SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 69 Infertilitas Primer


__ADS_3

Nay masih terkulai lemas dalam dekapan Sam, dia bahkan tidak sanggup untuk menggerakkan jarinya.


“Sayang, katanya mau menyalakan lampion? Ayo bangun, belum terlambat jika kita ingin bermain lampion.” Sam menepuk pundak Nay yang masih polos.


“Tidak sanggup, aku hanya ingin istirahat Sam,” ucap Nay lemas.


“Tidak apa ya, jika tidak menyalakan lampion? Nanti kamu jangan marah.”


“Aku ingin, tapi sudah tidak sanggup lagi. Ini semua karena kamu!” kesal Nay.


“Bagaimana jika aku gendong, nanti biar aku yang menyalakan. Kamu tinggal duduk manis saja.”


“Sebentar lagi yah, aku masih lemas sekali. Kamu sih, ga kira-kira!” protes Nay.


Sam tidak tega melihat Nay. “Tidurlah, kita bisa lain kali menyalakannya.”


“Tapi aku ingin, kapan lagi menyalakan lampion di pinggir pantai, dimalam hari? Tunggu setengah jam lagi, aku kumpulkan tenaga dulu baru kita keluar menyalakan lampion.”


“Baiklah, tapi jangan dipaksakan jika kamu lelah.” Sam mencium kening Nay, “aku siap-siap dulu, yah.” Sam beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah pertempuran dengan istrinya.


Nay benar-benar menepati perkataannya, dia mengumpulkan energi agar bisa menyalakan lampion, waktu sudah menunjukan pukul 23.30, mereka keluar dari penginapan dan beranjak menuju tepi pantai.


“Bagaimana cara menyalakannya?” tanya Nay.


“Sini biar aku lihat dulu.” Sam mengambil lampion dari tangan Nay, melebarkannya dan memasang parafin pada kawat yang ada di bagian bawah lampion.


“Kamu pegang lampionnya,” perintah Sam.


Nay mengambil lampion tersebut, kemudian Sam mengambil korek dan membakar parafin tersebut, tidak lama parifin terbakar dan mengeluarkan api.


“Tinggal nunggu uapnya terkumpul, baru kita lepaskan.” Sam tersenyum pada Nay.


“Sam, ini sudah mengembang. Aku lepaskan, yah?”


“Lepaskanlah.”


Nay melepaskan lampion tersebut, perlahan lampion tersebut terbang ke atas dan mulai menyinari langit yang hitam.


Mereka membakar beberapa lampion lagi dengan berbagai macam warna, hingga terciptalah warna-warni menghiasi langit. Nay begitu bahagia melihat keindahan lampion, bagaikan bintang yang bersinar, sedangkan Sam bahagia melihat senyum Nay yang merekah.


Tidak ada pertengkaran diantara mereka selama berlibur di pulau, hanya ada penampakan keharmonisan yang penuh kasih sayang. Hingga akhirnya mereka pulang di hari minggu.


***


“Sayang, aku lupa bilang, besok aku harus pergi ke Paris. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan,” ucap Sam setelah sampai di rumah.


“Ya sudah, pergi saja.”


“Kamu mau ikut, tidak?” tanya Sam.


“Memangnya aku tidak ada pekerjaan? harus ikut denganmu?”


“Aku pergi sepuluh hari, loh!”

__ADS_1


“Lalu?”


“Memangnya selama itu, kamu tidak rindu?”


“Kamu sendiri?” Nay malah bertanya balik.


“Tentu saja rindu. Karena itu, aku mengajakmu pergi denganku.”


“Tidak bisa, ada yang harus ku kerjakan. Kamu saja percepat pekerjaannya, biar tidak terlalu lama berpisah denganku.”


Hati Sam terenyuh mendengar Nay memintanya mempercepat pekerjaan agar mereka cepat bertemu. “Akan aku usahakan.”


Keesokan harinya, Sam berangkat menuju bandara diantar oleh Nay, mereka berpisah setelah berpelukan erat.


“Jangan tergoda bule disana!” ancam Nay.


“Memangnya ada yang bisa menggodaku selain dirimu?” ucap Sam mencolek hidung Nay.


“Sudah sana pergi, aku mau lihat punggungmu dari kejauhan.”


“Baiklah. Aku pergi dulu, yah.” Sam mencium Nay sekilas lalu berbalik dan pergi. Nay melihat punggung Sam yang lambat laun mengecil dan menghilang.


Nay kembali ke rumah untuk mengambil beberapa dokumen yang tertinggal, saat turun dari tangga ibu mertuanya memanggilnya.


“Nay, bukannya minggu ini jadwalmu kontrol?” ucap Retno.


“Oh, iya. Aku lupa, Bu.” Nay menepuk dahinya.


“Kamu sibuk tidak? bagaimana kalau hari ini saja kita periksa?”


“Sudah, Bu. Ayo kita berangkat.”


“Ayo, kita naik mobil Ibu saja, ya.”


“Baik.”


“Kamu meminum rutin obat dari dokter, kan?” tanya Retno saat mereka di dalam mobil.


“Iya, aku sudah meminumnya semua.”


Tibalah mereka di rumah sakit tujuan, antrian tidak terlalu ramai. Nay dan Retno masuk kedalam ruang periksa Dokter Stella dan mulai melakukan pemerikasaan USG.


“Bagaimana Dok? Apakah ada perkembangan?” tanya Nay.


“Ada sedikit peningkatan ukuran. Namun, masih belum sesuai dengan ukuran sel telur yang siap dibuahi.”


“Jadi, aku harus tetap meminum obatnya?”


Dokter Stella diam sejenak memandang Nay. “Nona Nay, aku menyarankan pemeriksaan menyeluruh, apa Anda bersedia?”


“Lakukanlah, Dok.”


Nay melakukan serangkaian pemeriksaan, dari tes urin hingga radiologi. Butuh waktu dua jam sampai hasilnya keluar. Nay dan Retno memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit sambil menunggu hasil pemeriksaan.

__ADS_1


Dua jam berlalu, mereka kembali ke ruangan dokter untuk membaca hasil. Stella melihat hasil dari pemeriksaan itu.


“Bagaimana hasilnya, Dok?” tanya Nay penasaran.


“Hasil dari pemeriksaan ini, Anda mengalami infertilitas primer.”


“Maksud Anda apa?”


“Infertilitas primer adalah gangguan kesuburan, sering disebabkan oleh gangguan pada ovulasi. Ovulasi merupakan proses pelepasan sel telur dari ovarium atau indung telur. Bila tidak ada proses ovulasi, berarti tidak ada sel telur yang bisa dibuahi oleh sper*ma. Akibatnya, kehamilan pun tidak akan terjadi,” jelas Stella.


Nay hanya membeku setelah mendengar penuturan Stella, wajahnya pucat pasi, dia tidak sanggup berkata apa-apa.


“Apa yang kamu katakan, Dokter? Bukannya kamu bilang kemarin hanya sel telurnya saja belum sesuai ukuran untuk siap dibuahi? Kenapa sekarang menjadi gangguan kesuburan!” ucap Retno marah.


“Saya hanya membacakan hasilnya saja, Bu,” bela Stella.


Retno tidak terima dengan ucapan Stella yang mendiagnosa Nay mengalami gangguan kesuburan, dia menarik lengan Nay untuk berdiri, “Ayo, kita pergi! Kita cari dokter lain saja.”


Mereka meninggalkan ruangan dengan Nay yang masih seperti boneka, diam dan hanya mengikuti mertuanya. Sedangkan Retno keluar dengan wajah yang marah. Yang tidak diketahui Nay adalah Falista berada di luar ruangan, menunggu antrian untuk pemeriksaan. Dia melihat Nay yang keluar dari ruangan doker dengan wajah yang pucat pasi.


Falista masuk kedalam ruangan, setelah namanya dipanggil.


“Hai,” sapa Falista, Stella adalah temannya. Mereka sudah janjian untuk melakukan pap smear pada Falista.


“Hai, sudah datang?”


Falista duduk di depan Stella, “By the way, yang barusan keluar itu sakit apa?”


“Siapa?” tanya Stella.


“Wanita yang keluar sebelum aku masuk.”


“Itu rahasia pasien, aku tidak bisa memberitahu.”


“Ayo, katakanlah. Aku melihatnya sangat sedih, lagi pula aku tidak kenal dengannya, hanya ingin tau saja, dia punya penyakit apa, agar bisa kuambil pelajaran.” Falista mendorong lengan Stella untuk membujuknya memberitahu apa yang terjadi pada Nay.


“Oke, oke, wanita tadi mengalami gangguan kesuburan.”


“Maksudmu dia tidak bisa hamil?”


“Bukan tidak bisa. Tapi, sulit untuk hamil.”


“Sama saja.”


Bersambung….


Terima kasih masih setia dengan Samudra Nayna 🙏


Mohon dukungannya ya dengan cara like, tambahkan ke favorit kalian dan juga komentarnya.😊


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰


Rekomendasi novel hari ini, karya Yanktie Ino

__ADS_1


cus kepoin dan jangan lupa tinggalkan jejak ya 😊



__ADS_2