terdengar lebih menyakitkan dari pada vonis dokter yang bilang dia mengalami infertilitas primer.


Dokter melihat raut wajah Nay yang tenang, “Infertilitas primer belum ada penyebab pastinya, tapi ilmu kedokteran sekarang sudah sangat canggih, penderita infertilitas masih ada harapan untuk disembuhkan, sekarang yang harus kamu lakukan adalah tenangkan pikiranmu dan melakukan pengobatan. Jika kamu merasa hasil pemeriksaan dalam negeri belum memuaskan, kamu bisa melakukan pemeriksaan ulang di luar negeri.”


Setelah keluar dari rumah sakit, Nay melajukan mobilnya ke tempat yang membuatnya tenang, dia pergi ke rumah dekat laut yang diberikan Sam. Saat tiba, hari sudah senja, matahari sudah mulai tenggelam dan hari mulai menggelap, bagaikan hatinya yang gelap. Hal yang paling menyakitkan adalah suatu harapan yang sangat kita inginkan. Namun, tidak dapat di dapatkan. Rasa ingin memiliki anak dari orang yang dicintainya pupus. Harapan yang diinginkan begitu lama hilang bagai tersapu ombak di lautan.


Tuhan, apakah ini jalan hidupku? Kamu tidak memberiku anak, apakah ingin memutuskan darah Diska yang mengalir dalam tubuhku agar tidak ada lagi orang-orang seperti kami?


Bersambung….


Terimakasih masih setia dengan Samudra Nayna 🙏🙏🙏


Jangan lupa like, love, vote dan juga 🌹


Di tunggu komentarnya 😊


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2