
Tiga minggu berlalu, hubungan Nay, Nima dan kakeknya sudah mulai membaik. Mereka bertemu di bengkel seni milik Nima walaupun pertemuan mereka tetap tanpa Sinta, mereka sepakat untuk pelan-pelan membantu Sinta dari penyakit PTSD-nya.
“Akhir bulan ini, pelaksanaan pameranmu, kan?” tanya Nay.
“Iya, doakan aku yah, semoga acaranya dapat berjalan dengan lancar.”
“Karya senimu bagus, aku yakin acaramu akan berjalan dengan lancar,” ucap Kakek Adam.
“Terima kasih, Kek.”
“Apa perlu bantuan? Perlu kucuran dana tidak? jangan sampai kamu kelihatan seperti orang susah, Aku akan malu sebagai sepupumu!” ujar Nay.
“Cih, sifat sombongmu masih saja di pelihara! lagipula aku sudah memiliki kakek yang kaya raya, jadi tidak perlu dirimu sudah ada kucuran dana rutin dari kakek!” ucap Nima.
“Kamu jangan lupa, kakek sudah pensiun sekarang akulah CEO di Rastian Corp.”
“Kakek, lihat Nay menyombongkan dirinya sendiri!” Nima mengadu seperti anak kecil dan Kakek Adam hanya tersenyum melihat kedua cucunya.
“Ish, dasar tukang adu, lagi pula ini kenyataan aku sudah menjadi CEO, sekarang kakek sudah tidak punya apa-apa.”
“Walaupun sudah pensiun, warisan kakek banyak! Aku yakin akan dapat warisan yang banyak dari kakek, kamu jangan lupa di perusahaan juga ada bagian diriku.”
“Kalau begitu kita bagi dua saja bagaimana?”
“Setuju! Aku akan gunakan keliling dunia, aku mau lihat semua karya seni di dunia ini.”
“Ah…, aku juga belum bulan madu yang sesungguhnya, lebih baik aku gunakan untuk keliling dunia bersama Sam.”
“Hei… aku masih hidup, kalian sudah membicarakan warisan saja!” Adam tau kedua cucunya hanya bergurau dan bukan bermaksud mendoakan dirinya cepat masuk liang lahat.
“Ha… ha… ha….” Mereka tertawa bersama.
***
Hari pameran Nima tiba, Sam dan Nay sudah bersiap untuk menghadiri, Nay menggunakan Dress hitam selutut lengkap dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya yang menutupi sebagian wajahnya sedangkan Sam hanya menggunakan Jas berwarna hitam. Zima pun ikut menghadiri pameran tersebut. Mereka bertiga datang di waktu yang bersamaan, sesampainya di lokasi sudah mulai banyak pengunjung. Mereka mencari Nima untuk memberikan ucapan selamat, Nima sedang sibuk dengan beberapa pengunjung diantaranya Bian.
Sam berbisik ditelinga Nay, “Kenapa pakai kaca mata hitam, ini kan bukan tengah hari bolong?”
“Sudah diamlah, aku belum siap bertemu dengan tante Sinta, dia belum bertemu denganku lagi setelah di rumah sakit, aku takut dia histeris disini.”
“Bukankah kamu bilang Nima sudah mulai bicara dengannya pelan-pelan? Lagi pula sekarang penampilanmu sudah berubah.”
“Iya aku tau, hanya untuk berjaga-jaga saja.”
“Tapi menurutku kamu tidak perlu sampai seperti ini, kalau kamu tidak nyaman dengan pempilanmu yang sekarang maka jangan mengubah yang tidak sesuai dengan keinginanmu!”
“Rambut bergelombang atau rambut lurus tidak masalah bagiku, karena aku tidak pernah meragukan kecantikkan diriku!”
“Ais… kamu memang Nayna ku, kamu memang tidak berubah, masih tetap angkuh dan sombong.”
__ADS_1
“Tapi kamu sayangkan?”
“Apa hubungannya sayang atau tidak?”
Obrolan mereka terputus disaat Zima masuk dalam percakapan mereka.
“Kenapa ada Bian disini?” tanya Zima yang melihat Bian memberikan bunga pada Nima.
“Aku yang memberitahunya,” jawab Sam.
“Jadi dia tidak diundang?”
“Tidak harus tamu undangan yang datang, pengunjung umum juga bisa datang! Kenapa dengan wajahmu?” sam melihat rona kesal diwajah Zima.
“Tidak apa!” jawab Zima datar.
Apakah pria yang disukai Nima adalah Bian?
“Ayo kita kesana!” ucap Nay.
Mereka menghampiri Nima, Nay dan Nima berpelukkan. “Selamat yah atas pembukaan gallerymu?”
“Terima kasih Nay.”
“Selamat Nima,” ucap Sam.
“Cepat sekali kamu sampai disini?” ucap Sam memukul pundak Bian.
“Jalanan tidak macet jadi cepat sampainya.”
“Jalanan yang lancar apa kamu yang kecepatan?”
“Ha… ha… Namanya juga usaha!” ucap Bian dengan tertawa. Sam tau bahwa Bian tertarik dengan Nima, maka itu dia memberitahu Bian tentang Nima.
Zima hanya terdiam di tempat memperhatikan interaksi Sam dan Bian.
“Kak Zima datang juga?” tanya Nima pada Zima yang membuyarkan lamunannya.
Belum sempat Zima menjawab, Nay menghampiri Nima, pamit untuk melihat-lihat hasil karya seninya. Sam dan Nay pun pergi meninggalkan Nima, Zima dan Bian.
“Tentu aku harus datang, kan kamu sudah mengundangku!” seperti memberikan kode pada Bian bahwa dia telah diundang Nima.
“Begitu,” ucap Nima.
Jadi kamu tidak akan datang jika aku tidak mengundangmu, Kak!
“Nima, maukah kamu menemaniku berkeliling? Aku mau melihat lukisanmu,” ujar Bian.
“Emm, baiklah! Kak Zima mau disini atau mau gabung bersama kami?” tanya Nima.
__ADS_1
“Kak Zima pasti sibuk, sudah kita saja!” ucap Bian.
“Kata siapa aku sibuk, aku ikut dengan kalian!” ucap Zima kesal.
“Yasudah kalau mau ikut, tidak usah keluar urat! Kakak beradik sama saja!” ucap Bian pelan.
***
Nay melepas kaca matanya ketika memperhatikan sebuah lukisan. “Apa ini yang disebut karya seni? Kenapa hanya seperti goresan-goresan anak kecil saja!” ucap Nay.
“Bukan goresan anak kecil tapi kamu yang tidak memiliki jiwa seni, ini yang disebut lukisan abstrak dan semua itu ada maknanya!” jawab Sam.
“Jadi makna dari lukisan ini apa?”
“Tidak tau.”
“Itu artinya kamu juga tidak memiliki jiwa seni!” protes Nay sambil berlalu meninggalkan Sam, namun langkahnya terhenti melihat orang yang ada di depannya.
“Nay,” panggil Kakek Adam.
Nay menatap orang yang ada di samping kakeknya, memperhatikan apakah ada reaksi pada tantenya tersebut, hatinya mulai berkecamuk tidak menginginkan hal yang buruk terjadi namun melihat respon tantenya tersebut sepertinya dugaannya salah.
Sinta berjalan mendekati Nay, dengan senyum diwajahnya namun ada embuh di matanya, Sinta akhirnya meneteskan air matanya, selangkah demi selangkah mendekati Nay dan mulai memeluknya.
“Hiks… hiks… maafkan tante, Nay?” ucap Sinta yang masih memeluk Nay.
Nay membalas pelukkan tantenya dan ikut menangis bersama. “Aku juga minta maaf Tante, setelah apa yang telah aku lakukan padamu.” Mereka saling berpelukkan satu sama lain, hanya terlontar ucapan maaf diantara mereka, tidak ada bahasan tentang masa lalu, seperti mereka sudah kompak untuk melupakan masa lalu dan tidak akan mengorek luka lama.
Hari yang sangat membahagiakan untuk keluarga Rastian, Kakek Adam sangat senang melihat anak dan cucu-cucunya bisa bersama, setelah acara selesai mereka memutuskan untuk makan bersama di sebuah restoran untuk merayakan kebersamaan mereka.
“Terima kasih semuanya sudah bisa menghadiri acara pameran lukisanku,” ucap Nima pada semua orang di tengah acara makan malam mereka.
“Kamu sudah membuka pameranmu, sekarang tinggal pernikahanmu, apa perlu Kakek jodohkan juga?” ucap Kakek Adam.
“Tidak perlu, tidak perlu! aku bisa mencari pasanganku sendiri, banyak pria yang mendekatiku, tinggal aku seleksi saja, Kek.”
“Mana ada banyak, satu saja kamu tidak bisa mendapatkannya,” cibir Nay.
“Nay!!! Tutup mulutmu!” Nima kesal dengan ucapan Nay karena disana Zima juga ikut makan bersama.
Bersambung……………
Mohon tinggalkan jejak ya kak dengan cara like, vote, dan masukan ke daftar favorit, ditunggu komentarnya juga ya kak…
Salam Age Nairie…
Rekomendasi Novel oke, punya temanku nih kak.. silakan dibaca ya kak...
__ADS_1