Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 112


__ADS_3

"Ziv, ayo kita duluan." Kata Lova mencoba mengalihkan kegugupannya.


"Sebentar aku habiskan dulu minumku." Kata Zivana lalu menyesap juice jeruk di gelasnya itu.


"Koq buru buru sih?" Kesal Kenzo.


"Ya, kami mau belanja." Jawab Zivana.


"Lov, bisakah kita bicara berdua? Sebentar saja." Pinta Kevin pada Lova.


"Maaf Kak Kev, lain kali saja." Lova berdiri dari duduknya dan Kevin menarik lengan Lova dan ikut berdiri juga.


"Sekali ini saja, Lov. Please." Pinta Kevin memelas.


Lova menatap mata Kevin yang penuh permohonan, sungguh Lova pun ingin masih berlama lama bersama Kevin, namun Lova tidak bisa karena hal itu hanya akan membuat perasaannya semakin dalam.


"Nanti aku akan menghubungi Kakak." Kata Lova.


"Tidak, pasti kamu tidak akan menghubungiku."


"Kalau begitu, Kakak lah yang menghubungiku." Ucap Lova seolah memberi sinyal sebuah harapan pada Kevin.


Kevin melonggarkan genggamannya pada lengan Lova. "Aku akan menunggumu menghubungiku."


Lova hanya tersenyum tipis kemudian pergi bersama Zivana.


"Kamu nekat sekali, Kev." Ucap Kenzo.


Kevin mengangguk. "Lova begitu sulit aku lepaskan, Ken."


"Dan kamu lebih memilih Mama merasakan hal bersalah terus menerus pada keluarga Lova?"


"Kita dibesarkan oleh orang tua yang baik, Ken. Kita juga pasti menjadi suami yang baik."


"Tapi kamu lupa jika kamu juga seorang mantan casanova? Aku juga seorang pemain, sepertinya keluarga Lova juga pasti sudah tau akan hal itu."


"Aku terpaksa seperti itu."


"Tetap saja orang melihatnya tidak seperti itu, Kev. Sudahlah hentikan. Kita cukup berteman saja dengan mereka."


Kevin menopang kepalanya dengan kedua tangannya. "Sulit sekali meraih Baby Love." Lirihnya.


Sementara itu, Lova hanya terdiam sambil memilih kosmetik bersama Zivana.


"Lov, eye shadow ini cocok untukmu." Kata Zivana membuat Lova melihat ke arah barang yang di tunjukan oleh Zivana.


"Aku sudah punya warna ini."


"Bagaimana jika warna ini?" Tawar Zivana lagi.


"Tidak, aku ingin lipstik ini saja, warna nya bagus bukan?" Kata Lova sambil tersenyum.


"Iya warna nya bagus."


Selesai memilih kosmetik, mereka lanjut memilih pakaian. Zivana juga membelikan dasi dan kemeja untuk Samudra.


"Ada lagi yang mau dibeli?" Tanya Lova.

__ADS_1


"Baju dinasku."


Lova mengernyitkan dahinya. "Dari tadi aku membeli pakaian kerja tapi kamu tidak ikut memilih."


"Bukan baju dinas itu yang ku maksud."


"Terus?"


Zivana mengajak Lova ke sebuah toko yang khusus menjual pakaian dallaam wanita, tentunya setelah membayar semua barang belanjaannya.


"Baju dinas malamku, Lov." Kata Zivana sambil tersenyum tengil.


Lova memutar malas bola matanya namun tetap mengikuti Zivana.


Tidak tanggung tanggung, Zivana bahkan membeli sepuluh lingerie dengan model yang cukup menantang dan juga berbagai warna.


"Banyak sekali, Ziv?" Tanya Lova.


"Demi menyenangkan hati Kak Sam."


"Memang kamu pakai setiap hari?"


"Sehari bisa tiga lingerie yang aku pakai, Lov."


Lova lagi lagi menepuk keningnya sendiri. "Mereka berdua ternyata sama." Gumamnya heran. "Pantas saja berjodoh." Imbuhnya lagi.


"Kita lanjut ke salon?" Tanya Zivana yang baru saja menggesek kartu tanpa limit yang selama ini selalu ia minta pada Samudra.


"Pulang saja, aku lelah."


"Bukan lelah, pasti kamu ingin menyendiri dan memikirkan Kak Kev. Atau bisa jadi kamu ingin menghubunginya?" Tebak Zivana.


"Aku memang tau, Baby Love."


Lova menghela nafas. "Menurutmu, apa aku harus menghubunginya?"


Zivana diam sesaat hingga mereka berada di dalam mobil, Lova sendiri yang mengemudikan mobil itu tanpa supir.


"Jika status kita bersahabat, mungkin aku akan mendukungmu memperjuangkan cintamu dengan Kak Kev, terlebih saat aku tau jika ternyata Kak Kev juga begitu mencintaimu." Ucap Zivana.


Lova dengan setia mendengarkan apa kata Zivana meski dirinya tengah mengemudikan mobilnya.


"Tapi saat ini statusku adalah istri dari Kakakmu yang begitu menyayangimu, statusku adalah menantu dari Daddy Cean yang juga pasti sangat ingin melindungimu, dan tugasku juga harus sama, satu tujuan dengan mereka, yakni mempertahankan keutuhan keluarga besar Oma Nanda." Zivana menghela nafas, "Kamu mengerti kan, Lov?"


Lova mengangguk, "Tapi nanti aku akan menghubunginya, dan jika Kak Kev meminta untuk bertemu, aku akan menemuinya dan membicarakan semuanya."


"Ya, ku rasa itu perlu dan kamu harus tetap memberitahuku."


"Iya, tapi aku minta jangan beri tahu Kak Sam."


"Baiklah."


Setelah hampir satu jam berada di jalan karena macet di jam pulang kantor, akhirnya mereka tiba di rumah. Lova dan Zivana segera ke kamarnya masing masing.


Zivana merendam tubuhnya di dalam bathtub penuh dengan busa. Dengan isengnya, Zivana memotret bagian kakinya yang hanya tertutupkan oleh busa busa lalu di kirimkannya pada Samudra.


__ADS_1


Samudra yang tengah mendiskusikan soal pekerjaan bersama Cean dan Jimmy pun melihat ponselnya, ia menelan kasar salivanya meski yang dikirimkan hanya foto bagian kaki Zivana.


"Jangan nakal, Bee...." Balas Samudra.


Zivana yang menerima balasannya pun hanya terkikik geli. Kemudian ia merampungkan acara mandinya dan mencoba salah satu pakaian tidur seksinya lalu mencoba memfoto dirinya kembali dan dikirimnya pada Samudra.




Samudra yang menerima sebuah pesan dari Zivana segera membukanya kemudian menutupnya kembali.


Samudra berdiri dari duduknya. "Dad, maaf aku harus segera pulang." Kata Samudra.


"Kita belum selesai, Son."


"Daddy diskusikan sama Jimmy saja."


"Memang kamu mau kemana?" Tanya Cean yang tidak biasanya melihat Samudra meninggalkan pekerjaannya dengan tergesa gesa.


"Ada urusan mendesak yang tidak bisa aku tunda, Dad." Smaudra ingin melangkah namun Cean tetap menahannya.


"Urusan apa yang lebih penting dari pekerjaan?"


Samudra memijat pelipisnya, rasa cenat cenut sudah menghampiri bagian kepalanya.


"Katakan, Son. Ada hal mendesak apa?"


"Daddy seperti tidak pernah muda saja. Aku sedang merindukan istriku, Dad." Kata Samudra pada akhirnya.


Mendengar hal itu Cean tidak banyak bertanya lagi, ia membiarkan sang putra untuk kembali duluan.


Samudra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia bahkan lolos saat detik detik lampu rambu lalu lintas berubah warna. Hanya dalam lima belas menit Samudra sudah tiba di rumahnya itu.


Samudra segera menuju tangga untuk naik ke atas kamarnya, namun ia mendengar suara tawa dari taman belakang, terlihat sang istri yang sudah membuatnya cenat cenut tengah tertawa bersama Lova, Nadlyn dan Nanda.


Samudra segera menghampiri Zivana. "Lho kamu sudah pulang, Sam?" Tanya Nadlyn yang membuat semua orang melihat ke arah Samudra.


"Sudah Mom." Samudra mencium pipi Nadlyn kemudian pipi Nanda lalu menghampiri Zivana dan menarik tangannya.


"Kak mau kemana?" Tanya Lova yang melihat Samudra menarik paksa Zivana.


"Aku ada urusan dulu dengan Ziv, jangan ganggu kami, Baby Love."


"Kalian bertengkar?" Tanya Nadlyn dengan heran.


"Tidak Mom, hanya saja ada urusan yang harus kami selesaikan. Kami ke atas dulu Mom, kami akan turun makan malam nanti." Kata Samudra kemudian berjalan cepat menuju kamarnya dengan menarik Zivana.


"Mereka tidak bertengkar kan, Lov?" Tanya Nadlyn khawatir.


"Tidak, Mom." Jawab Lova.


Sementara Nanda hanya tersenyum, ia tau percis urusan apa yang di maksud oleh Samudra, mengingat dulu jika Pras suaminya juga seperti itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf lupa Up, aku sedang perjalanan ke bandung untuk ketemu orang tua sebelum Ramadhan.

__ADS_1


Disini ada readers ku yang dari Bandung juga gak?


Teman readers ku yang lain, dari mana asal kotanya?


__ADS_2