SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 24 Pengakuan


__ADS_3

Nay terus menyebut nama Sam, menangis histeris hingga akhirnya ikut pingsan bersama. Mereka di bawa ke rumah sakit terdekat.


Nay mulai membuka matanya, pemandangan pertama yang terlihat adalah atap berwarna putih dan wangi disinfektan tercium dengan jelas, baru mulai menyadari bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit. Terpikirkan akan Sam, dia langsung mencoba untuk bangun namun kepalanya masih pusing, Setelah itu pintu kamar terbuka.


“Kau sudah sadar, Nayna?” tanya Bian.


“Bian.., dimana Sam?” tanya balik Nay.


“Jika kamu sudah baikan, aku akan antar ke tempat Sam!”


“Kenapa kamu ada disini?” tanya Nay.


“Aku menghubungi Sam namun yang mengangkat ponselnya pihak rumah sakit maka dari itu aku langsung kesini."


“Jam berapa sekarang?” tanya Nay sambil mencoba untuk duduk.


“Baru jam lima pagi, istirahat lah! kamu mendapatkan beberapa jahitan di dahi mu.”


“Lukaku tidak parah! tapi bagaimana dengan Sam? Dia terkena dua tusukan!”


“Aku akan mengantarmu, tapi tidak sekarang pulihkan dirimu dulu.”


Nay akhirnya mengalah dan kembali merebahkan dirinya lagi ke kasur. Tepat pukul delapan pagi Nay sudah bangun dan sudah ada Bian menunggu di kamar Nay.


“Kamu sudah bangun?” tanya Nay.


“Iya, antar kan aku ke tempat Sam”


“Mau membersihkan wajahmu dulu?”


Nay hanya mengangguk dan mulai berdiri menuju wastafel.


“Biar aku bantu,” ucap Bian sambil memapah Nay.


Setelah mencuci muka, Bian bukannya mengantar Nay ke tempat Sam namun malah menyodorkan makanan ke depan Nay.


“Aku tidak lapar, aku mau bertemu Sam!” Nay menolak makanan yang disodorkan Bian.


“Makan dulu, kamu butuh banyak tenaga sebelum nanti menangis lagi!” ucap Bian dengan tenang.


“Menangis? Sebenarnya apa yang terjadi pada Sam?” Nay mulai kacau, air matanya sudah hampir menetes.”


“Tidak ada apa apa, sudah makan dulu saja!” ucap Bian dengan sedikit gugup.


Nay melihat curiga kepada Bian namun dia tetap patuh memakan makanannya, pikirannya mulai kacau takut terjadi hal buruk kepada Sam.


“Sudah habis, cepat antar aku ke tempat Sam!” ucap Nay sambil menunjuk piring kosongnya, dia makan dengan sangat terburu buru.

__ADS_1


“Baiklah.”


Bian dan Nay berjalan berdampingan, Nay sangat gugup selama perjalanan menuju ruangan Sam, benar benar merasa ketakutan akan kehilangan Sam. Sampai pada akhirnya sampailah di depan pintu kamar Sam.


“Ini kamarnya, ku harap kamu siapkan dirimu jangan terlalu lemah,” ucap Bian.


Wajah Nay tampak pucat namun dia memberanikan diri membuka kamar tersebut, melangkah mendekat ke arah Sam, ada selang infus yang terhubung di tangannya namun tidak ada alat alat medis lain yang menempel di tubuhnya.


“Sam,” panggil Nay.


“Samudra, apa kamu tertidur?” tanya Nay, namun tidak ada jawaban.


“Dia tidak akan membuka matanya tapi ku rasa dia bisa mendengar suaramu, semoga dengan mendengar suaramu dia bisa tersadar,” jelas Bian.


“Apa maksudnya?” tanya Nay bingung.


“Dia koma!”


“A … pa!” ucap Nay gugup, air mata mulai membasahi pipinya.


“Dia hanya koma sementara kan? Tapi bagaimana dia bisa koma? Apa kepalanya tertusuk atau terbentur?” beruntun pertanyaan terlontar oleh Nay secara terbata dan dia melihat ke arah Sam, tidak ada perban apapun di dahi ataupun kepalanya hanya terlihat seperti Sam sedang tidur saja.


“Dokter bilang hanya keajaiban yang bisa membangunkannya, di kepala Sam memang tidak ada luka tusukan, namun karena luka di perutnya mengakibatkan syaraf yang ke otak rusak!” Bian mencoba menjelaskan.


Nay mendengarkan penjelasan dari Bian namun sulit baginya percaya luka tusuk diperut mengakibatkan kerusakan otak.


“Sebenarnya Sam sempat sadar saat kamu masih pingsan namun hanya sebentar lalu koma lagi.”


“Sempat sadar?”


Lalu Bian melanjutkan ceritanya, “Dia memanggil namamu terus, Nayna Nayna Nayna!” ucap Bian dengan nada sedih.


“Dia hampir tidak pernah memanggilku Nayna!" Nay menambah keraguan di hatinya.


“Mungkin karena efek syaraf otaknya rusak jadi memanggil lengkap namamu.”


"Bodoh, bodoh, kenapa membuat cerita buruk seperti ini. Awas kau Bian" batin Sam.


Sam dan Bian memang sepakat untuk mengerjai Nay, luka tusukan di perut dan di pundak tidak lah terlalu dalam dan hanya membutuhkan beberapa jahitan saja.


“Ya, dia cuma bilang bahwa dari dulu dia sangat menyukaimu bahkan sampai saat ini.”


Nay yang tadinya ingin interupsi menjadi fokus kembali pada Bian setelah mendengar bahwa Sam menyukainya dari dulu.


“Apa kamu bilang?”


“Nay, aku teman Sam dari awal kuliah, dia sangat dekat dengan ku, sampai saat ini pun aku lebih memilih menjadi asistennya daripada bekerja di tempat lain dan tidak ada yang ditutupi oleh Sam kepadaku!” Bian bercerita dengan raut yang serius.

__ADS_1


“Sam selalu bercerita tentangmu, aku penasaran wanita seperti apa yang membuat nya tergila gila dan sekarang aku melihatnya.”


"amu memang sangat cantik Nay tapi bagiku biasa saja karena kecantikan mu memang terlihat seperti wanita penggoda, mungkin Sam saja yang sudah buta oleh mu," batin Bian.


Bian melanjutkan kembali ceritanya “Sam bercerita apapun tentangmu, dia juga tidak mengetahui sejak kapan dia jatuh cinta padamu , saat masih SMU dia pernah menyatakan cintanya padamu namun kamu menolak dan mempermalukan dirinya, dari sana lah Sam ingin sekali membencimu namun tidak bisa.”


“Apa kamu tidak pernah sedikitpun menyukainya?” tanya Bian.


“Apa sam tidak pernah cerita bahwa dia hanya ingin mempermainkan ku saja, dia ingin menjadikanku pacarnya setelah itu dia akan mencampakkan ku!” ucap Nay dengan berlinang air mata.


“Dia tidak pernah mempermainkan mu Nay, dari cerita yang kudengar dari Sam padaku, kau lah wanita satu satunya di hati Sam.”


“Bohong, aku mendengar dia bilang akan mengalahkan ku, dia bilang akan membuatku jatuh cinta padanya.”


“Kalau memang dia seperti itu, mengapa dia selalu bilang hanya kamu di hatinya,” ucap Bian.


“Mana mungkin, pacar nya Sam banyak!”


“Dengar Nay, aku memang tidak mengenalmu dengan baik, tapi Sam adalah sahabatku jadi aku yakin apa yang dia katakan! Dia benar benar mencintaimu, saat kau menolaknya dan terlebih juga mempermalukannya, Sam sempat depresi apa kau tidak tau bahwa dia sempat berobat selama satu bulan?”


“….” Nay terdiam, dia ingat sehabis peristiwa penolakannya, Sam tidak sekolah sekitar satu bulan dan Nay hanya mengira dia hanya malu dan marah saja.


“Diaa berobat karena depresi?” tanya Nay.


“Ya , orang tuanya membawanya sampai ke psikiater, untunglah dia masih bisa bertahan dan semenjak itu dia hanya melihatmu dari jauh. Sam mulai berganti ganti pacar tapi bukan karena dia seorang play boy namun mencoba untuk mencintai wanita lain tapi semua sia sia tidak ada wanita yang masuk ke dalam hatinya."


"kenapa dia menceritakan kepada Nay, bukan begini rencananya," ucap Sam dalam hati.


Nay mendengarkan cerita Bian, ada sesuatu yang hangat di hatinya setelah mengetahui Sam menyukainya tapi ada juga rasa bersalah saat tau Sam sempat depresi.


“Bisa kamu tinggalkan aku dan Sam?” ucap Nay pada Bian.


“Baiklah," Bian meninggalkan Nay di dalam ruangan.


"Apa Sam akan membunuhku telah bilang pada nay tentang depresinya? Bahkan keluarganya pun merahasiakan ini dari Nay," ucap Bian dalam hati sambil menggaruk kepalanya.


Nay mendekat ke sisi ranjang dan duduk di kursi, sambil menggenggam tangan Sam, Nay mulai bicara.


“Sam kumohon bangun lah, maafkan aku telah membuatmu depresi.


Apa kamu tau Sam, aku sangat iri padamu, kita selalu bersaing sejak kecil, aku sudah berusaha agar selalu menjadi yang terbaik tapi nyatanya hampir di setiap pelajaran nilai mu selalu lebih tinggi dariku.


Waktu itu aku mendengar mu bicara dengan temanmu, tentang kamu akan mengalahkan ku dengan cara membuatku menyukaimu.


Kenyataannya aku memang sudah kalah, bukan hanya dalam bidang akademis namun juga hatiku, aku tidak mau mengakui bahwa pada saat itu aku memang menyukaimu, karena cukup bagiku kalah darimu dalam bidang akademis, aku pikir kamu hanya ingin mempermainkan ku, setelah mendapatkan ku kamu akan meninggalkanku. Karena itu aku menolakmu dan bahkan mempermalukanmu,” Nay bercerita dengan berlinang air mata.


“Apa sekarang kamu masih menyukaiku?” ucap Sam memandang Nay.

__ADS_1


Bersambung………………..


__ADS_2