Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 100


__ADS_3

"Kalian makan malam gak ngajak aku." Lova protes saat Zivana dan Samudra baru tiba di rumah.


"Yah Jomblo ngenes." Ledek Zivana sambil memeluk Lova dari samping.


"Ish apa sih??" Sahut Lova mencebik.


"Besok kita pergi bersama, Baby love. Mau?" Ajak Samudra.


"Teraktir aku belanja."


"Boleh." Jawab Samudra enteng.


"Aku juga Kak?" Tanya Zivana dengan mata penuh harap.


"Ada syaratnya kalau untuk kamu, Bee."


Zivana berdecak, ia tau syarat yang di maksud, "Ish.. Lupakan saja. Kalo syarat yang itu, harus kartu tanpa limit." Balas Zivana dan Samudra tertawa.


"Kalo wanita kebanyakan mata duitan, kalau kamu mata kartuan." Ledek Lova.


"Salah, di dalam kartu kan duitnya banyak." Zivana tertawa.


Lova mentoyor kepala Zivana. "Emang pinter deh anaknya Mami Yuri."


Seru sekali sih kalian." Ocean berjalan menuju ruang televisi menghampiri putra, putrinya itu.


"Iya Dad, sini gabung Dad." Ajak Lova.


Cean duduk dan tak lama Nadlyn pun ikut duduk di sisinya.


"Dad, kami akan ke Maldives minggu depan." Kata Samudra.


"Bulan madukah?" Tanya Cean sekaligus menggoda putranya itu.


"Bukan Dad, ini perjalanan bisnis." Sahut Zivana dengan cepat.


"Tapi kalian bisa sekalian honeymoon, Maldives sangat indah, tidak cocok jika tidak menggunakan waktu sebaik mungkin disana."


"Ya, siapa tau pulang pulang bawa Maladewa." Kata Lova dengan tersenyum.


"Maladewa?" Tanya Nadlyn.


Lova tertawa, "Bayi Kak Sam dan Ziv Mom, di buat di Maldives, sekalian beri nama Maladewa. Kepulauan Maladewa kan disebut juga dengan Maldives."


Zivana menyenggol lengan Lova, "Apa sih Lov. Kalau ngomong suka kemana mana." Zivana menahan malunya.


Samudra hanya tersenyum, ia memang merencanakan malam pertama di Maldives bersama Zivana, bukan hanya malam pertama, bahkan Samudra akan mengatakan cinta dan melamar Zivana meski mereka sudah menikah. Samudra hanya ingin mengutarakan hatinya dengan cara yang paling romantis yang tentunya akan Zivana sukai dan akan berkesan untuk mereka.


Zivana mulai mempacking pakaiannya dan juga pakaian Samudra ke dalam koper.


"Bee, jangan bawa pakaian terlalu banyak." Kata Samudra sambil memeluk Zivana dari belakang.


"Ish Kakak apaan sih." Zivana mencoba melepas pelukan Samudra.


"Pelit banget sih."


"Kan Kakak yang ngajarin."

__ADS_1


Samudra membalikan tubuh Zivana untuk menghadapnya lalu mencubit gemas hidung Zivana. "Gemesin banget sih istriku ini."


"Kakak, jangan sentuh wajahku, aku sudah cuci muka."


"Memang kenapa?"


"Wajah itu tidak boleh terlalu sering disentuh oleh tangan, tidak higienis, nanti bisa bisa jerawatan."


Samudra tertawa. "Kata siapa?"


"Kata Mami dan juga dokter kecantikan di klinik kecantikan Mami."


Samudra merapihkan anak rambut Zivana kebelakang telinganya. "Kamu begitu memperhatikan kecantikanmu, apa kamu mau juga memiliki salon dan klinik kecantikan seperti Mami Yuri? Jika iya, aku akan memberikannya untukmu."


Zivana menggelengkan kepalanya, "Tidak mau."


"Kenapa?"


"Karena nanti, salon dan klinik kecantikan milik Mami juga akan menjadi milikku."


Samudra mengangguk mengerti, ia juga mengetahui jika Zivana selain ke salon untuk melakukan perawatan, terkadang Zivana juga membantu Yuri untuk memeriksa keuangan dan manajemen salonnya itu.


"Lalu kamu ingin apa dariku? Aku belum memberikanmu kado pernikahan." Kata Samudra dengan lembut lalu mengecup sekilas bibir Zivana.


"Kenapa Kakak tidak memberikanku kartu saja?"


"Jika kartu, itu akan membuatmu jadi malas dan tidak menghasilkan apapun. Jika sebuah usaha, itu jelas akan membantumu belajar mengelola dan bertanggung jawab dengan bisnismu." Jawab Samudra dengan bijak. "Daaaan yang pasti juga begitu menghasilkan, jadi aku juga akan dapat keuntungannya." Akhirnya apa kata Samudra membuat Zivana mencebik.


"Ish ngasih tapi tetap mengharapkan imbalan."


Lagi lagi Samudra tergelak mendengar semua kata kata Zivana. Samudra benar benar senang sekali menggoda Zivana, membuatnya kesal dan hal itu terlihat menggemaskan di mata Samudra.


"Tidak usah bawa baju banyak banyak, nanti aku akan membelanjakanmu disana."


"Sepuasku?"


Samudra mengerdikan bahunya. "Tergantung."


"Tergantung apanya?"


"Tergantung pelayananmu nanti diatas ranjang, apa bisa memuaskanku." Samudra menaik turunkan kedua halisnya.


"Ish mesum." Zivana mendorong dada bidang Samudra.


"Ayo temani aku tidur." Ajak Samudra.


"Packingnya?"


"Nanti aja terusinnya."


"Nanti aja juga tetap saja kerjaanku." Zivana memberengut kesal.


"Aku kan sudah bilang bawa baju seperlunya aja, nanti aku belikan baju disana."


"Jangan bohong!"


"Tidak, kali ini aku janji. Ayo sekarang tidur." Samudra mengangkat tubuh Zivana ala bridal.

__ADS_1


"Kakak." Zivana tertawa sambil menengadahkan kepalanya dan memperlihatkan leher jenjangnya.


'Kamu seksi sekali, rasanya aku tidak tahan jika harus menunggu ke Maldives.' Batin Samudra.


Zivana tidur membelakangi Samudra, dan Samudra memeluknya dari belakang, ini adalah posisi yang paling Samudra sukai dan juga Zivana karena merasa nyaman.


"Kak.."


"Hem..."


"Apa kita akan terus bersama seperti ini?" Tanya Zivana.


"Tentu saja."


"Kakak tidak akan menduakan aku?"


"Never ever."


"Kakak mencintaiku?"


Samudra diam, Samudra ingin mengatakan cinta di saat yang tepat, yakni saat di Maldives nanti dengan memberi kejutan pada Zivana.


Sementara Zivana menganggap lain, Samudra yang tidak kunjung menjawabnya membuat Zivana merasa belum dicintai sepenuhnya oleh Samudra, meskipun tidak Zivana pungkiri, Zivana merasakan ketulusan dicintai oleh Samudra, namun bagi Zivana, rasa cinta itu belum 100% jika Samudra belum mengatakannya.


"Tidurlah, Sayang." Kata Samudra agar Zivana tidak berpikir macam macam.


Samudra sengaja memanggil Zivana dengan sebutan Sayang agar Zivana tau jika panggilan Sayang itu mewakili dari perasaan Samudra yang belum terungkapkan.


Zivana hanya terdiam, ia tidak memaksa Samudra untuk menjawab peryanyaannya.


"Ziv..."


"Hem..."


"Saat itu, apa yang ada dalam pikiranmu saat aku menjadi pria pengganti dalam pernikahanmu?" Tanya Samudra.


Lama Zivana terdiam, akhirnya Zivana pun menjawab. "Kak, apa Kakak percaya jika di detik detik pernikahanku saat itu, aku berharap pernikahanku dengan Dia batal tanpa membuat malu Papi?"


"Kamu berharap seperti itu?" Bukannya menjawab, tetapi Samudra balik bertanya.


Zivana mengangguk, "Aku sebenarnya bahagia saat ada seorang wanita yang mengaku di hamili oleh Dia, karena dengan cara zeperti itu, pernikahanku bisa batal karena kesalahan Dia."


"Tapi saat itu kamu menangis." Kata Samudra.


"Ya, saat itu aku menangis, tapi yang aku tangisi adalah kehormatan Papi yang akan di pertaruhkan, kesehatan Papi yang semakin drop karena ulahku." Lirih Zivana.


Samudra mencium puncak kepala Zivana yang berada di bawah dagunya.


"Dan saat Kakak mengajukan diri untuk menikahiku karena menyelamatkan kehormatan Papi, aku berjanji dalam hidupku, tidak ingin egois lagi dan apapun akan aku lakukan agar Papi bisa bahagia."


"Apa karena itu kamu begitu menurut padaku?" Tanya Samudra.


Zivana mengangguk, "Tidak pernah aku melihat orang lain yang begitu perhatian pada Papi, entah mengapa aku merasa aku beruntung mendapatkan pria yang begitu baik padaku."


Samudra mengeratkan pelukannya pada Zivana. "Kalau begitu jangan pernah berpikir untuk lari dariku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Next, Besok Up tentang Pergi ke Maldives dan aku kasih bonus Visual Samudra dan Zivana besok ya. 😉


__ADS_2