
"Ibu tidak bertanya pada ayah?" tanya Nay.
"Tunggu amarahnya reda, baru Ibu akan bertanya. Jika sekarang bertanya tidak mungkin dijawab." jawab Retno.
"Semoga tidak terjadi apa-apa! Apa Ibu tidak mendengar apapun?"
"Tidak, tapi Ibu mendengar nama Maretta disebut!"
"Maretta, mantan pacar Kak Zima?"
"Iya."
Nay pamit meninggalkan mertuanya, mengambil ponselnya dan menelpon Nima . "Hallo, Nima," ucap Nay.
"Nay, ada apa?" jawab Nima.
"Apa kamu ketemu Kak Zima hari ini?"
"Tadi siang aku antar makanan untuknya, kenapa?"
"Apa ada yang terjadi dengan kalian?"
"Tidak, kami baik-baik saja. Ada apa?"
"Bagaimana, ya?" Nay bingung harus cerita atau tidak pada Nima.
"Katakanlah!"
"Kak Zima pergi dari rumah setelah bertengkar dengan Ayah, aku kira kamu tau penyebabnya. Sekarang Sam sedang mencarinya, takut terjadi sesuatu."
"Biar aku coba hubungi Kak Zima."
__ADS_1
"Baiklah."
Sam melajukan mobilnya, dia tidak bisa melacaknya karena Zima meninggalkan ponselnya. Terus mencari keliling kota, hingga teringat tempat yang sering mereka kunjungi sewaktu kecil.
Sam tiba di taman bermain, menuju tempat bom-bom car. Benar saja, Zima ada disana. Sam menghampiri Zima dan berdiri di sampingnya. Zima menoleh saat melihat Sam berada di sampingnya. "Kenapa bisa tau aku di sini?"
"Kemana lagi kalau bukan di sini? Kau bertengkar dengan Ayah dan ini adalah tempat kenangan kita dengan Ayah."
"Pulanglah!" titah Zima.
"Ya, aku akan pulang, tapi denganmu!"
"Aku tidak akan pulang?"
"Kenapa?" tanya Sam.
"Tidak, apa! Hanya, tidak ingin pulang!"
Zima menatap Sam, dia berpikir apa kah harus dia cerita pada Sam tentang apa yang sudah Ayah mereka lakukan. Mereka selalu menjadikan ayahnya sebagai panutan, ayah yang sempurna dan tidak memiliki cacat. Ayah yang selalu mencintai istri dan anak-anaknya. Zima membuka minuman kaleng berakohol dan menenggaknya, tapi Sam menghentikannya dan mengambilnya. "Jangan minum ini, tidak baik untuk kesehatan."
"Aku masih punya yang lainnya." Zima mengambil satu lagi minuman kaleng yang ada di sampingnya, membuka dan meminumnya. Kali ini Sam tidak menghentikannya, terlihat jelas dia memiliki beban.
"Aku sudah bukan anak kecil lagi. Sudah bukan kewajibanmu untuk melindungi ku, Kamu bisa cerita padaku dan juga, aku berhak tau apa yang terjadi."
Zima menenggak kembali minumannya hingga tandas, dia melempar bekas minuman kaleng tersebut. "Ayahlah penyebab Maretta pergi!"
"Maretta pacarmu dulu?"
"Emm. Dia yang meminta Maretta menjauh sejauh-jauhnya."
"Kenapa? Apa alasan Ayah? Bukannya dia tidak pernah menilai orang lain dari statusnya. Aku tau Maretta gadis penerima beasiswa, bukan karena itu kan dia menolaknya?"
__ADS_1
"Bukan karena itu, tapi ... Maretta adalah anak dari selingkuhan Ayah."
Sam membulatkan matanya. "Apa! Kau tidak bergurau, bukan?" Sam tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Awalnya aku juga tidak percaya, karena itu aku langsung menanyakan nya dan dia mengakui semuanya."
"Bagaimana kamu tau tentang ini?"
"Saat Maretta meninggalkanku, aku sangat yakin, dia tidak meninggalkanku karena pria lain. Jadi aku meminta seorang detektif untuk mencarinya. Namun, pencarian tidak menemukan titik temu, aku menyerah dan sudah tidak memikirkan nya lagi. Tiba-tiba detektif yang bekerja denganku datang sore ini dan memberikan hasil temuannya."
"Apa Ibu tau?"
"Ibu tau, Ayah pernah berselingkuh, tapi tidak tau bahwa wanita yang menjadi selingkuhan Ayah adalah Ibunya Maretta. Perselingkuhan itu sudah lama terjadi, Ayah dan Ibu pernah bertengkar hebat dan penyebabnya adalah perselingkuhan Ayah."
"Tunggu! Jangan bilang kalau Maretta adalah anak Ayah dari beda Ibu?" cecar Sam.
"Bukan! Ayah bilang dia di jebak. Hingga menghabiskan malam dengan sekretarisnya. Wanita itu hamil dan meminta pertanggungjawaban Ayah, tapi Ayah menolak sebelum melakukan tes DNA, setelah itu lahirlah Maretta, Ayah sudah melakukan tes dan hasilnya mereka bukan Ayah dan Anak. Bertahun-tahun berlalu, saat aku membawa Maretta ke rumah, Ayah langsung menyadari siapa itu Maretta karena wajah Maretta mirip dengan ibunya. Setelah itu, Ibu Maretta memeras Ayah, akan bilang pada Ibu bahwa dia selingkuhan Ayah sekaligus Ibu dari Maretta." Zima menghentikan ceritanya.
"Lalu?" tanya Sam.
"Ayah ingin menjaga keharmonisan keluarga, dia memberikan uang pada Ibu Maretta, tapi wanita itu rakus, dia terus meminta lebih. Ibu Maretta juga pernah bilang padaku untuk segera menikahi anaknya, saat itu masih kuliah. Aku langsung bilang pada Ayah untuk melamar Maretta, Ayah hanya menganggukkan kepalanya, aku pikir dia setuju, sampai akhirnya Maretta pergi tanpa jejak."
"Apa yang terjadi? Apa Ayah memberi uang untuk mereka pergi?"
"Kamu salah, Ayah sudah tidak ingin memberi uang lagi, Ibu Maretta adalah pecinta judi, berapapun akan habis untuk judi . Ayah mencari informasi tentangnya dan menyuruh orang untuk menjebak Ibu Maretta, hingga menimbulkan banyak hutang. Akhirnya para rentenir mencarinya dan terjadi sebuah insiden kematian Ibu Maretta. Lalu Ayah meminta Maretta menjauh dariku." Zima menundukkan kepalanya. "Yang membuatku marah adalah Ayah membuang Maretta keluar negeri, seorang gadis yatim piatu yang tidak tau apa-apa harus menjadi korban kesalahan orang tua. Apa salah kami, Sam? Bukan kami yang bersalah! Kenapa harus mengorbankan cinta kami?" Zima menatap Sam putus asa.
Bersambung...
Jangan lupa like n love n voteπππ
Di tunggu komentarnya juga ya π
__ADS_1
Salam Age Nairie π₯°π₯°π₯°