
Sam terkejut setelah mendengar apa yang di katakan oleh Rudi, apa yang ditakuti selama ini telah datang.
“Mereka makan dimana?” tanya Sam.
“Maaf Pak, Saya kurang tau mereka makan dimana.”
“Baiklah, jangan bilang pada Nayna kalau aku datang hari ini!” perintah Sam pada Rudi.
“Baik.”
Sam pergi meninggalkan kantor Nay, dia mencoba menelponnya namun tidak diangkat. Dia pergi ke Yellow Café tetap tidak menemukan keberadaannya. Setelah mencari kebeberapa tempat dan masih belum menemukannya, Sam memutuskan kembali ke kantornya. Dia kembali ke kantornya dengan rasa campur aduk, dia masih belum percaya diri bahwa Nay hanya mencintai dirinya, dia takut Nay akan meninggalkannya.
Bian masuk kedalam ruangannya setelah melihat Sam kembali.
“Kenapa wajahmu muram seperti itu? Bukannya tadi kamu bilang mau makan dengan istrimu?” tanya Bian.
“Bian, apa saja yang kamu kerjakan? Bukankan aku bilang untuk mencari Ryawan!”
“Iya, aku sedang mencari informasi keberadaannya, yang aku tau dia sudah kembali dan sekarang dia sudah memiliki perusahaannya sendiri, tapi aku belum tau nama perusahaannya.”
“PT Angkasa Imperium!” ucap Sam.
“Bagaimana kamu tau?”
“Perusahaannya bekerjasama dengan perusahaan Rastian Corp, dan CEO-nya Adi Ryawan!”
“Maksudmu Nay sudah bertemu dengannya?”
“Uhm.”
“Lalu kenapa wajahmu murung? seharusnya kamu senang jadi kalian bisa bertemu.”
“Aku merasa tidak percaya diri, aku takut Nay meninggalkanku setelah bertemu Ryawan! Saat ini mereka sedang bersama.”
“Apa yang kau takutkan? sekarang kamu suaminya, mereka hanya ada masa lalu, kamu harus coba percaya pada istrimu.”
Sam hanya menatap Bian kosong, rasa takut kehilangan Nay terlalu besar, hanya Ryawan satu-satunya pria yang paling dekat dengan Nay karena itu dia insecure.
***
Nay dan Ryawan berada di sebuah restoran mereka duduk berhadapan, Ryawan bertanya, “Mau pesan apa?”
“Teh Hangat saja.”
“Tidak pesan makan?”
“Aku tidak lapar.”
Ryawan memanggil pelayan dan memesan, “Dua teh hangat, dim sum dan choipan, masing masing dua porsi.” Nay mendengarkan Ryawan memesan makanan kesukaannya.
__ADS_1
Setelah pelayan keluar, di dalam ruangan hanya terdengar suara nafas.
“Kenapa kamu memesan dua porsi?” tanya Nay.
“Ini sudah siang, kamu juga perlu makan.”
“Em, A—pa kabarmu?” tanya Nay.
“Baik.”
Nay ingin mengetahui lebih tentang Ryawan, namun mulutnya sulit untuk berbicara. Tidak ada obrolan sampai makanan di hidangkan.
“Selama ini kamu dimana?” tanya Nay.
“Makanlah dulu, ini kesukaanmu bukan!” Ryawan mengambil satu dimsum dan satu choi pan ke dalam piring kecil dan memberikan kepada Nay.
Mereka menikmati makan siang mereka tanpa obrolan hingga semua makanan habis.
“Bisa kita bicara?”
“Katakanlah, apa yang ingin kamu bicarakan!”
“Maaf!”
“Untuk apa minta maaf? Aku hidup dengan baik.” Ryawan tersenyum.
“Tetap saja karena aku, kamu di keluarkan dari sekolah.”
“Selama ini kamu dimana?”
“Jerman.”
“Jerman? Kenapa bisa sampai kesana?”
“Kakekmu tidak bilang padamu?”
“Tidak, tapi aku menyelidikinya beberapa bulan ini, sebelum kamu menghilang, kamu bertemu dengan kakekku, bukan?”
“Ya.”
“Maafkan kakekku,” ucap Nay menundukkan kepalanya.
“Kakekmu hanya melakukan yang terbaik untukmu.”
“Lalu bagaimana kamu bisa sampai ke Jerman?”
Ryawan melihat waktu di arlojinya, “Kita bicarakan lagi nanti yah, aku masih ada urusan. Aku janji akan mengatakan semuanya padamu.”
“Kita masih bersahabat, kan?”
__ADS_1
Ryawan terdiam sejenak, sedikit ragu untuk menjawab, “Ya, tentu.”
Mereka meninggalkan restoran dan Nay kembali ke kantornya. Dia membuka ponselnya dan melihat banyak panggilan telepon dari Sam, Nay mempunyai kebiasaan merubah mode ponselnya menjadi silent jika akan meeting dan dia lupa mengembalikan mode ponselnya ke dering.
“Ya, ampun aku lupa janji makan siang dengan Sam!” Dia mulai menelpon Sam, pada dering pertama langsung terjawab.
“Hallo Nay, maaf aku tidak bisa makan siang denganmu, tadi aku telepon untuk memberitahumu namun tidak diangkat olehmu!” Sam sengaja berbohong karena ingin mengetahui jawaban jujur Nay.
“Iya, aku juga, siang ini aku menjamu klien, ponselku mode silent jadi tidak tau bahwa kamu menelponku.”
“Siapa?”
“Perwakilan dari perusahaan yang bekerjasama denganku.”
“Baiklah!” Sam langsung menutup teleponnya.
“Ada apa dengannya, kenapa seperti ini?” gumam Nay.
Sam langsung membanting teleponnya setelah berbicara dengan Nay, Bian yang melihat itu dapat melihat bahwa Sam sedang emosi.
“Kenapa?”
“Dia bilang siang ini menjamu klien, dia tidak bilang padaku bahwa yang pergi makan dengannya Ryawan!”
“Apa yang salah? Bukankah kamu bilang perusahaan mereka bekerja sama!”
“Iya, tapi seharusnya dia tinggal bilang padaku siapa perwakilannya.” Sam meremas kertas yang ada di tangannya.
“Sam, sepertinya kamu yang harus memeriksakan dirimu ke psikiater!” ucap Bian.
“Kenapa dengan diriku?” ucap Sam kesal.
“Kamu memiliki rasa cemburu yang berlebih, mungkin kamu mengalami gangguan kecemasan! kamu merasa tidak aman jika Nay berhubungan dengan laki-laki lain, cobalah percaya pada istrimu, tanyakan padanya baik-baik.”
“Apa aku terlalu possesif?”
“Jika kamu terlalu mengekangnya dia malah akan pergi darimu, kamu lupa bahwa kamulah yang membuat mereka dekat!”
“Jadi aku harus apa?”
“Jangan insecure, dia juga sudah mengatakan perasaannya padamu kan, cobalah saling percaya, kalau kamu berfikir bahwa Nay akan meninggalkanmu, itu artinya kamu meragukan cintanya padamu!”
Sam mendengarkan nasihat Bian, memikirkan apa yang harus dilakukannya dan apakah benar dia memiliki gangguan kecemasan.
Bersambung......
Jangan lupa like,love n komennya yah
salam Age Nairie :)
__ADS_1
Rekomendasi novel oke nih...