SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 35 Praktek Biologi


__ADS_3

Sam melacak ponsel Nay, akhirnya menemukan dimana dia berada, melihat sebuah mobil yang dikenalnya terparkir di tepi jalan dekat pantai.


Sam langsung menghampiri mobil tersebut, melihat kedalam melalui kaca mobil namun tidak ada orangnya, lalu matanya menangkap ponsel yang ada di kursi pengemudi.


Nay meninggalkan ponselnya, dimana kamu Nay?


Sam terus mencari ke sekeliling pantai berharap menemukan wanitanya itu, hingga akhirnya, sosok yang dia cari berada didepannya, duduk menyendiri menatap laut lepas membelakangi dirinya. Sam menghampirinya dan ikut duduk disampingnya.


“Apa sudah dapat ikannya?” tanya Sam.


“Sam, kamu disini? ikan apa?” Nay bertanya balik.


“Kalau kamu bisa melihatku, berarti aku disini!” Sam tersenyum, “Aku pikir kamu memasang perangkap ikan dan sedang menunggu ikannya masuk dalam jebakkanmu!”


Nay sedang tidak tertarik untuk bercanda. “Kenapa kesini?” tanya Nay.


“Istriku kabur, tentu aku harus mencarinya!”


“Istrimu yang mana yang kabur?”


“Memangnya, siapa lagi istriku? istriku cuma satu, Nayna Rastian,” jelas Sam.


“Tapi permasalahannya, aku tidak kabur!”


“Tidak pulang kerumah, tidak bisa di hubungi, apalagi namanya kalau bukan kabur?” tidak ada nada emosi dari ucapan yang terlontar dari mulut Sam.


“Aku hanya menenangkan diri saja! setelah tenang, aku akan pulang.”


Sam memegang bahu Nay dengan kedua tangannya dan menariknya agar berhadapan dengannya.


“Kita adalah suami istri, masalahmu adalah masalahku, rumahku adalah rumahmu, dimana suami berada disitu pula tempat seorang istri.”


Mereka saling berpandangan, disaksikan bintang dilangit dan diselimuti angin malam. Mata Nay mulai berembun, tanpa berkedippun cairan bening itu dengan mudah lolos dari mata cantiknya. Sam menariknya kedalam pelukannya, hanya bisa menepuk punggungnya tanpa suara, membiarkannya menagis, melepaskan semua yang ada di hatinya. Akhirnya setelah hampir satu jam, cairan bening itu mengering dan menimbulkan efek bengkak di area mata.


“Kamu bisa berbagi denganku Nay!” ucap Sam.


“Sam,” ucap Nay dengan suara serak.


“Ya.”


“Apa kamu percaya dengan anak pembawa sial?”


“Tidak, yang kupercaya anak adalah anugerah.”


“Tapi aku merasa, aku bukan anugerah, aku merasa seperti anak yang terlahir dari kesalahan!”


“Jangan seperti itu Nay, kamu itu wanita hebat!”


“Hebat dan terlihat hebat itu berbeda, dan aku hanya terlihat hebat padahal nihil, terus berusaha menjadi pemenang tapi aku selalu kalah denganmu!”


“Kamu tidak perlu terlihat hebat karena kamu memang hebat, kamu juga perempuan kuat dan kamu juga jangan lupa, tidak selamanya aku menang darimu, kamu pernah mengalahkanku saat kompetisi fisika dulu.”


“Terima kasih atas penghiburannya.”


“Aku tidak sedang menghibur!” Sam merebahkan tubuhnya ke atas pasir, menggunakan tangannya sebagai bantal. “Sini, kita lihat bintang bersama,” ajak Sam agar Nay ikut berbaring.

__ADS_1


“Kalau bukan menghibur? jadi apa namanya?” Nay ikut merebahkan dirinya dia atas pasir.


“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kamu hebat dan kuat, tapi aku juga mengatakan ini pada orang lain, tidak hanya kamu!”


Nay menoleh dan menatap Sam. “Sudah berapa banyak wanita yang kamu puji seperti ini?” ada nada kesal dari ucapannya.


“Ha ... ha …, kamu ini cemburuan juga ya! aku bukan hanya bilang hebat dan kuat kepada wanita, aku akan bilang setiap manusia itu hebat dan kuat! karena menurutku, setiap manusia itu adalah pemenang.”


“Kenapa bisa begitu?”


“Begini, saat proses reproduksi …. ” Tiba tiba Sam berhenti bicara karena di potong oleh Nay.


“Kenapa jadi reproduksi?”


“Jangan potong omonganku dulu, Aku belum selesai bicara!”


“Baiklah, lanjutkan!” ucap Nay.


“Lanjut nih yach! setelah berhubungan intim, sekitar 300 juta sel spe*ma akan berlomba memasuki vag*na. Akan tetapi, hanya ratusan sel spe*ma saja yang akan berhasil mencapai tuba falopi, dimana letak sel telur berada. Nah dari ratusan spe*ma tersebut, hanya akan ada satu spe*ma yang terkuat yang akan berhasil menjadi pemenang dan bertemu dengan sel telur. Setelah itu, proses pembuahan akan terjadi dan lahirlah anak manusia. Jadi setiap manusia yang terlahir di dunia ini adalah spe*rma yang berhasil mengalahkan ratusan juta spe*ma lainnya. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana perjuangan anak manusia bisa terlahir? setelah proses persaingan sengit melawan ratusan juta spe*ma lainnya, pada akhirnya, yang terkuatlah yang menjadi pemenangnya.”


“He ... he ..., masuk akal, masuk akal! kamu memang pandai Biologi!” ucap Nay dengan sedikit tertawa.


“Jadi Nay, setiap manusia yang terlahir itu adalah pemenang! bagaimana cara kita menyikapi sebuah masalah dan juga cara kita mengontrol ambisi kita, jangan sampai kita hancur karena terlalu berambisi.”


“Uhm.”


“Ayo, cepat bangun! kita pergi,” ucap Sam mulai bagun dari tidurnya.


“Mau kemana?” Nay enggan untuk bangun, masih berbaring di atas pasir.


“Praktek? praktek apa?” tanya Nay bingung.


“Praktek reproduksi!”


“Dasar mes*m! tidak mau, aku mau disini saja!”


“Baiklah, kalau kamu mau disini!” Sam menindih Nay dan mulai menciumnya.


“Sam, lepas! Ini tempat umum!” Nay protes setelah memilki kesempatan bicara.


“Kalau gitu, ayo kita pergi!” Sam menarik Nay dan beralih menuju mobilnya.


“Sam, mobilku disebelah sana!”


“Pakai mobilku saja!” Sam membuka pintu belakang dan mendorong Nay ke dalam.


Belum juga masuk, Nay sudah memprotes, “Sam, kenapa aku duduk di belakang? kamu bawa supir?”


“Tidak!” Sam terus mendorong masuk Nay dan dia ikut masuk ke bangku belakang juga.


“Siapa yang berkendara?” tanya Nay.


“Aku, tapi nanti!” Dia mulai mencium Nay lagi. “Kita praktek disini yah?”


Tidak ada jawaban dari Nay, bukan karena tidak mau memberi jawaban tapi karena Sam tidak memberi kesempatan dirinya bicara. Hingga akhirnya mereka menyelesaikan praktek biologi mereka.

__ADS_1


“Jam berapa sekarang?” tanya Nay.


Sam mengambil ponselnya. “Jam 2 pagi.”


Melihat banyak panggilan dari Zima yang tidak diangkat, dia lupa mengabarinya.


“Aku telepon Zima dulu!”


“Uhm!” Nay masih dalam dekapan Sam.


“Haloo!” ucap Zima di seberang telepon.


“Aku sudah menemukan Nay, kami tidak pulang malam ini!”


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Zima.


“Ya, dia baik-baik saja!”


“Kalian dimana?”


“Di pantai.”


“Sedang apa disana?”


“Praktek biologi!”


“Apa?”


“Bukan apa-apa! sudah yah, kami mau pulang ke apartemen dulu.”


“Oke,” jawab Zima dan memutuskan sambungan teleponnya.


“Kenapa harus bilang praktek biologi?” Nay kesal dengan ucapan sembarangan Sam.


“Jadi aku harus bilang bahwa kita sedang praktek reproduksi?”


“Sembarangan!” kesal Nay.


“Sam, sebenarnya ada yang ingin kucari tau!”


“Katakanlah.”


“Sore tadi, aku bertengkar dengan tante Sinta, dia bilang, ‘seharusnya kamu yang mati bukan kakakku!’ apakah aku penyebab kematian ayahku?”


“Aku belum bisa berkata apapun Nay! lebih baik kita mencari tau terlebih dahulu, kenapa tante Sinta bicara seperti itu.”


Sam belum berani bilang masalah kakek Adam mengadopsi seorang bayi perempuan, sebelum semuanya jelas dia akan menyembunyikan dari Nay.


Bersambung......


Jangan lupa untuk like n love nya yach ..🙏


selagi menunggu up dari samudra nayna boleh mampir di novel temanku..karya Julia Fajar dalam novel, terikat cinta lain.


__ADS_1


__ADS_2