SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 36 Kakek Adam


__ADS_3

Mereka tidak mencari penginapan terdekat namun memutuskan pulang ke apartemen agar Nay lebih dekat ke kantornya. Setelah Sam mengantarkan Nay kekantornya, tanpa sepengetahuan Sam, Nay tidak masuk kedalam namun dia beralih pergi meninggalkan kantornya dan memesan kepada Rudi bahwa dia akan datang setelah makan siang. Dia pergi ketempat Mama dan Papa-nya. Makam kedua orang tuanya. Dan Sam melajukan mobilnya ke kantornya sendiri, dia tiba sudah menunjukan pukul 10 pagi.


“Kau baru datang?” tanya Bian.


“Terlihatnya?” jawab Sam.


“Masuklah! ada yang menunggumu!”


“Siapa?”


“Kakakmu!”


“Apa sudah ada kabar lagi?”


“Kabar apa?”


“Semua yang aku perintahkan padamu!” ucap Sam tegas.


“Baru juga kemarin aku report padamu atas temuan terbaru, sekarang udah minta update lagi aja!”


“Selalu saja menjawab!” bentak Sam.


“Kalau tidak dijawab lebih marah lagi! udah aku pergi dulu!” Bian pergi meninggalkan Sam.


Kenapa akhir-akhir ini aku malah jadi mengurusi masalah pribadinya.


Sam menuju ruangannya, benar saja sudah ada Zima menunggunya di dalam.


“Kamu sudah datang?”


“Ada apa kemari?” tanya Sam malas.


“Ish, kemarin saja paniknya bukan main tapi sekarang kaya orang ga butuh!” gerutu Zima.


“Sudah cepat katakan saja, apa maksud kedatanganmu?”


“Sepertinya ada yang disembunyikan kakek Adam!”


“Apa yang kamu ketahui?” tanya Sam.


“Kemarin Nima bilang padaku, Ibunya selalu histeris jika bertemu dengan Nay!” ucap Zima.


“Kemarin Nay juga bilang, dia bertengkar dengan tante Sinta! tantenya menyalahkannya sebagai penyebab kematian ayahnya.”


“Benarkah?”


“Ya.”


“Tapi dari yang kudengar dari Nima, ibunya tidak pernah menyebut nama Nay, dia memang selalu histeris bertemu dengan Nay! Tapi dari ceritanya, ibunya seperti melihat sosok lain dalam diri Nay.”


“Apa tante Sinta ada masalah kejiwaan?” tanya Sam.


“Aku belum tau pasti, namun Nima bilang ibunya ditangani oleh psikiater.”


“Sepertinya kita harus mencari tau!” lalu Sam membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan amplop dan memberikan pada Zima.

__ADS_1


Zima membuka isinya. “Jadi Nay anak adopsi?”


“Entahlah, usia Nima dan Nay sama!”


“Mungkin ayah tau, Sam! Dia kan dekat dengan kakek Adam.”


“Kalau begitu sekarang kita temui ayah, tidak usah buang-buang waktu!” Sam dan Zima langsung menemui ayah mereka di kantornya.


***


Di Perusahaan Alegian.


“Tumben anak ayah akur, sampai kalian datang bersamaan!” ucap Leo.


“Ada yang ingin kami tanyakan, Yah?” ucap Sam.


“Duduklah dulu, jangan berdiri saja!” Leo melihat kedua anaknya yang masih berdiri di depannya. Mereka akhirnya duduk. “Apa yang ingin kalian tanyakan?”


Tanpa basa basi Sam langsung mengutarakan maksudnya. “Apakah Nay … cucu adopsi?”


“Hmm … ha … ha … kalian ini bicara apa? Sembarangan saja!” ucap Leo sambil tertawa.


Zima memberikan amplop yang berisi data kakek Adam mengadopsi anak perempuan. Leo mengambilnya dan membacanya, setelah itu langsung terdiam. Dia tidak menyangka anak-anaknya mencari tau tentang ini.


“Ternyata anak ayah sudah pada dewasa! ini bukan hak ayah untuk ceritakannya pada kalian!”


“Tapi Nay istriku, Yah!” ucap Sam serius.


“Jadi benar, Nay adalah anak adopsi?” tanya Zima.


“Aku tidak bilang begitu, Zima!”


Leo melihat kedua anaknya, “Ayah tidak punya hak untuk bicara!”


“Apa Nima cucu angkat, Yah? tanya Zima.


“Baiklah, ayah akan bilang daripada kalian mencoba mencari tau sendiri!”


“Nah gitu donk Yah, bukan dari tadi!” ujar Sam.


Leo hanya melihat sinis pada Sam. “Tante Sinta kehilangan anaknya! setelah dilahirkan, bayinya tidak bertahan lebih dari satu jam dan rahimnya pun harus diangkat, maka dari itu dia sedikit depresi! dan kakek Adam memutuskan mengadopsi Nima sebagai anak Sinta.”


“Jadi tante Sinta depresi karena kematian anaknya?”


“Ya!”


“Lalu kenapa dia sangat histeris jika bertemu dengan Nay?” tanya Sam.


“Kata siapa?” ucap Leo.


“Kemarin Nay dan tante Sinta bertemu, dan mereka terlibat pertengkaran!” ujar Zima.


“Apa Sinta terluka?” tanya Leo.


“Tidak! seharusnya ayah bertanya apakah Nay terluka? yang diserang Nay!” ujar Sam.

__ADS_1


“Apa Nay terluka?”


“Tidak, dia hanya merasa bahwa dia adalah penyebab kematian orang tuanya!”


“Kenapa dia bisa bilang begitu?”


“Karena kata tante Sinta, Nay lah yang seharusnya mati bukan ayahnya!”


Leo sempat tersentak mendengar kata-kata Sam! “Tidak ada hal seperti itu, orang tua Nay meninggal karena kecelakaan!”


“Tapi kenapa tante Sinta bilang begitu?” tanya Sam.


“Kan Ayah sudah bilang bahwa tante Sinta depresi!”


“Maksudku, kenapa hanya melihat Nay histerisnya?” tanya Sam.


“Ayah tidak tau, sekarang tugasmu adalah menjaga Nay saja, buat dia bahagia!” Leo menghadap pada Zima, “ dan untuk kalian berdua jangan sampai Nima juga tau kalau dia adalah anak adopsi, Sinta sudah menganggapnya sebagai anak kandungnya, jadi biarlah seperti itu.”


“Tapi Yah, aku masih meresa ada yang mengganjal!” ujar Sam.


“Sudahlah, tidak usah mencari tau lagi! ini sudah berjalan sebagaimana mestinya.”


Sam dan Zima akhirnya keluar dari ruangan ayahnya dan mereka kembali bekerja.


***


Tempat pemakaman orang tua Nay terpisah padahal mereka meninggal dihari yang sama, entah kenapa dimakamkan di lokasi yanng berbeda. Nay mendatangi makam ibunya terlebih dahulu, duduk di tepi makam ibunya, menyingkirkan daun-daun yang mengotori makamnya.


“Mama, apa kamu baik-baik saja disana? Aku sudah menikah Mah, dengan Sam!” Nay mengusap photo ibunya, “dia sangat menyayangiku Mah, dulu aku sempat berpikir akan jadi apa pernikahanku dengannya tapi sekarng kami baik-baik saja, kami bahagia dengan pernikahan kami, mertuaku juga sangat menyayangiku, aku sangat bersyukur dapat menjadi keluarga Sam!”


Setelah puas dengan curhatannya kepada Mamanya, dia meninggalkan makam mamanya dan menuju ke lokasi makam papanya.


Setibanya di makam papanya, Nay melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan dimakan mamanya. Dia membersihkan dedaunan yang jatuh dimakam papanya.


“Papa, apa kabar?” Nay memandang photo ayahnya, “walau hanya sedikit memori tentangmu tapi aku tau kamu sangat menyayangiku! Ada yang ingin kutanyakan padamu Pah? Apa sebenarnya aku yang harus mati? Bukan dirimu?” Nay mulai meneteskan air matanya, terlintas kembali kata-kata tantenya. “Jika bisa memilih, aku ingin ikut kalian, menjadi keluarga yang lengkap dan bahagia.”


Belum selesai Nay berbincang dengan papanya, ponselnya berdering.


“Hallo! Apa? Aku akan segera kesana!”


Nay mendapat telepon dari Anton, asisten Kakek Adam, yang mengabarkan bahwa penyakit jantung kakeknya kambuh. Nay langsung menuju rumah sakit dimana kakeknya dirawat. Setibanya sampai rumah sakit dia berpapasan dengan Nima. Mereka saling pandang lalu menuju ruang kakeknya dirawat, setelah sampai di ruang rawat kakeknya, sudah ada Anton di dalam ruangan, ada selang oksigen di hidung kakeknya.


“Kakek, bagaimana keadaan Kakek?” tanya Nim sedangkan Nay hanya menampakan wajah khawatir.


“Tidak terlalu parah, kalian tidak usah khawatir!” jawab Adam dengan melihat Nay lalu menoleh melihat Anton dan dia pun mengerti.


“Nona Nay! Kakek Adam sudah tidak mampu memegang perusahaan, maka dari itu pelantikan dirimu untuk jadi CEO akan dipercepat!”ucap Anton.


“Baik, Paman!” jawab Nay pada Anton.


Mereka sedikit membicarakan tentang perusahaan, Nima hanya menyimak pembicaraan mereka, dia merasa bahwa dirinya transparan hingga tidak ada yang mengajaknya bicara.


Bersambung…..


Jangan lupa like, love dan tinggalkan komentar kalian yah, maklum otor newbie jadi masih butuh banyak saran dan kritik, jika berkenan juga boleh kasih vote... :)

__ADS_1


Oh ya, aku punya rekomendasi novel temen aku nih, dia otor senior loh! Willea karya Phopo Nira



__ADS_2