SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 104 End Part 1


__ADS_3

Nay tanpa ragu berlari dan masuk ke dalam pelukan Sam. Sam memeluk erat Nay, pelukan penuh kerinduan. Nay meneteskan air matanya, dia tidak tahan untuk melepas rindu pada Sam, begitu pula dengan Sam yang mati-matian menahan tangisnya. Namun, cairan bening tersebut akhirnya menetes dari sudut matanya. Sam sudah tidak peduli tentang pria yang tidak boleh menangis, nyatanya Nay sudah beberapa kali melihat Sam menangis. Mereka cukup lama berpelukan hingga akhirnya Sam mengurai pelukan mereka. Mulai mencium seluruh wajah Nay, tidak peduli jika terlihat oleh orang lain.


“Terimakasih telah menungguku,” ucap Nay masih dengan air matanya.


“Hanya sepuluh bulan, tidak masalah bagiku. Aku sudah menunggumu sejak usia sembilan tahun.” Sam menyatukan dahi mereka. Sam bersyukur akan kesembuhan Nay, bersyukur akan cinta yang telah diberikan oleh Nay. Dia selalu merasa cintanya lebih besar dari Nay. Dulu Nay pernah berkata untuk jangan mengukur cinta siapa yang lebih besar. Namun, kenyataannya cinta Nay memang sangat luas untuk Sam, karena cintanya pada Sam membuat Nay harus mendekam di rumah sakit jiwa. Cukup bagi Sam untuk tidak meragukan cinta mereka. Samudra adalah pelabuhan cinta Nayna, cinta yang seluas Samudera tidak akan menggoyahkan cinta mereka.


“Ayo kita pulang.” Ajak Sam.


“Apa aku boleh pulang?” tanya Nay ragu.


“Tentu, aku sudah bicara dengan dokter, kamu boleh pulang asal minum obat secra teratur.” Sam mengandeng tangan Nay, mereka pergi meninggalkan rumah sakit.


“Sam …” ucap Nay ragu.


“Ada apa?” tanya Sam dengan tangan memegang kemudi.


“Bagaimana dengan Falis—ta?” Nay menanti jawaban Sam, dia takut mendengar kabar buruk.


“Kamu tenang saja, dia baik-baik saja setelah sebelumnya kritis.” Sam tidak ingin menyembunyikan apapun pada Nay.


“Owh. Apa aku perlu meminta maaf padanya?”


“Tidak perlu, dia pantas mendapatkannya!” ucap Sam tegas. Dia pun membenci Falista yang berani memberinya obat dan mencoba merusak rumah tangganya. Bagaimanapun kematian Sisil murni bukan kesalahannya, mereka sudah mencoba membantu namun di tolak oleh Falista sendiri.


Mereka tiba di rumah pantai. “Kenapa ke sini?” tanya Nay.


“Semua keluarga kumpul di sini. Lagi pula kita belum pernah mengajak yang lain ke rumah ini, ‘kan! Sekalian saja open house.”


Benar saja kata Sam, semua anggota keluarga berkumpul menyambut Nay, semua memberikan pelukan hangat pada Nay. Semua memandang Nay dengan kasih sayang. Nay bersyukur memiliki keluarga yang mencintainya. Sam memainkan piano di tengah kehangatan keluarga, Sam dan Nay saling menatap hangat. Tidak ada tempat paling nyaman selain keluarga.


***


Dua tahun berlalu, Sam sedang membuat ayunan jaring di pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi. Nay membantu di sampingnya. “Ambilkan talinya,” ucap Sam.


“Ini.” Nay memberikan tali pengikat pada Sam. Tidak beberapa lama ada seorang anak kecil berusia satu setengah tahun berlari dan memanggil Nay. “Mami …”

__ADS_1


Nay menoleh dan menggendongnya. “Jangan lari, nanti terjatuh.”


“Fika kangen Mami.” Fika mencium pipi Nay.


“Mami juga kangen Fika.” Nay membalas ciuman Fika.


“Fika, sini sudah jadi ayunannya. Mau coba?” tawar Sam.


“Mau, Papi.” Sam menggendongnya dan menaikan Fika ke atas ayunan dan mulai mendorongnya.


Zima dan Nima keluar dari rumah pantai dan berjalan menuju ke arah Nay dan Sam yang sedang berada di ayunan pohon. “Hati-hati jangan terlalu cepat, perutmu sudah besar!” ucap Zima pada Nima yang khawatir melihat Nima dengan perut besarnya berjalan cepat.


“Aku takut Fika membuat onar,” ucap Nima.


“Ada Nay dan Sam, kamu tidak usah khawatir.”


“Kita sudah terlalu banyak merepotkan mereka.” Decak Nima.


“Tidak apa, mereka senang kok.” Bela Zima.


“Ini semua gara-gara Kakak, aku 'kan sudah bilang untuk jangan sampai kebobolan. Kasian Fika masih kecil sudah jadi Kakak! Kita jadi kurang memberinya kasih sayang, apalagi aku sudah tidak boleh memberinya ASI!” Protes Nima.


Nima mengelus perutnya dan menyesal, “Maafkan Mama yah sayang, mama sayang kalian semua kok!”


“Jangan mengeluh di depan Nay atau pun Sam, itu akan menyakitkan hati mereka.” Saran Zima.


“Iya aku tau.”


Nima dan Zima sudah memiliki anak dan akan segera memiliki anak kedua. Nay dan Sam masih saling mencintai meskipun tidak ada anak di antara mereka. Mereka meminta ijin pada Nima dan Zima agar Fika diperbolehkan memanggil mereka dengan sebutan Mami dan Papi, sedangkan Nima dan Zima dipanggil dengan sebutan Mama dan Papa.


Mereka berkumpul dengan Fika masih di ayunan. Menikmati agin laut sambil menikmati makanan yang terhidang. Satu pelayan menghampiri Sam. “Tuan, ada kiriman untukmu.” Sam menerima paket tersebut dan membukanya. Nay penasaran dengan apa yang di pegang oleh Sam, dia mendekatinya. “Apa itu?”


“Tidak tau, aku buka dulu.” Sam membuka paket, di dalamnya ada sebuah amplop, dia membukanya dan tersenyum.


“Benarkah ini?” tanya Nay.

__ADS_1


“Lihat saja sendiri.”


“Apa kita akan ke sana?” tanya Nay.


“Tentu, sekalian bulan madu saja.” Sam mengedipkan matanya.


“Dasar genit.” Nay sudah terbiasa dengan tingkah Sam yang sering menggodanya.


Mereka berangkat ke Jepang, kiriman surat tersebut adalah undangan pernikahan Viktor dan Debora. Mereka pun tidak menyangka akan mendapat kabar baik itu. Nay selalu berpikir Viktor hanya menjadikan Debora sebagai pemuasnya saja.


“Aku tidak sangka Viktor akan menikahi Debora!” ucap Nay setelah turun dari mobil dan menatap gedung pernikahan Deboran dan Viktor.


“Aku kan sudah bilang, Viktor tidak seperti yang kamu pikirkan. Terkadang pria tidak bisa mengungkapkan perasaannya, itu lah yang dialami Viktor, memilih dengan jalan kasar untuk mendapatkan cintanya.”


“Tetap saja aku tidak suka pria yang kasar pada wanita.”


“Sudah, sudah, ayo kita masuk.”


Mereka masuk ke ruang aula, Nay dan Debora berpelukan memberi selamat. Namun, Nay merasa agak sulit meraih Debora karena terganjal sesuatu, Nay melihat kebagian perut Debora. “Kamu sedang hamil?” tanya Nay terkejut.


“Iya, sudah jalan Enam,” ucap Debora malu.


“Wah selamat yah, semoga lancar sampai lahiran. Sehat ibu dan anak.” Doa Nay tulus. Mereka berbincang antar sesama wanita.


Seseorang menepuk pundak Viktor, Viktor menoleh dan memeluknya. “Selamat atas pernikahanmu!” ucap Ryawan.


“Terima kasih, bagaimana kabarmu? Apa sudah mendapatkan gadis yang selama ini kau cintai?” ucap Viktor.


Sam terkejut melihat Ryawan ada di sana begitu pula dengan Nay, dia langsung menghampiri, belum juga Ryawan menjawab pertanyaan Vitor, Nay terlebih dahulu membuka mulut. “Kalian saling kenal?”


Bersambung…


Terimakasih masih setia dengan kisah Samudra Nayna.🙏🙏🙏


Jangan lupa like, love, gift dan komentarnya yach 😊

__ADS_1


Jangan lupa untuk mampir juga ke KAMUFLASE CINTA SANG CEO🥰🥰


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2