Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 53


__ADS_3

Robi masuk kembali ke dalam kamar perawataan samudra setelah minum kopi di kafetaria rumah sakit.


Ia melihat keberadaan Dirga sedang mengobrol bersama Cean.


Dirga pun melihat ke arah Robi dan langsung mengalihkan pandangannya, membuat Robi merasa bersalah.


"Cean, bisa temani aku minum kopi di kafetaria bawah?" Tanya Dirga dan hal itu terlihat serius di mata Cean.


Cean dan Dirga berdiri dan segera menuju kafetari di lantai dasar rumah sakit.


Dirga memesan dua cangkir kopi dan mereka duduk di salah satu meja yang kosong.


"Apa yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Cean menyelidik.


Dirga mengusap pelipisnya, "Kau tau, Cean? Aku sudah tau siapa Ayah kandungku." Ucapnya lirih.


"Benarkah? Bukankah itu bagus? Tandanya kau bisa membatalkan pertunanganmu dengan Yuri."


Dirga sama sekali tidak memikirkan pembatalan pertunangan itu, apa lagi setelah tadi Dirga berani mencium Yuri.


"Kenapa diam?" Tanya Cean. "Jangan bilang jika sekarang kau mulai menyukai tunanganmu itu."


Dirga menghela nafasnya sejenak. "Cean, kita sedang berbicara tentang Ayahku, bukan sedang membahas Yuri."


"Ya sudah, lalu siapa Ayah kandungmu? Aku penasaran sekali dengan pria yang bisa menaklukan ibumu."


Dirga menatap wajah Cean, "Kau akan jantungan jika tau siapa Ayah kandungku."


Cean mengangkat satu halisnya, "Siapa?"


"Ayahku adalah orang yang sama dengan Papanya Nadlyn."


Cean mengernyitkah dahinya, "Apa maksudmu. Ga? Uncle Robi...."


Dirga mengangguk, "Dia ayahku, Cean. Aku dan Nadlyn adalah kakak beradik dari satu ayah yang sama."


"Whatt??" Pekik Cean.. Lalu Cean tertawa, "Thanks God..." Ucapnya syukur.


"Kenapa kau senang sekali?" Tanya Dirga kesal.


Cean masih tertawa, "Itu berarti, kau bukan sainganku. Mana ada Kakak yang akan menikahin adiknya."


"Shiittt..." Umpat Dirga. "Kau bahagia di atas penderitaanku."


"Heii, kau tak perlu sedramatis ini." Kata Cean. "Bukankah kau harus bahagia karena menemukan ayah kandungmu dan kau bisa memintanya untuk merayu ibumu kembali agar membatalkan pertunanganmu."


"Tidak sesimple itu, Cean."

__ADS_1


"Apanya?" Tanya Cean balik. "Uncle Robi adalah pria yang baik. Kau pasti tau itu, kan?"


Dirga hanya diam, ia memang sangat mengenal Robi, bahkan Dirga pernah membayangkan jika memiliki ayah sebaik Robi.


Cean melihat Dirga yang hanya diam saja, Cean sangat tau jika Dirga slalu berharap untuk menemukan ayah kandungnya. Dan Cean pun tau yang tidak bisa Dirga terima adalah jika Nadlyn ternyata adiknya sendiri.


"Ga.." Panggil Cean dengan mulai serius. "Bukankah itu hal yang kau tunggu sejak dulu, yakni bertemu dengan ayah kandungmu?"


"Tapi kenapa harus Papa nya Nadlyn, Cean?" Tanya Dirga.


"Takdir, Ga. Itu takdir. Selama ini kau bukan menjaga wanita lain, tetapi kau menjaga adikmu sendiri dan Samudra ternyata keponakanmu." Cean mencoba menguatkan Dirga.


"Bukankah Papa Robi tidak tau jika kau ada? Dia tidak bersalah, Ga. Papa Robi tidak tau hal itu dan kau tidak bisa menyalahkannya."


Dirga menyesap kopinya kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya. "Aku harus bilang apa pada Nadlyn?" Tanya Dirga.


"Bersikaplah seperti biasanya, Ga. Urusan Nadlyn biar menjadi urusan Papa Robi. Dan aku yakin Papa Robi sangat ingin kau bisa menerimanya." Jawab Cean.


**


Sudah satu minggu Samudra dirawat di rumah sakit, dan selama itu juga baik Cean dan Nadlyn tidak meninggalkan Samudra.


Cean pun bersikap layaknya seorang Daddy untuk Samudra, Cean juga mulai memperbaiki dirinya dalam bersikap untuk menghadapi Nadlyn dan Nadlyn sangat tau hal itu.


Hari ini Samudra di ijinkan untuk pulang karena tidak ada luka serius lainnya. Cean juga sudah memeriksakan kesehatannya dan dinyatakan smua sarafnya berfungsi denfan normal kembali.


"Aku ingin pulang ke rumah Oma." Kata Samudra dalam gendongan Cean.


"Tapi Daddy tidak menginap." balas Samudra.


Nadlyn melihat interaksi itu, membuat Nadlyn merasa bersalah karena harus memisahkan Samudra dengan Daddy nya.


"Jika Sam mau, Sam boleh di rumah Oma. Biar Momny pulang ke rumah Kakek." Sahut Nadlyn sambil membereskan pakaian kotor milik Samudra.


Samudra menatap punggung Nadlyn yang membelakanginya. "Tidak, Mommy. Sam akan ikut Mommy pulang."


Hati Cean merasa tercubit, ia berpikir harus segera meresmikan kembali pernikahannya dengan Nadlyn agar mereka bisa tinggal bersama dan tidak berpisah kembali.


Cean mendudukan Samudra kembali di brankar. "Daddy bantu Mommy dulu membereskan pakaian ya, Sam tunggu dulu."


Cean mendekati Nadlyn dan mengambil pakaian yang akan ia lipat. "Aku masih menunggu jawabanmu." Kata Cean.


"Aku belum memikirkannya."


"Jangan terlalu lama, kasihan Samudra jika kita tinggal terpisah."


"Sebelum Samudra tau jika kamu adalah Daddy nya, kami sudah terbiasa hidup berdua, Cean."

__ADS_1


Cean menghela nafas. "Aku ingin memberikan keluarga yang sempurna untuk Samudra. Daddy dan Mommy yang tinggal bersama dengan Samudra." Kata Cean dengan sungguh sungguh.


Nadlyn menghentikan aktifitasnya kemudian menghadap Cean. "Apa kamu melakukan ini hanya demi Samudra?"


Cean menatap dalam mata Nadlyn. Lama Cean menatap hingga Cean mengatakan sesuatu. "I love U."


"Bohong." Jawab Nadlyn kemudian memalingkan wajahnya.


Cean mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya, ia sempat meminta sang Mommy untuk membelikan cincin yang akan ia pakai untuk melamar Nadlyn.


Cean meraih tangan Nadlyn tanpa melepas tatapannya. "Katakan iya, Nad. Bukan demi Samudra tetapi karena kamu juga mencintaiku." Lirih Cean.


"Kamu tidak mencintaiku, Cean."


"Aku mencintaimu, Nad. Aku mencintaimu sejak dulu, hanya saja aku selalu menepisnya, dan kini aku sadar jika aku begitu mencintaimu. Aku berharap ini belum terlambat untukku."


Nadlyn masih saja diam.


"Mom..." Panggil Samudra dan Nadlyn menoleh ke arahnya.


Wajah Samudra terlihat penuh harap. "Say yes, Mom."


Nadlyn kembali menatap wajah Cean. "Aku tidak mau di lamar di sini.


Cean mengernyitkan dahinya.


"Aku wanita normal, Cean. Aku juga ingin di lamar di acara pesta pertunangan dan menikah dengan sebuah pesta." Jawab Nadlyn.


"Baiklah, kita langsung menikah saja. Aku akan meminta jasa weding Aunty Ay untuk pernikahan kita."


"Tunangan dulu, Cean. Aku ingin dilamar olehmu dengan romantis."


"Kenapa wanita itu selalu ribet." Gumam Cean yang terdengar oleh Nadlyn.


"Ya sudah kalau tidak mau." Nadlyn hendak melangkah namun tangannya di tarik oleh Cean.


"Terima dulu, tiga hari lagi kita akan bertunangan, dan seminggu lagi kita akan menikah." Ucap Cean.


"Cepat sekali, aku tidak mau secepat itu, aku juga ingin memilih gaun dan kamu harus nemenin aku." Kata Nadlyn.


"Oh My God.. Nadlyn jika ada yang simple mengapa harus mencari yang sulit?"


"Karena aku ingin menikmati semua prosesnya. Aku juga ingin kamu kembali ke ARDA KARYA, karena aku tidak mau menikah dengan lelaki pengangguran."


"Apa, pengangguran?" Tanya Cean tak percaya.


"Kamu pengangguran, selama ini slalu saja ada di dekat Samudra tanpa bekerja."

__ADS_1


Cean hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya sambil mengusap pelipisnya, kini Nadlyn sudah kembali seperti dulu. Nadlyn yang sangat berisik dan Cean menyukai itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2