
Nadlyn berjalan menuju kamar perawatan Samudra yang kini bertemoatbdi ruang eksekutif khusus keluarga pemilik ruamh sakit milik Pras.
"Jadi Uncle sudah bisa berjalan?" Tanya Samudra.
Ocean mengangguk. "Aku bisa berjalan kembali dan semua ini karena mu." Jawab Cean dengan tatapan lembut pada Samudra yang bersandar di brankar.
Nadlyn masuk ke dalam kamar perawatan Samudra dan melihat interaksi antara Cean dan Samudra. Sementara itu Nanda berdiri dan berpamitan untuk pulang dengan alasan ingin istirahat setelah perjalanan jauh dari China. Padahal Nanda hanya beralasan saja karena ingin memberikan ruang lebih untuk Cean dan Nadlyn berbicara setelah Cean dapat berjalan kembali.
Nadlyn mendekat ke arah brankar Samudra setelah Nanda keluar dari kamar itu.
"Mommy..." Samudra tersenyum saat melihat Nadlyn berjalan ke arahnya.
Nadlyn duduk di sisi brankar lain karena satu sisinya sudah diduduki oleh Cean.
"Mommy habis menangis?" Tanya Samudra yang melihat wajah Nadlyn terlihat sendu.
"Mommy takut, karena itu Momny menangis." Jawab Nadlyn.
"Maafkan Sam, Mom. Sam janji tidak akan membuat Mommy khawatir lagi." Kata Samudra.
Nadlyn hanya tersenyum.
"Tidurlah, biar aku yang menjaga Samudra." Kata Cean dengan lembut pada Nadlyn. "Dari semalam kamu gak tidur."
"Hemm.." Jawab Nadlyn singkat.
Nadlyn beranjak dari sisi brankar Samudra menuju tempat tidur khusus untuk penunggu Passien, Nadlyn memiringkan tubuhnya menghadap ke arah tembok.
"Uncle, aku juga mengantuk." Ucap Samudra.
"Tidurlah, aku akan memjagamu disini." Balas Cean.
Dan tak lama kemudian, Samudra kembali tertidur. Cean melihat ke arah Nadlyn kemudian mendekatinya. Tanpa ijin terlebih dahulu, Cean ikut tidur dinsebelah Nadlyn yang membelakanginya dan memeluknya dari belakang.
Nadlyn yang belum sepenuhnya tidur, terkesiap saat sebuah tangan kekar melingkar diperutnya.
"Cean, apa apaan sih." Pekik Nadlyn dengan pelan.
"Ssstt, Diam Sayang. Nanti Samudra bangun."
Nadlyn membeku mendengar Cean yang memanggilnya Sayang.
"Tidur, Sayang.. Aku lelah sekali. Biarkan seperti ini kali ini saja." Gumam Cean yang memang sudah mengantuk.
Nadlyn pun membiarkannya. Dirinya juga terbuai dengan rasa nyaman yang Cean berikan.
**
__ADS_1
Robi nengantar Hellena terlebih dahulu untuk pulang ke runah Hellena. Robi belum bisa mengatakan semua ini pada Nadlyn mengingat waktunya yang tidak pas karena kondisi Samudra yang tengah berada di rumah sakit.
"Maaf aku belum bisa membawamu bertemu dengan putriku." Kata Robi dengan lembut.
Hellena mengangguk. "Iya, Mas. Aku mengerti."
Robi menghela nafas, ia mengingat kejadian panas semalam bersama Hellena.
"Ell..." Panggil Robi.
Hellena hanya diam menanti Robi mengatakan sesuatu.
"Katakan semuanya pada Dirga, kamu harus mengatakan semuanya pada Dirga." Ucap Robi.
"Kamu tidak akan menemaniku, Mas?"
Robi menggelengkan kepalanya. "Masalah ini kamu yang ciptakan, aku sama sekali tidak tau jika kamu menikah dengan mendiang suamimu dalam kondisi megandung anakku. Aku tidak ingin Dirga menilai ku jelek. Kamu harus tanggung jawab Ell."
"Akan aku coba, Mas." Jawab Hellena.
Robi menggenggam tangan Hellena dan mengecupnya. "Aku akan menikahimu, pastikan dirimu tidak akan lari lagi."
"Kamu melamarku tanpa cincin dan Bunga, Mas."
"Aku sudah memiliki cucu, tidak pantas untuk berbuat romantis lagi."
"Aku masih merindukanmu, Ell." Kata Robi membuat hati hellena berbunga bunga.
"Apa perlu nanti malam kita ke hotel, Mas?" Goda Hellena.
"Perlu, tapi aku tidak mau.. Aku inginnya kamu ikut ke rumahku dengan status sebagai istriku. Aku akan memastikan mengurus semuanya dengan cepat." Ucap Robi kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Hellena dan mencium bibir Hellena dengan lembut.
Setelah puas mencium Hellena Robi membiarkan Hellena turun dari mobilnya. Namun Robi melihat Dirga yang baru saja akan keluar dari rumah. Tentu saja hal itu membuat Robi pun ikut turun dari mobilnya.
"Uncle Robi.." Panggil Dirga merasa tak percaya ketika melihat Robi datang bersama sang ibu yang juga turun dari mobil Robi.
Robi menatap lekat wajah putranya, dari enam tahun yang lalu ia melihat Dirga entah mengapa Robi tidak bisa mengenali putranya sendiri. Meskipun dalam hati Robi begitu menginginkan pria sebaik Dirga menjadi menantunya tetapi kini Dirga bukan lagi calon menantu idamannya, melainkan Dirga ada lah putranya sendiri.
Dirga melihat ke arah Hellena yang terlihat kikuk, "Mami koq bisa bersama Uncle Robi?" Tabya Dirga namun Hellena terlihat bingung ingin menjawab apa.
Mata Dirga tidak sengaja melihat ke arah ceruk leher Hellena dan juga bagian dada Hellena yang terdapat tanda merah seperti habis bercinta. Dirga bukanlah anak kemarin sore yang tidak tau apa arti tanda itu meskipun Dirga belum pernah sama sekali melakukannya.
Tangan Dirga mengepal dengan erat, "Mami dari mana? Kenapa semalam tidak pulang?" Tanya Dirga dengan tak bersahabat.
"Ga, ayo masuk dulu. Mami ingin membicarakan sesuatu." Ucap Hellena.
"Dirga tanya Mami dari mana dan mengapa semalam tidak pulang?" Emosi Dirga terlihat naik, Dirga yang biasanya selalu sabar tiba tiba saja emosi.
__ADS_1
"Dirga..." Panggil Robi mencoba menengahi.
Dirga menatap nyalang pada Robi. "Apa Uncle bersama Mami semalaman?" Tanya Dirga tak terima.
Saat ini Dirga sangat marah, emosinya meledak begitu saja. Dirinya tidak bisa berjodoh dengan Nadlyn, tapi ia malah melihat sang ibu pulang bersama Ayah nya Nadlyn, terlebih mereka menghabiskan malam bersama, terlihat dari beberapa tanda merah yang Dirga lihat.
"Dirga, biarkan Mami mu menjelaskan semuanya padamu. Ayo kita masuk." Ajak Robi.
Bughh.. Dengan gelap mata, Dirga memukul Robi hingga membuat Robi tersungkur.
"Mas Robii..." Pekik Hellena lalu menahan lengan Dirga yang hendak memukul Robi kembali.
"Jangan, Ga.."
"Lepas, Mi..." Sentak Dirga.
"Aku tidak menyangka kalian tega berbuat itu padaku, tidak tau kah kalian jika aku begitu mencintai Nadlyn? Aku yakin Mami melarangku mendekati Nadlyn karna Mami ada affair dengan Papanya Nadlyn kan?" Dirga berteriak dengan frustasi.
Dirga melampiaskan semua isi hatinya, selama ini Dirga menahan untuk meluapkan isi hatinya, namun kini, emosinya tidak dapat ia bendung lagi. Dirga serasa di permainkan, tidak boleh memperjuangkan Nadlyn namun sang Ibu memiliki affair bersama ayahnya Nadlyn. Begitulah dalam pikirannya.
"Tidak seperti itu, Ga. Meskipun Mami mengijinkanmu memperjuangkan Nadlyn, tetapi kamu tetap tidak bisa menikahi Nadlyn." Jawab Hellena.
"Kenapa Mi? Kenapa?? Kenapa aku tidak boleh bersama dengan Nadlyn?"
"Karna kau adalah putraku." Sahut Robi sambil berusaha untuk berdiri.
Dirga tersentak mendengar hal itu.
"Kau adalah putraku, Dirga. Dan Nadkyn adalah adikmu. Kalian tidsk bisa bersama." Kata Robi lagi mencoba menjelaskan.
"Tidak!! Itu bohong!!."
"Maafkan Mami, Ga.. Selama ini Mami menutup akses Papa kandungmu. Maafkan Mami, ini semua kesalahan Mami." Hellena menangis di depan Dirga.
"Dirga... Maafkan Papa yang tidak mengetahui keberadaanmu. Sungguh Papa baru tau jika Papa memiliki anak yang lain selain Nadlyn." Kata Robi dengan sungguh sungguh.
"Salahkan Mami saja, Ga. Semua adalah ide Mami. Mami tidak memberitahu Papamu tentangmu dan Mami juga menutup akses agar kamu tidak mencari tau siapa Papa kandungmu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari senin, aku minta dukungan berupa vote nya dong.
Kalo Vote nya naik banyak, aku janji hari ini crazy Up ya.
Mohon dukungannya karna novelku sedang mengikuti lomba terjerat benang merah dengan tema menikah karena anak.
Like, Koment, hadiah dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏
__ADS_1