SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 96 Kisah Di Air Terjun


__ADS_3

"Periksa?" tanya Nay.


"Kalau kamu bersedia."


"Boleh."


"Ulurkan tanganmu." Pinta si tukang obat.


Nay mengulurkan tangannya, si tukang obat menyentuh lengan Nay, menyentuh nadi di tangannya. "Kamu memiliki masalah kesuburan."


'Bagaimana bisa tau hanya dengan menyentuh nadi?' batin Nay.


"Apa tidak bisa disembuhkan?" tanya Nay.


Si tukang obat tersenyum. "Rahimmu dingin. Jika, kamu bersedia aku akan memberikan obat untukmu."


"Boleh." Nay tidak berpikir panjang, semua cara akan dia coba. Sudah tidak peduli penyebab dia belum bisa hamil. Tidak peduli apakah sel telur kecil, infertilitas primer ataupun rahimnya dingin. Segala cara akan dia tempuh.


Si tukang obat memberikan sebotol obat dan sebotol madu. "Minumlah setiap pagi dicampur dengan madu hitam ini."


"Berapa yang harus kubayar?"


"Tidak perlu membayar. Jika kamu hamil, cukup bilang bahwa kamu mendapat obat dari seorang lelaki tua yang berjualan di air terjun."


"Baiklah, terima kasih. Aku akan mencarimu jika aku hamil."


"Tidak perlu mencariku. Aku berjualan berpindah tempat di setiap air terjun."


"Baiklah, aku akan mengingat kebaikanmu." Nay melihat Sam dari kejauhan, dia pamit kepada si tukang obat lalu berlari mendekati Sam.


"Kenapa berlari? jalannya tidak rata, kamu bisa terjatuh!" ujar Sam.


"Aku sudah tidak sabar untuk makan moci."


"Kirain tidak sabar bertemu denganku!"


"Itu juga sih." Nay mengambil moci di tangan Sam. Namun, tangannya penuh karena memegang botol obat dan madu. Dia memasukan ke dalam saku bajunya. Sam melihat obat tersebut.


"Apa itu?" tanya Sam.


"Oh, tadi ada tukang obat dan dia memberiku ini." Nay memberikan botol obatnya pada Sam.

__ADS_1


"Obat apa?"


"Agar cepat hamil." Nay memasukan moci kedalam mulutnya.


Sam hanya memandang pujaan hatinya. Nay begitu berusaha untuk bisa hamil, maka dia juga harus mendukungnya.


"Kamu bilang masalah kesuburan padanya?" tanya Sam.


"Tidak, dia memeriksa nadiku dan langsung bilang aku ada masalah kesuburan lalu memberiku obat secara percuma!" jawab Nay tidak jelas karena masih mengunyah moci.


"Kalau begitu aku harus berterima kasih padanya," ujar Sam.


"Orangnya di sana." Nay menunjuk ke arah penjual obat. "Eh, kemana orangnya?" Nay melihat sekeliling mencari si penjual obat.


"Dimana?" tanya Sam.


"Tadi di situ!" jelas Nay.


"Mungkin sudah pergi."


"Cepat sekali perginya! Barang dagangannya tidak sedikit, cepat sekali membereskannya." Heran Nay.


"Mungkin ada yang membantu membawa barang dagangannya, sudah ayo kita pergi. Kamu mau main air dulu apa pulang?"


"Oke, ayo."


Mereka duduk di atas batu besar dengan kaki yang terendam air. Bercengkrama membicarakan hal yang tidak penting. Namun, mereka sangat bahagia.


"Ayo kita pulang, hari sudah mulai sore." Nay bangkit dari duduknya.


"Ayo."


Mereka berjalan di jalan yang menurun, jalannya tidak rata, masih banyak batu-batu kerikil. Kaki Nay terkilir, "Sam, tunggu. Kakiku terkilir."


"Sakit kah?" tanya Sam.


"Uhm."


"Biar aku gendong." Tawar Sam.


"Tidak usah, pasti kamu lelah."

__ADS_1


"Tidak apa, anggap saja menyicil hutangku."


"Hehehe, ternyata kamu mengingat hutangmu itu!"


"Tentu saja!"


Sam menggendong Nay menuju mobilnya, Sam menawarkan ke rumah sakit. Namun, Nay menolak, dia lebih memilih langsung pulang. Sesampai nya di rumah, Sam tetap menggendong Nay.


"Sam, turunkan aku. Malu jika dilihat orang."


"Biarkan saja."


Mereka sampai rumah sudah larut. Zima masih tinggal di apartemennya. Nay masih dalam gendongan Sam, menaiki tangga menuju kamar mereka. Retno melihat anak dan menantunya menaiki tangga. Melihat wajah bahagia dari keduanya membuat hatinya hangat. Berharap Sam dan Nay bahagia selamanya.


Satu bulan berlalu, hari pernikahan Zima dan Nima di percepat seperti permintaan Retno, hubungan Leo dan Zima membaik, Zima sudah memaafkan ayahnya. Dua keluarga sibuk mempersiapkan pernikahan. Tidak seperti pernikahan Sam dan Nay yang hanya di atur oleh wedding organizer tanpa minta pendapat pengantinnya.


Pernikahan Zima dan Nima lebih banyak calon pengantin yang terlibat, dari jenis makanan, dekorasi, souvernir, cake pernikahan, susuan acara dan juga gaun pengantin.


Hari ini calon pengantin beserta keluarga datang ke sebuah butik. Nima akan mencoba gaun pengantinnya, sedang kan Retno, Sinta dan Nay mencoba pakaian yang mereka pesan, mereka berencana memakai pakaian yang sama di hari pernikahan Zima dan Nima.


Mereka semua mencoba pakaian mereka, saat Nima memakai gaun pengantinnya, terlihat sangat cocok di tubuhnya, tetapi wajahnya sangat pucat. Zima menyadari itu.


"Kenapa wajahmu pucat? Kamu tidak apa?" tanya Zima.


"Aku hanya merasa pusing Kak, lalu agak mual," jawab Nima. Setelah itu dia berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutnya.


Semua orang terkejut melihat Nima berlari dengan wajah pucat. Mereka menunggu di depan toilet. Nima keluar dari toilet dengan wajah pucat.


"Nima kamu kenapa, Nak?" tanya Sinta dengan wajah yang khawatir.


"Tidak tau, Bu. Aku pusing dan mual," jawab Nima.


"Apa datang bulanmu teratur?" tanya Retno.


"Sudah telat dua minggu ini, Bu." Nima sudah mengubah panggilan tante menjadi Ibu pada Retno.


"Kamu hamil ...." ucap Retno.


Bersambung.....


Jangan lupa dukungan nya dengan like, love, vote dan juga komentarnya yach 🤗🥰🥰

__ADS_1


Terima kasih masih setia dengan kisah Samudra Nayna yang tinggal beberapa bab lagi 🙏🙏🙏


SALAM AGE NAIRIE 🥰🥰🥰😘😘


__ADS_2